Pengkhotbah

Perikop
Matius 26:1-5

Ringkasan Khotbah

Banyak agama mengajarkan kebenaran menurut pandangan dan tujuanya masing-masing. Namun semua agama di dunia ini hanya dapat dibagi dalam dua kategori: bersifat Antroposentris dan Teosentris. Antroposentris berpusat pada manusia, sedangkan Teosentris berpusat pada Tuhan. Semua aturan agama yang hanya berkisar pada peraturan dunia ini dan kesenangan kenikmatanya tanpa memperhatikan kaidah yang semestinya berasal dari Tuhan. (Konteksnya agama Yahudi). Agama produk manusia, sedangkan kebenaran produk Tuhan.

Israel dipilih untuk menegakkan kebenaran dihadapan Allah diatas bumi. Mereka menerima Firman yang langsung keluar dari mulut Allah melalui para nabi dan berpegang teguh pada perjanjian kebenaran itu. Israel telah melahirkan agama Yahudi yang didalamnya terdapat kekeyaan kebenaran Allah. Kebenaran Allah yang bersifat Teosentris ini telah berubah arah menjadi Antroposentris. Orang Yahudi yang ada pada zaman Yesus ada dalam beberapa kelompok. Yaitu : kaum Farisi, saduki, Eseni dan Zelot. Masing-masing kelompok ini memiliki pendirian yg dianggap prinsip bagi mereka.

Kelompok ini bermunculan akibat penjajahan Yunani dan Romawi yang menularkan budaya helenis. Keinginan akan kemerdekaan akibat penindasan dan penghinaan dari pemerintah Roma atas eksistensi Yahudi ini menyebabkan kebenaran mesianik menjadi kabur dalam kaca mata iman para maniak taurat ini. Sehingga mereka lebih memilih kebebasan politik dari pada kebebasan akan dosa.

Bagaimana cara kita memandang, sehingga agama dan kebenaran menjadi dua sisi yang saling berkaitan?

1. Firman Tuhan harus digenapi (1-2)

Dari sekian banyak aliran agama Yahudi diantaranya masih sangat sedikit yang memahami bahwa Mesias harus menderita. Yesaya telah melaporkan tentang penderitaan mesias. Yesaya 52:13-15; 53. Memang kedatangan mesias harus menderita dan mati dan bangkit untuk penebusan dosa. Kebenaran ini harus diganapi dalam Yesus Kristus. Orang Yahudi tidak boleh menggantikan kebenaran firman Allah dengan kebenaran mereka sendiri. Mereka harus tunduk pada kebenaran itu. Tetapi banyak dari antara orang Yahudi pada masa itu gagal menggali dan memahami kebenaran dalam agama mereka.

Tuhan Yesus menegaskan sampai empat kali. Tetapi banyak juga dari antara murid tidak mengerti dan menganggap sepeleh kebenaran yang dikatakan Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita? Kita akan lebih berbahagia meskipun tidak hadir dalam peristiwa itu namun percaya. Tuhan Yesus berkata: Aku akan pergi dan menyediakan tempat bagimu, kemana Aku pergi kamu pun kesana. (Yohanes 14:1-4).

2. Tokoh agama harus tunduk kepada kebenaran (3-4)

Mansia yang menjadi penguasa dalam agama, sering tidak sadar kalau mereka sedang ditunggangi iblis. Dalam teks ini dikatakan tua-tua, imam-imam kepala berunding untuk skenario penangkapan Yesus dengan tipu daya. Kenapa dengan tipu daya? Karena mereka tidak mendapati satu titik pun kesalahan dalam pelayanan Yesus Kristus. Dari sini kita tahu bahwa Yesus Kristus memang orang benar dan kemesiasanya tidak diragukan lagi.

Agama tanpa kebenaran menjadi budak iblis. Makanya tidak heran banyak agama yang melegalkan praktek kejahatan dalam masyarakat. Membunuh atas nama agama, melegalkan poligami, homoseks, banci, korupsi dalam institusi sekelas agamawan.

Mungkin kita berkata: “kan akhli taurat menggenapi nubuat kematian Yesus, trus mengapa mereka salah?” Tuhan Yesus berkata: Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. (Matius 18:7; Lukas 17:1-2).

Sehingga jangan sampai kita kehilangan kebenaran. Trus apa yang harus kita lakukan? Pertama: 2 Yohanes 1:6-7. Saling mengasihi dan percaya kepada Tuhan Yesus yang telah datang dan akan datang kedua kali. Kedua: berpikir tentang apa yg Tuhan pikirkan, (Filipi 4:8). Ketiga: mengevaluasi zaman dalam penggenapan wahyu dan melakukan peran sebagai murid Yesus.

Percaya kepada kebenaran dan melakukan kebenaran adalah kematian harganya. Hal ini menyebabkan banyak orang tidak rela meninggalkan zona nyaman demi kebenaran.

Agama Yahudi telah melahirkan kekristenan karena ketidak siapan mereka terhadap tergenapinya rencana Allah untuk keselamatan universal. Rasa eksklusifisme yang tinggi menyebabkan agama Yahudi membuang dan menolak kebenaran yang telah digenapi dalam diri Yesus Kristus. Sejak Tuhan Yesus datang keselamatan yang bersifat universal ditawarkan kepada umat manusia melalu 11 murid yang sederhana.

Mereka bukan anak saudagar, bukan anak raja, bukan orang terpandang. Mereka orang sederhana yang menerima kepercayaan dari Sang Khalik untuk menjadi pemberita kebenaran. Sehingga kemudian hari pengikutnya di sebut Kristen. Sangat mustahil berita Injil yang mereka bawa bisa membuat hati para penjahat menjadi orang yang penuh kasih, bahkan mereka rela kehilangan nyawa demi berita injil.

Maka perlulah waspada dengan agama yang kehilangan kebenaran. Kekristenan yang kehilangan kebenaran. Sekarang tanggung jawab ada di pundak kekristenan untuk menjadi pemberita kebenaran. Justru kalau gereja tidak lagi memberitakan injil, kebenaranya hampir pudar dan diambang kehancuran.