Pengkhotbah

Perikop
Kejadian 1 : 28

Ringkasan Khotbah

Dalam kekristenan dikenal dua macam amanat, yaitu amanat budaya (Kejadian 1:28) dan amanat agung (Mat 28:19-20). Tidak berlebihan apabila disimpulkan bahwa di kalangan gereja-gereja injili, amanat budaya seringkali kurang mendapat perhatian yang layak. Dalam membahas amanat budaya dapat di bagi menjadi 2 bagian yaitu esensi amanat budaya dan karakteristik amanat budaya. Namun dalam bagian ini kita hanya membahas esensi amanat budaya dan khotbah selanjutnya akan membahas karakteristik amanat budaya.

Esensi amanat budaya dapat diringkas dalam dua kata kerja yaitu menaklukkan dan menguasai (Kej 1:28). Dua kata ini tidak terpisahkan, namun dapat dibedakan. Tidak terpisahkan, karena penguasaan bumi hanya dimungkinkan melalui penaklukan. Dapat dibedakan, karena penaklukan lebih dikaitkan dengan alam secara lebih luas (obyeknya adalah bumi), sedangkan penguasaan lebih terkait dengan makhluk hidup di dalamnya (obyeknya adalah binatang).

Beberapa orang menuduh bahwa Alkitab turut berperan dalam perusakan alam, karena kata kerja “menaklukkan” (kābaš) dan “menguasai” (rādâ) dianggap memiliki muatan kekerasan. Sebagai contoh, mereka menunjukkan bahwa kata kābaš muncul dalam konteks antara lain; perbudakan (2 Taw 28:10; Neh 5:5; Yer 34:11, 16), pelecehan fisik atau verbal (Est 7:8), maupun pendudukan militer secara paksa (Bil 32:22, 29; Yos 18:1).

Apakah benar amanat budaya menyiratkan kekerasan terhadap alam dan makhluk hidup? Tentu saja bukan. Kita tidak boleh menceraikan kābaš dari rādâ. Walaupun rādâ bisa mengandung konotasi negatif (tergantung pada subyek dari kata kerja itu), tetapi kata ini juga berkali-kali digunakan dalam arti yang positif. Imamat 25 memperingatkan para tuan untuk tidak menguasai budak mereka dengan kekerasan. 1 Raja-raja 4:24 mengindikasikan suasana pemerintahan yang penuh damai di bawah kekuasaan Salomo. Raja yang berkuasa di Mazmur 72 juga merupakan pelindung bagi orang miskin dan terpinggirkan. Di samping itu, penyelidikan konteks Kejadian 1 secara teliti pun mendukung penafsiran di atas. Makanan manusia tetap dibatasi oleh Allah, yaitu tumbuhan berbiji dan berbuah (1:29). Memakan daging binatang baru dibolehkan setelah kejatuhan ke dalam dosa (9:3). Makanan untuk manusia dan binatang pun dibedakan oleh Allah (1:29-30) supaya tidak terjadi kompetisi. Kejadian 2:15 secara eksplisit menunjukkan bahwa tugas manusia adalah mengerjakan dan memelihara, bukan merusak.

Pada saat amanat ini diucapkan kembali oleh Tuhan Allah kepada Nuh pasca air bah, Alkitab secara jelas menilai ketundukan binatang pada manusia sebagai berkat Allah (9:2; bdk. 1:26). Fakta bahwa selama air bah Allah memerintahkan Nuh untuk menyelamatkan binatang-binatang menunjukkan bahwa tindakan semena-mena terhadap binatang merupakan tindakan yang keliru. Bagian lain dari tulisan Musa mengajarkan pelestarian binatang (Ul 22:6-7; 25:4; bdk. Ams 12:10; 27:23). Jadi, amanat budaya bukan eksploitasi alam maupun binatang.

Kalau demikian, apakah esensi dari amanat budaya? Sesuai dengan konteks dalam kisah penciptaan, kita sebaiknya memahami amanat budaya dengan pengertaian sebagai berikut :

1. tugas manusia untuk memelihara, meneruskan, dan mengembangkan apa yang sudah dilakukan Tuhan Allah atas bumi. Dengan kata lain, manusia diberi mandat untuk mengembangkan kebudayaan yang merefleksikan tindakan-tindakan dan sifat-sifat Pencipta.

2. alam semesta dibudayakan secara bertanggung-jawab untuk keperluan manusia. Nilai-nilai kerajaan Allah diresapkan dalam setiap aspek kehidupan umat manusia. Amin.