Pengkhotbah

Perikop
Lukas 15:11-32

Ringkasan Khotbah

Dari empat kitab injil hanya Lukas saja yang mencatat tentang perumpamaan anak yang hilang.  Lukas menggunakan tiga jenis perumpamaan dalam Lukas 15 untuk menceritakan tentang Kerajaan Sorga, diawali dari perumpamaan tentang “domba yang hilang”, “dirham yang hilang”, dan “anak yang hilang”.  Ketiganya ini merupakan sesuatu yang sangat bernilai pada saat itu, sehingga tentu saja bila ada dari tiga itu yang hilang pastilah sang pemilik akan mencarinya sampai mendapatkannya kembali.

Ada tiga gambaran yang dapat kita ambil dari perumpamaan tentang anak yang hilang:

  • Bapa yang baik hati (sebagai gambaran Allah Bapa)
  • Anak sulung (sebagai gambaran orang Yahudi yang menyembah Allah di Bait Allah atau orang yang rajin melayani di gereja)
  • Anak bungsu (sebagai gambaran orang Samaria keturunan Yahudi atau orang Kristen yang jarang ke gereja)

Gambaran tentang anak bungsu melukiskan anak-anak Allah yang hilang di luar rumah, di mana dia meminta warisan bagiannya dan memboroskan uangnya dengan hidup foya-foya.  Sedangkan anak sulung melukiskan anak Allah yang hilang di dalam rumah, karena walaupun ia terus tinggal bersama dengan sang bapa tapi ia tidak mengerti hati bapa yang baik.  Anak sulung tidak memiliki pengampunan bagi adiknya dan walaupun ia terus hidup bersama-sama dengan bapa tapi ia tidak memiliki kacamata seperti cara pandang sang bapa.

Secara garis baris ada beberapa point yang dapat kita petik dari perumpamaan anak hilang:

1.  “Anak bungsu yang terhilang“.   Walaupun anak bungsu sempat terpisah dari sang bapa, ia mengakui kesalahannya dan berkomitmen kembali kepada bapa.  Ia juga berkomitmen mau bangkit dari kondisinya yang terpuruk dan mau hidupnya dipulihkan oleh bapa.  Anak bungsu tidak mau hidupnya terpisah dengan bapa dan ia mau tinggal di dalam bapa setelah sempat terpisah dari bapanya.

2.  “Anak sulung yang terhilang“.  Anak sulung memang terus tinggal bersama-sama dengan sang bapa, tetapi ia tersadar ketika melihat adiknya kembali lagi ke rumah.  Anak sulung yang awalnya tidak memiliki pengampunan, kini ia dapat melihat hati sang bapa yang baik (Lukas 15:31-32).  Kita harus belajar untuk mengerti hati dan karakter sang bapa, seperti Bapa mengampuni dosa dan kesalahan orang, marilah kita juga meniru karakter Bapa yang penuh kasih dan pengampunan.  Tuhan memang baik.