Pengkhotbah

Perikop
Lukas 1: 13-19

Ringkasan Khotbah

Source Picture: https://d626yq9e83zk1.cloudfront.net/files/2016/12/13-770×425.jpg

Alkitab adalah Firman Allah yang sempurna, dimana Alkitab jujur dalam mengungkapkan setiap peristiwa yang terjadi bagi semua tokoh yang dipanggil untuk terlibat dalam penggenapan rencana Allah bagi manusia. Dimana Alkitab tidak hanya menyatakan tentang hal-hal yang baik tentang tokoh tersebut, tetapi juga hal yang tidak baik. Contoh nyata yang dapat kita lihat dalam teks ini adalah Zakharia.

Hal -hal yang baik yang ada pada zakharia :

1. Arti Zakharia. Zakharia artinya ” Tuhan Telah Mengingat ” sebab artinya nama menunjukan jati diri, harapan dan pemahaman akan Allah. Dengan nama ini Zakharia seharusnya memiliki keyakinan bahwa apapun kekadaannya Tuhan telah dan terus mengingatnya.

2. Zakharia adalah seorang Imam sebab ia berasal dari suku abia. Dan istrinya juga adalah seorang Iman dari keturunan Harun. Jadi mereka adalah pelayan Tuhan yang setia sampai masa tua.

3. Zakharia dan Elizabeth dikatakan oleh Alkitab bahwa mereka benar dihadapan Allah, taat dan tidak bercela. Ketika Alkitab menyatakan demikian maka itu benar adanya. Sehingga dari sisi kualitas kerohanian mereka dihadapan Tuhan dan sesama tidak diragukan.

Namun Alkitab juga menunjukkan sisi kelemahan Zakharia agar kita belajar untuk tidak mengulangi kelemahan yang salah: Hal itu dapat dilihat ketika ia bertanya kepada Malaikat Gabriel. Apa yang menjadi pergumulan Zakharia?

1. Mereka punya pergumulan ( ayat. 7) yaitu tidak mempunyai anak. Pada masa itu, tidak punya anak adalah aib dimata orang lain (ayat. 25).

2. Malaikat yang diutus oleh Allah memberitahukan tentang Elisabeth yang akan hamil. Dengan kondisi yang sudah tua, ia membuat pertanyaan: “Bagaimana aku tahu hal itu hal itu terjadi aku sudah tua dan Elisabeth sudah lanjut umur.”

Ada tiga hal penting yang kita pelajari sebagai titik kelemahan Zakharia dan juga titik kelemahan kita:

  1. Zakharia lebih mengandalkan ia tahu cara Tuhan bekerja baru dia percaya. Jadi rasio menjadi penentu untuk mengukur percaya dia pada Tuhan. Padahal Tuhan lebih besar dari rasio dan cara Tuhan melampaui cara yang dipikirkan oleh rasio. Iman yang sejati adalah ketundukan rasio dibawah kebenaran Firman Tuhan.
  2.         Zakharia melihat keterbatasan diri dan istrinya sebagai alasan untuk tidak mempercayai bahwa Tuhan bisa bekerja.
  3. Ada pandangan “kebenaran lingkungan” yang dapat dipercayai lebih dari pada percaya pada Tuhan (bandingkan ayat.25). Dapat saja Zakharia berhenti berdoa karena tidak hanya faktor usia tetapi juga adanya anggapan bahwa tidak punya anak adalah aib atau kutuk. Ya karena itu aib atau kutuk terima saja.

Namun pelajaran yang perlu dipetik:

1. Tuhan kita berdaulat atas hidup kita. Hidup berserah padanya adalah hal yg indah.

2. Menundukan hati, pikiran dan kehendak Tuhan kepada Tuhan merupakan salah satu bukti kita mempercayai dan taat pada Tuhan.

3. Waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Taat pada waktu Tuhan itu yang terindah karena Tuhan punya maksud yang agung dalam setiap hidup kita.