Pengkhotbah

Perikop
Lukas 1:39-45

Ringkasan Khotbah

Kebahagiaan adalah kata yang menjadi dambaan banyak orang. Banyak orang memiliki defenisi yang masing-masing berbeda satu dengan yang lainya. Bagi orang yang tujuan utamanya uang, dia akan bahagia kalau punya segudang uang. Bagi orang yang tujuanya jabatan, dia akan bahagia kalau dapat jabatan yang tinggi. Bagi orang yang tujuanya titel akademisi, dia akan bahagia kalau mendapat gelar tinggi. Yang tujuanya barang antik, dia akan bahagia kalau punya koleksi barang antik. Yang tujuanya popularitas, dia akan bahagia kalau terkenal. Dan sebagainya.

Tapi pertanyaanya adalah apakah benar kalau punya banyak uang pasti bahagia? Apakah kalau punya titel yang tinggi pasti bahagia? Atau punya kekayaan pasti bahagia? Atau punya jabatan yang tinggi pasti bahagia? Atau punya barang antik pasti bahagia? Jawabanya TIDAK. semuanya itu hanya kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang tidak permanen.

Lalu apa bahagia yang sejati itu? Kebahagiaan Maria juga adalah kebahagiaan Elisabeth. Bagaimana kebahagiaan Maria menjadi kebahagiaan Elisabeth?

1. Mereka sama-sama orang beriman

Tuhan yang di percaya oleh Maria juga Tuhan itu di percaya oleh Elisabeth. Maria melakukan kunjungan kerumah Elisabeth. Ibu hamil mengunjungi ibu hamil. Maria mengandung bayi Yesus, Elisabeth mengandung bayi Yohanes pembaptis.

Mereka sebenarnya tidak punya alasan yang cukup untuk berbahagia kalau dinilai dari kaca mata dunia. Elisabeth seorang yang mandul dan harus mengandung di masa tua. Ini peristiwa tidak wajar terjadi kepada wanita tua pada umumnya. Nanta apa kata dunia. Tetapi Elisabeth tidak terganggu dengan masalah itu. Didalam dirinya ada iman yang mempercayai Allah Israel yang mampu melakukan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia sadar sebelum dia mengalami itu, nenek moyangnya SARAH pernah mengalami apa yang dia sedang alami

Bagaiman dengan Maria? Maria wanita muda yang belum bersuami tapi harus mengandung. Yesaya menghunakan istilah ANAK DARAH (perawan) mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Secara manusia Maria merasa terganggu dengan pengumuman yang disampaikan Gabriel kepadanya. Ini hal yang tidak wajar terjadi kepada seluruh wanita sepanjang sejarah. Kalau Elisabeth punya alasan untuk tetap teguh karena ada wanita tua yang pernah mengalami apa yang terjadi padanya. Tetapi Maria? Ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah dan setelah dia tidak ada lagi wanita yang mengandung sebelum belakukan hubungan suami istri.

Maka Maria bertanya, bagaimana mungkin itu bisa terjadi, karena aku belum bersuami? Kebingungan yang di alami Mari teredahkan oleh perkataan Gabriel, Kuasa Tuhan akan menaungi engkau, sehingga anak didalam kandunganmu disebut kudus Anak Allah. Bagi seorang beriman, penjelasan ini masuk akal. Bagi orang yang akan binasa penjelasan Gabriel tidak masuk akal. Maria percaya bagi Allah Israel tidak ada yang mustahil.

Pertemuan antara kedua ibu hamil yang beriman ini, saling menguatkan dalam iman. Maria dan Elisabeth harus berbahagia karena Allah yang mereka percaya adalah Allah yang benar. Ini alasan pertama mengapa bahagia Maria juga adalah bahagianya Elisabeth.

2. Mereka sama-sama menerima tugas dari Tuhan

Kesadaran akan tugas yang diberikan kepada Maria dan Elisabeth, adalah mulia. Elisabeth dipakai Tuhan untuk mengandung Bayi calon Nabi Tuhan yang akan meluruskan jalan untuk Tuhan. Meskipun Yohanes melayani hanya kira-kira satu tahun, kemudian dipenggal oleh Herodes. Elisabeth sadar bahwa dia ditugaskan Tuhan untuk mengandung seorang Nabi yang mendahului Mesias. Dia rela ditertawakan orang lain demi tugas yang Tuhan berikan. Dia bahkan sangat bersyukur kalau kandunganya menjadi alat ditangan Tuhan.

Maria sadar kandunganya dipakai Allah untuk memelihara dan melahirkan Anak Allah. Ini adalah tugas dari Tuhan. Maria pasti malu. Bukan cuma itu. Dihadapan hukum taurat, Maria akan berhadapan hukuman mati karena hamil diluar nikah. Dia sadar akan kemungkinan eksekusi oleh imam kepala dan tokoh agama Yahudi. Tetapi apakah dia menggunakan alasan itu untuk menolak karya Allah yang harus terjadi di dalam dirinya? Tidak. Bahkan Maria berkata: Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”

Bagaima dengan kita? Banyak orang mengaku beriman kepada Tuhan, tetapi tidak mau menyadari didalam diri kita ada tugas Tuhan yang Tuhan titipkan. Dan Tuhan mau kita yang mengerjakanya. Ada resiko? Pasti. Tetapi lihat Tuhan tidak pernah kehabisan cara untuk menolong. Kalau usahamu adalah tugas dari Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan membuatnya bangkrut? Demikian juga dengan studi, pekerjaan, acara, party dll.

Para wanita disini, jaga kekudusan hidupmu. Mungkin Kandunganmu menjadi alat untuk melahirkan Bupati, presiden, gubernur, hakim, politikus, dokter yang takut akan Tuhan, atau mungkin pendeta.
Para pria, jaga kekudusan hidupmu sperti Yusuf, mungkin Tuhan akan menyuruh engkau ketemu Wanita yang akan mengandung para pemimpin yang takut akan Tuhan.

Tetapi kalau kita menolak rencana dan tugas Tuhan dalam hidup kita, apakah kita rela kandungan istri kita dipakai oleh iblis untuk melahirkan perampok, pembunuh, kriminalis? Tentu tidak. Maka jaga kekudusan waktu pacaran.

3. Mereka sama-sama saling melengkapi

Maria dan Elisabeth sama-sama mengalami peristiwa abnormal dalam mayarakat. Mereka senasib. Tetapi sukacita mereka tidak hilang. Maria berkunjung kerumah Elisabeth dengan dipenuhi dan diliputi sukacita. Kemudian menyampaikan Salam. Ketika salam itu sampai ke telinga Elisabeth, anak di dalam kandungannya melonjak kegirangan. Salam Maria menyebabkan Elisabeth bahagia, juga anak dalam kandungan ikut bahagi. Ini koneksi jiwa yang luarbiasa.

Mengapa terjadi demikian? Karena mereka memiliki Roh yang sama. Yakni Roh Kudus dari Allah. Mereka sama-sama di penuhi kemuliaan rohaniah. Salam Maria memberi dampah damai sejahtera di hati Elisabeth, dan perkataan Elisabeth meneguhkan rencana Tuhan yang sedang terjadi dalam hidup Maria. Kata Elisabeth: “… Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Setelah perkataan Elisabeth ini Maria memuji Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Kehadiran kita apakah menjadi pelengkap terhadap saudara kita yang lain? Atau menjadi beban? Marilah kita saling melengkapi sebagai tubuh Kristus yang diikat oleh Roh Kudus. Allah rindu semua orang percaya menjadi satu. Tetapi kenyataanya sampai hari ini belum terjadi. Elisabeth dan Maria saling melengkapi sebagai alat ditangan Tuhan. Mereka sama sama melihat tugas Tuhan. Mereka sama-sama dipenuhi Roh Kudus. Marilah hadir sebagai pelengkap dalam ibadah dan jemaat kita. Ini tugas kita bersama. Jangan egois yang penting saya sudah selamat.