Ringkasan Khotbah

Sebagian besar orang percaya di muka bumi ini mengalami kehidupan seperti yang di alami oleh Obaja. Obaja memiliki tuan seorang penyembah berhala dan nyonya seorang penyembah Asytoret. 18:19. Statusnya sebagai seorang kepala istana raja, yang harus melakukan tugas harianya untuk menyenangkan tuanya, juga statusnya sebagai anak Tuhan, ia harus melakukan kewajiban imanya untuk menyenangkan Tuhanya. Ini adalah kondisi yang sulit.

Belajar dari seorang yang bernama obaja. Obaja dalam teks ini bukanlah nabi Obaja yang menulis kitab Obaja. Siapakah Obaja ini?

  • Seorang Kepala istana raja Ahab di Israel (ayat 3).
  • Pribadi yang takut akan Tuhan (Yahweh) sejak masa kecil. (Ayat 3b dan 12b)
  • Bekerja kepada raja Ahab yang tidak se iman dengannya. (16:30-33)
  • Tinggal di tengah lingkungan penyembah berhala yaitu para Baal (dewa Kanaan-kesuburan, dewa hujan, dan penguasa surga) dan para Asytoret (dewi sesembahan Sidon) (ayat 2, samaria).
  • Menyembunyikan 100 orang nabi Tuhan. 50/kelompok dalam gua, dan memberi mereka makan. (Ayat 4; 13).
  • Ratu yang memerintah adalah Izebel. (19)
  • Seorang pekerja yang setia. (5-7, setia kepada tuanya; 14-16, setia kepada Tuhan).

Apa yang harus kita pelajari dari Pribadi Obaja ini dalam kondisis yang sulit ketika bekerja di tengah dua pilihan?

1. Imanya tidak gugur (1 Raja-Raja 18:3,12)

Obaja hidup ditengah pekerjaan yang orang-orangnya penyembah berhala. Mereka memiliki karakter suka membunuh. Akibat dari kekeringan dan kelaparan Izebel mulai membunuh nabi-nabi Tuhan. (Ayat 4). Hidup ditengah lingkungan yang se iman itu jauh lebih aman dan menjanjikan dari pada hidup di tengah kondisi lingkungan yang tidak seiman. Dia memiliki majikan penyembah berhala, raja Ahab penyembah Baal dan nyonya Izebel penyembah Asytoret.

Keadaan ini bisa mengancam iman Obaja. Alkitab tidak terlalu banyak menjelaskan tentang keterlibatan Obaja dalam ibadah tuanya dan nyonyanya. Tentu dalam melaksanakan tugas apabila Obaja sedang mengawal Ahab atau pun Izebel datang ke tiang berhala atau di depan dewi Asytoret, ini akan menyebabkan gejolak dihati Obaja.

Ada beberapa kemungkinan:

  • Obaja tidak pernah mendampingi Ahab atau Izebel saat beribadah kepada allah mereka. Karena beliau hanya seorang kepala Istana. Karena yang berurusan dengan ibadah adalah para nabi itu sendiri. Sedang yang mengawal raja dalam perjalanan adalah panglima. Situasi ini sperti dialami oleh Naaman.
  • Sebagai kepala istana, Obaja bertugas hanya berkaitan dengan istana, dan pemenuhan kebutuhan istana. Buktinya pada saat kelaparan dan kekeringan melanda Obaja di ajak untuk mencari sumber air dan rumput. (Ayat 5).
  • Ahab tidak memaksa Obaja karena ia setia kepada raja. Obaja adalah orang yang setia kepada raja, karena perihal Ahab mencari Elia, dia ada di sana mendampingi Ahab. (Ayat 10).

Obaja takut akan Tuhan sejak masih kecil, sampai dewasa takut akan Tuhan. Bukan tidak hanya sampai disitu, dia juga giat melakukan tugas imanya untuk menyenangkan Tuhan yang dia percaya dengan cara menyelamatkan 100 orang nabi Tuhan.

Iman yang kuat tidak bisa di sulap dalam sekejap mata. Iman yang sejati timbul dari pendengaran akan firman Tuhan yang teruji dalam perjalanan hidup. Bagaimana dengan kita?? Kita hidup di lingkungan yang hampir mirip dengan Obaja. Kadang kita diperhadapkan pada dua pilihan melanjutkan pekerjaan dan mengabaikan iman atau tetap mempertahankan iman meski menderita.

Disekitar kita banyak orang mengejek bahkan merendahkan kita, karena kita percaya kepada sosok Yesus Kristus yang dipermalukan oleh dunia dan agama Yahudi. Apakah kita mau meninggalkan iman kita?? Bertahanlah sampai akhir karena yang kita imani adalah Tuhan yang dilayani Elia.

2. Tetap melakukan tugasnya

Obaja tidak meninggalkan tugasnya sebagai kepala istana, juga tidak mengabaikan kewajiban imanya. Obaja memiliki 2 tugas yaitu tugas kenegaraan dan tugas keimanan.

  1. Tugas Kenegaraan (5-7)

    Posisis sebagai abdi negara bagi Obaja adalah tugas yang mulia. Obaja masuk di sarang penyamun, bisa dikatan demikian. Karena dia bertugas ditengah kumpulan pemimpin yang melawan nabi Tuhan dan melawan Firman Tuhan. Hal ini terlihat dari ekspresinya ketika berjumpa dengan Elia. Bagaiman ia menceritakan sikap raja Ahab terhadap semua bangsa bersaksi tentang ketidaktahuan mereka akan keberadaan Nabi Elia. Mereka disuruh bersumpah (10).

    Meskipun demikian dia tetap menghormati raja Ahab dengan mengikuti perintahnya untuk mencari sumber mata air dan rumput. Ia sangat cerdik menempatkan dirinya sebagai seorang kepala istana. Dia tidak lalai mengerjakan tugasnya sebagai kepala istana.

    Rasul Petrus pernah menasehati jemaat di perantauan dalam 1 Petrus 2:18-19, supaya setiap hamba menghormati tuanya, baik yang baik maupun yang bengis. Kalau kita mengalami pemilik perusahaan yang baik, itu kasih karunia Tuhan. Demikian sebaliknya, kalau kita memiliki atasan dan pemilik perusahaan yang tidak baik, itu juga kasih karunia Tuhan.

    Hal ini di alami Obaja. Dia tidak membuang imanya untuk mengutamakan profesinya. Percayalah setiap posisi yang dipercayakan Tuhan bagi kita tidak kebetulan. Pasti ada sesuatu yang Tuhan mau kita ada di situ.

    Obaja kepala istana, ini adalah kapasitas yang Allah berikan untuk mengawal dan memelihara nabi-nabi Tuhan. (Ayat 4). Bahkan Obaja bisa diberikan kesempatan berjumpa dan bertatap muka dengan seorang nabi Allah yang hebat yang memanifestasikan kuasa Allah.

    Bagaimana dengan kita? Kamu ada disini untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Profesimu adalah alat untuk mengawal pekerjaan Tuhan.

  2. Tugas Keimanan
    Tanggung jawab moril (4, 13)

    Sangatlah indah hidup ini, jika kita menyadari bahwa keberadaan kita ada dalam rencana Tuhan. Obaja menggunakan kapasitasnya sebagai kepala Istana raja untuk menyelamatkan nabi-nabi Tuhan. Kalau tidak memiliki kapasitas Obaja tidak bisa melakukan hal ini. Dia setia kepada profesinya, tetapi juga dia tidak Lupa pada tanggungjawab imannya.

    Mungkin Obaja bisa berkata: “Tuhan bagaimana ini, nyonya Izebel sedang doyan membunuh para nabi Mu, apa yang harus saya lakukan?” Kalau saya mencegahnya saya bisa jadi korban, tapi bagaimana? Nabi-nabi Tuhan akan habis dibunuh.” Diperkirakan Izebel mulai membunuh para Nabi Tuhan diawal mulai kekeringan akibat perkataan Elia dalam 1 Raja-Raja 17:1. Tiga bulan setelah tidak turun hujan. Elia menyembunyikan diri selama 3 1/2 tahun.

    Kemudia ditengah situasi yang sulit bahkan bisa membahayakan nyawanya sendiri bahkan keluarganya, Obaja memberanikan diri untuk bertindak. Dia tahu didalam hatinya ada suatu dorongan yang kuat, memaksa dia harus bertindak segera. Iman Obaja mendorong sangat kuat untuk menyelamatkan para nabi Tuhan.

    Ia mengekspresiakan tindakan imanya dengan menyembunyikan para nabi dan memberi mereka makan. Makanan untuk 100 orang bukanlah jumlah yang sedikit. Selain dia berkorban harus kehilangan pekerjaanya, bahkan Nyawanya. Dalam tindakan ini juga dia mau mengorbankan hartanya.

    Kalau 1 kg beras untuk 5 orang, berarti dia harus menyiapkan beras sebanyak 20 kg satu kali makan. Satu hari 3x makan x 20kg = 60 kg. Selama tiga tahun 1.080 hari x 60 kg = 64.800 kg. Nah kalau harga beras ¥ 900 / kg x 64.800 = 58.320.000 yen. Dalam rupiah Rp. 5.832.000.000,-. Belum lagi di tambah harga sayur dan daging.

    Tanpa Iman SEJATI tidak mungkin Obaja bisa melakukan ini.

    Tanggung jawab spiritual (7)

    Juga Obaja tahu menghormati Elia sang nabi Tuhan. Di istana dia penguasa tetapi dihadapan Tuhan dia orang biasa. Dia begitu hormat kepada Elia. Seorang yang berjubah kebesaran yang memiliki wibawa kenegaraan. Nabi Elia hanya menggunakan pakaian bulu dan ikat pinggang kulit. Tetapi Obaja sangat menghormatinya. (2 Raja-Raja 1:8).

    Dia sujud dihadapan Elia, bahkan dia menyebut Elia sebagai tuanya. Kalau kita periksa ayat ini akan kedapatan bahwa Obaja lebih menghormati Elia dari pada Ahab. Karena selain Obaja menyebut Elia sebagai tuan, juga ia menempatkan diri dihadapan Elia sebagai hamba. (Ayat 8). Bahkan dia tidak menyebut Ahab sebagai tuan.

    Obaja tahu bahwa hanya nabi Elia yang didengarkan Tuhan. Karena Elia benar diutus oleh Tuhan meskipun dibenci raja dan ratu. Ahab dan Izebel membenci Elia, karena Elia menegur dosa mereka yang menyebabkan Israel menyembah berhala. Jangan seperti Ahab dan Izebel, untuk mempertahankan dosanya, mereka berani membenci Elia.

    Akibat tanggung jawab spiritual inilah maka nyawa Obaja berharga dihadapan Elia. Sehingga Elia tidak menurunkan api dari langit seperti yang dilakukan kepada 2 perwira serta 100 orang anakbuahnya dalam 2 Raja-Raja 1:10,12. Dalam pemerintahan raja Ahazia.

Bagaimana dengan kita?

Ketika kita bekerja dalam dua pilihan apa yang kita lakukan? Apakah harus mengorbankan iman kita dan mengutamakan profesi kita, ataukah hanya mengutamakan iman dan mengabaikan profesi kita. Obaja telah memberikan teladan. Dia tahu wilayah tugasnya sebagai seorang kepala Istana dan dia tahu tugasnya sebagai seorang yang takut akan Tuhan.

Iman yang sejati adalah kekuatan yang mendorong kita terus melangkah dalam profesi yang Tuhan percayakan kepada kita. Tidak hanya sekedar profesi, tetapi ada tanggung jawab yang Tuhan titipkan melalui profesi kita untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Aku ada disini untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Tetap percaya kepada Tuhan.