Pengkhotbah

Perikop
Matius 5 : 9

Ringkasan Khotbah

”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”           Matius 5 : 9

Berbicara tentang damai, seorang Jendral Amerika yang bernama Jendral Douglas Mc Arthur dalam tulisannya mengatakan bahwa di dalam 3400 tahun terakhir ini, kedamaian yang terpanjang tidak lebih dari 268 tahun, selebihnya sejarah manusia adalah sejarah kekacauan dan peperangan. Dengan kata lain, sejarah manusia lebih banyak dipenuhi oleh kekacauan dan peperangan dibandingkan dengan kedamaian.

Bacaan kali ini, hendak mengingatkan kita, tentang seruan Tuhan Yesus melalui ucapan bahagia, agar kita menjadi pembawa damai bagi dunia yang penuh kekacauan dan peperangan ini.

Kata damai dalam bahasa Ibrani disebut Shalom sedangkan dalam bahasa Yunani disebut Eirene. Namun kata Shalom lebih sering dipakai dibandingkan kata Eirene. Mengapa demikian? Karena eirene berarti sejathera secara lahiriah atau luar saja. Sedangkan shalom berarti sejahtera baik dalam maupun luar (bukan lahiriah saja).

Shalom pertama kali terdapat dalam kitab Kejadian 1 dan 2, yaitu ketika manusia pertama yaitu Adam mempunyai relasi yang dekat dengan Allah, manusia bahkan lingkungannya. Taman Eden sendiri dalam bahasa Anglosaxon berarti taman sentosa.

Namun, shalom itu menjadi rusak, ketika relasi manusia dengan Tuhan rusak (lihat Kejadian 3). Manusia yang pada awalnya suka dengan kehadiran Tuhan, ketika dosa masuk dalam kehidupan manusia berubah menjadi takut dengan kehadiran Tuhan. Lebih jauh lagi, relasi manusia  dengan sesama manusia dan lingkungannya pun menjadi rusak.

Dalam Yesaya 9 : 5, disebutkan Allah sendiri menjadi Raja Damai. Dengan demikian, damai sejati itu datangnya dari Allah, sehingga di luar Allah tidak mungkin tercipta kedamaian.

Menjadi orang yang suka damai itu tidak cukup, tetapi aktif menciptakan dan membawa kedamaian (Peacemaker).

Implikasi dari bacaan kali ini adalah

  1. Setiap orang Kristen harusnya tidak boleh punya musuh. Tetapi  harus menjadi pembawa damai. Sebagai contoh, dalam suatu komunitas, yang harus diserang bukan orang yang membawa masalah tetapi masalahnya.
  2. Setiap orang Kristen harus belajar dari Tuhan yang membawa damai. Kedamaian sejati berasal dari Allah sendiri. Membawa damai juga bukan berarti tolerir (mencari aman) tetapi harus terlibat menyelesaikan masalah.
  3. Setiap orang Kristen sudah memiliki shalom dari Allah, sehingga karakter pembawa damai harus ada dalam kehidupannya. Amin.