Ringkasan Khotbah

Ada 6 kata yang penting dalam Efesus Pasal 1-3. Yaitu di tentukan, dipilih, di panggil, ditebus dan perdamaikan serta dimuliakan. 2 kata kerja dilakukan oleh Allah dalam kekekalan dan 4 kata kerja dilaksanakan dalam dunia.

Ke 6 kata kerja tersebut merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dalam karya keselamatan manusia. Dimana Allah mengerjakan rencana keselamatan itu dalam kekekalan dan setelah itu menebus dan memperdamaikan manusia dengan Bapa di Surga maka Ia membawa manusia kedalam kemuliaan-Nya dalam kekekalan. Setelah manusia diselamatkan di dalam dunia, Allah mengaruniakan karunia bagi manusia untuk melayani Allah dan menjadi terang bagi sesama. Namun ditengah-tengah tanggung jawab ini ada musuh yang tidak ingin manusia yang sudah diselamatkan memuliakan Allah dan menjadi terang bagi sesama yaitu Iblis (lihat 1 Petrus 5 : 8-9; Efesus 6 : 11-12). Oleh sebab itu dalam kitab Efesus, Paulus memerintahkan agar jemaat Efesus harus teguh di dalam Dia. Kalimat ini diulang beberapa kali dalam kitab Efesus, untuk mengingatkan jemaat Efesus harus teguh di dalam Dia. Kalimat ini diulang beberapa kali.

Pertanyaannya, cara bagaimanakah yang membuat kita bisa teguh di dalam Yesus Dia? Jawabannya dalam Efesus 6:14 yaitu berikatpinggangkan kebenaran. Kata kebenaran disini ditulis dalam bahasa Yunaninya adalah Aletheia artinya kebenaran yang sejati yang mengacu kepada Allah Tritunggal dan Firman Allah. Mengapa berikatpinggangkan kebenaran Aletheia ini bisa membuat kita kuat dan teguh didalam Tuhan? Ingat bahwa kita tidak memulai peperangan ini dengan merebut kemenangan tetapi Allah sudah memberikan kemenangan atas setan itu melalui karya Kristus di kayu salib. Tugas kita adalah mempertahankan. Maka salah satu cara mempertahankan dengan kita yang sudah percaya terikat kepada kebenaran Aletheia sebab:

1. Kebenaran Aletheia tidak pernah menjadi, tidak pernah dikunci dalam ruang dan waktu sehingga tidak bisa diproses. Jadi walaupun Iblis berusaha menyerang kita, ketika kita berada dalam kebenaran tersebut. Kita tidak pernah diproses untuk jatuh kedalam ketidakbenaran atau kejahatan karena kebenaran itu menjadi fondasi yang mengokohkan kita.

2. Kebenaran Aletheia tidak pernah menjadi obyek tetapi menjadi subyek. Karena bukan kita yang mengisi kebenaran tetapi kebenaran itulah yang mengisi kita. Bukan kita yang merubah kebenaran tetapi kebenaran itu yang mengubah kita. Jadi kebenaran itu lebih besar dari kita. Maka ketika, kebenaran itu mengisi dan mengubah kita maka sehebat apapun iblis menyerang kita, tidak ada tempat bagi iblis untuk mengubah hidup kita. Sebaliknya serangan iblis dapat dipakai sebagai sarana ujian bagi kebenaran untuk memurnikan kita.

3. Kebenaran Aletheia terkoneksi dalam karakter hidup kita maka kita dapat menjadi pembawa terang untuk menghancurkan serangan kegelapan. Amin.