Ringkasan Khotbah

Khotbah 14 Juli
Ayat : Hakim-hakim 6:1-10

“Sekali Allah memilih, Dia tidak pernah gagal/salah”

Allah tidak pernah berubah. dari dulu, sekarang, sampai selamanya. Dia tetap Allah yang sama. begitu pula dengan janji-janjiNya.

Bagi Allah hasil bukanlah yang terutama namun proses dari tujuan itulah yang menjadi kehendak Allah dalam hidup umatNya, yaitu membentuk karakter yang bergantung pada Allah.

Kita ambil contoh dari perjalanan Israel menuju tanah kanaan yang seharusnya 40 hari bisa ditempuh tapi Allah memproses karakter bangsa Israel dengan membuat perjalanan menuju ke Kanaan menjadi 40 tahun.

Namun ketika bangsa Israel sudah mendapatkan tanah kanaan itu setiap suku (12 suku tapi hanya dibagi 11 daerah dan suku Lewi akan tinggal di setiap pembagian daerah tiap suku untuk menjadi Imam). Namun mereka tidak bisa mengusir suku-suku asli dari orang Kanaan dan mengakibatkan bangsa Israel teseret dan tegiur dalam penyembahan berhala yaitu salah satunya dewa orang Amaris yang dikenal dengan sebutan Baal sehingga Tuhan mendatangkan kembali bangsa Midian untuk menindas mereka.

Di dalam Hakim-hakim 6:13 kita bisa menghubungkan bagaimana cara Gideon berbicara dengan Tuhan, sama dengan kita yang sering sekali menduakan Tuhan saat kita sedang senang, tapi di saat kita mengalami kesulitan kita malah menyalahkan Tuhan karena Dia meninggalkan kita.

“Allah bertindak untuk memproses mereka tapi tidak berarti Allah membuang mereka”

walaupun ada disebutkan “Tuhan menyesal”. bukan berarti Tuhan melakukan kesalahan dengan menghukum Israel. Tuhan Allah sudah mengetahui sejak kekekalan bahwa manusia akan jatuh dalam dosa dan harus dihukum  namun karena Tuhan sangat mengasihi manusia sehingga Ia merasa sangat menyesal harus menghukum umatNya.

Allah itu setia adanya, baik adanya, benar adanya dan Dia maha tahu untuk segalanya, maka dari itu kita harus bersyukur dan berserah pada Tuhan terhadap semua yang kita kerjakan dan boleh mendorong kita lebih men-introspeksi diri dibanding menyalahkan Tuhan, karena Dia selalu menuntun kita menjadi lebih baik melalui “ujian-ujian” yang Tuhan berikan, dan juga Allah mau supaya kita boleh tetap setia dan semakin lagi berpegang pada perintah” Nya.

Tuhan tidak perlu dikoreksi. tapi manusialah yang perlu dikoreksi.

Tidak mungkin Allah memberi suatu perintah tanpa mempersiapkan berkat untuk menopang kita dalam melaksanakan perintahNya.

 

dirangkum oleh

Bobby Hizkia