Ringkasan Khotbah

Apakah betul Gideon adalah seorang pahlawan yang gagah berani?

Tuhan melihat Gideon sebagai seorang pahlawan, namun ada beberapa situasi yg menyanggah bahwa Gideon bukanlah seorang pahlawan.

  1. Penakut

Gideon sedang ketakutan, buktinya adalah ia memeras gandum di dalam lubang anggur (bersembunyi). Takut bukanlah karakteristik seorang pahlawan

  1. Memiliki konsep yang keliru tentang Allah

Gideon berpikir bahwa Allah tidak lagi berpihak padanya dan kepada bangsanya. Ia tidak melihat bahwa Tuhan merancangkan masa depan yang baik baginya dan bagi bangsa Israel. Di dalam pandangannya hanyalah kekalahan, padahal seharusnya seorang pahlawan memiliki pandangan kemenangan.

  1. Gideon berpikir Tuhan telah membuang umatNya

Kalimat yang diucapkan Gideon adalah sebuah kalimat pesimis yang bukan menandakan dirinya adalah seorang pahlawan. Bukankah saat itu Israel dipimpin dengan sistem teokrasi, dimana Tuhanlah yang memimpin umatNya? Tidak mungkin Tuhan membuang umat yang dipimpinNya.

  1. Pengecut

Gideon tidak mau maju berperang, ia seorang yang penakut dan pengecut

 

Namun, dari 4 latar belakang tersebut, Allah masih memilih Gideon, mengapa?

Selain karena arti nama Gideon adalah “Pahlawan yang Gagah Perkasa”, ternyata ada 3 alasan lainnya yang dapat kita pelajari dari kisah Gideon:

  1. Tuhan tidak peduli dengan kondisi kita saat ini, Ia lebih peduli menjadi apa kita di masa mendatang.Kita semua sedang dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi pahlawan yang gagah berani. Musa dipersiapkan 40 tahun di Mesir, tetapi tujuannya bukanlah sampai disitu, ada tujuan yang lebih besar lagi yaitu memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Daud dipersiapkan dengan menghadapi serigala dan binatang buas lainnya saat ia menjaga kambing domba ayahnya, untuk nantinya ia dapat menghadapi goliat. Tidak ada yang dipersiapkan secara instan, semuanya harus mengalami proses.

Hakim-hakim 6: 25-32

Gideon berani meruntuhkan patung Baal, dimulai dari rumahnya (keluarganya). Orang-orang menjadi marah dan menghasut Yoas (ayah Gideon, pembangun mezbah Baal tersebut) agar mereka dapat membunuh Gideon. Namun yang terjadi malah sebaliknya, Yoas tidak membiarkan Gideon dibunuh dan Yoas tidak membela patung-patung Baal yang dianggap orang-orang sebagai tuhan. Hal ini bisa terjadi karena penyertaan Tuhan terhadap Gideon (Hakim-hakim 6: 13-14, 16).

Pelajaran lainnya yang dapat kita petik adalah, Gideon menuntaskan penyembahan berhala dari dalam keluarganya dahulu. Apakah kita berani memberitakan kabar kebenaran kepada keluarga kita? Atau malah kitalah yang harus menginstrospeksi diri kita dahulu? Apakah kita pun masih percaya kepada ilah lain selain Tuhan?

 

  1. Gideon dipimpin oleh Roh Allah (Hakim-hakim 6:34)

Bukti lainnya tercatat dalam kisah Hakim-hakim 7: 1-25. Jumlah musuh sangatlah banyak dan tidak bisa dihitung, namun oleh karena “manajemen” Allah, prajurit Israel yang dikirim untuk berperang hanya tersisa 300 orang dari 32 ribu orang yang direncanakan. Senjata yang dibawa untuk berperang juga hanya sangkakala dan buli-buli. Terdengar mustahil, namun apakah “manajemen” Allah salah? Apakah kemampuan leadership Allah perlu diragukan?

Tidak, karena Tuhanlah yang berperang untuk mereka. Ia mengarahkan pedang para musuh untuk membunuh kaum mereka sendiri. Tuhan punya banyak cara untuk memberi kemenangan bagi umatNya.

 

  1. Hakim-hakim 8: 22-23

Setiap kali Gideon berperang, ia selalu menang. Akhirnya ia dimintai oleh bangsa Israel agar menjadi pemimpin mereka. Sekilas terlihat seperti sanjungan, namun sebenarnya ada suatu maksud untuk mengubah sistem pemerintahan dari teokrasi menjadi demokrasi, yaitu bangsa Israel ingin mengganti kepemimpinan Tuhan. Namun, Gideon dengan berani menolak permintaan bangsa Israel. Ia tidak takut ditolak massa, ia lebih takut ditolak oleh Tuhan. Karena Gideon percaya segala kemenangan yang sudah diperoleh adalah berkat campur tangan dari Tuhan.

dirangkum oleh,

Ferty Yolanda Simatupang