Ringkasan Khotbah

Dalam bertekun dalam iman, hal-hal praktis apa yang dapat dan harus kita lakukan adalah:

Mencapai kedamaian dan kekudusan

Ada 2 hal yang dinginkan penulis Ibrani disini yaitu berusaha hidup damai dengan semua orang dan mengejar kekudusan. Kata kerja “berusahalah dan kejarlah” sebenarnya hanya menggunakan satu kata “kejarlah”. Paulus, Ibrani dan Petrus dalam suratnya sering menggunaan kata kejarlah dalam menasehati jemaat dan kepada orang percaya (Rom. 9:30,31; 1Tim. 6:11; 2Tim. 2:22; 1Tes. 5:15; Ibr. 12:14; 1Pet. 3:11). Sebab inilah yang membedakan orang-orang Yahudi dengan bangsa-bangsa lain yang tidak percaya kepada Allah yang mengakibatkan Allah menolak mereka.

Pada bagian lain mengejar disini menunjukkan perjuangan orang-orang percaya/Kristen dalam menjalani hidup bersama dengan Kristus. Sikap yang mengejar kedamaian dan kekudusan berawal dari Perjanjian Lama yaitu melalui Taurat Tuhan, dan juga kesalehan hidup para rabi dan moralisme dalam Helenisme dan ini menjadi dasar agama pada saat itu dan tentunya ada konsekuensinya. Pada bagian ini yang harus kita pahami adalah maksud dari damai itu sendiri. Ada beberapa konsep damai disini yang berasal dari kata “Eirene” adalah:

  1. Tidak adanya permusuhan, atau tidak ada rasa perlawanan yang emosional baik perorangan dengan perorangan, kelompok dengan kelompok atau antar negara.
  2. Memiliki rasa perjanjian damai, sehingga mengakhiri segala sesuatu dengan damai.
  3. Damai digambarkan dengan keadaan beristirahat atau sedang bergembira, yaitu tertawa yang dengan suka cita, rasa senang.
  4. Damai itu disamakan dengan seorang pemimpin yang memegang kekuasaan, memberikan keadilan dan memperhatikan rakyatnya. Khusus dalam Ibrani damai dihubungkan dengan raja yang mememberi/menjamin keselamatan dan memberi kedamaian dengan menaklukan musuh. Maka Kristus yang datang sebagai raja, Anak Allah yang dimuliakan, Ia mengalahkan musuh utama yaitu maut dengan cara disiksa dan mati diatas kayu salib, menggantikan dan membebaskan manusia dari perbudakan dosa, sehingga mereka yang menerima Yesus memperoleh kedamaian (Ibr. 2:14,15).

Maka dari bagian ini damai memberi pengertian adalah keselamatan yang semata-mata hanya karena anugerah Allah, manusia dibebaskan dari perbudakan dosa atau kutuk maut. Damai adalah buah dari kebenaran yang diperoleh/dihasilkan dari penderitaan. Damai bukanlah dari hati, melainkan dari hal yang lebih tinggi yaitu kekudusan, yang dipersiapkan menerima kedamaian kekal Kristus, sehingga penderitaan yang dimaksud tadi adalah bagaimana seseorang hidup dalam kekudusan, menjauhkan diri dari hal-hal duniawi yang berkaitan dengan kedagingan atau dosa.

Paulus ketika dia mengingatkan Timotius, ia mengharapkan agar Timotius tidak tergoda/terpengaruh dengan kehidupan orang muda pada masa itu tetapi berusaha mengejar keadilan, kesetiaan, kasih dan perdamaian dengan hati yang tulus dan murni. Maka yang dituntut disini bukan hanya daya, upaya, usaha, tetapi harus dengan hati yang tulus dan murni, yang berdasar pada kebenaran. Penulis Ibrani dalam ia mengakhiri tulisannya sungguh memberi pengertian yang indah kepada kita. Baca Ibr. 13:20-21.

Menjauh dari kasih karuniaNya (Mengerjakan apa yang menjadi kehendak Allah)

Dalam bahasa Indonesia menjauhkan, yaitu diri sendiri yang menjauh. Tapi dalam bagian ini sebenarnya berbicara dalam bahasa Inggris come too late dari bahasa aslinya “Hystereo” yang artinya ketinggalan. Mengapa penulis Ibrani mengatakan ketinggalan? bukankah manusia sering sekali meninggalkan kasih karunia Tuhan, sehingga Tuhan Yesuslah yang berupaya mendekatkan diri kepada kita? Dalam bagian ini surat Ibrani memberi nasihat supaya bertekun dalam iman (dalam bagian ini sudah dibahas pada bagian pertama), orang yang bertekun dalam iman adalah mengejar damai dan kekudusan. Jika tidak mencapai itu maka hidupnya akan ketinggalan kasih karunia Allah, karena bagi Ibrani orang yang sudah diselamatkan harus mengerjakan apa yang menjadi kehendak Allah didalam Kristus, dikatakan orang percaya harus berlomba dengan tekun (12:1), tekun memikul salib (12:2) kemudian mengejar damai dan kekudusan. Maka disini mengajarkan bahwa kita sudah diperlengkapi oleh Kristus, dengan perlengkapan itulah kita tidak akan ketinggalan kasih karunia Allah karena kita mengerjakan kehendakNya.

Ibrani mengingatkan supaya orang percaya saat itu dan masa ini juga tetap menjaga posisi agar tidak ketinggalan, karena bagi mereka yang jauh dari kasih karunia Allah, akan tumbuh akar pahit. Maksud dari kata “tumbuh akar” disini ialah ia akan berakar supaya kuat, kemudian bertunas bukan hal yang baik tapi pahit. Pahit disini adalah iri hati, dengki, kebencian (kejahatan). Maka orang yang sudah memiliki pohon akar pahit, akan menimbulkan kerusuhan, keributan, menyusahkan, mengganggu, dan tidak ada damai dalam hidupnya. Ia akan mencemarkan atau mempengaruhi orang lain, orang yang seperti ini seperti cabang dahan yang rusak, tidak menghasilkan, dipotong, dibuang, dan setelah kering dibakar (Yoh. 15:2,6).

Tidak memiliki selera rendah seperti Esau

Janganlah menjadi immorality/cabul dalam bahasa Yunani “Pornos” (band. Ibr. 13:4) atau mempunyai “nafsu rendah” seperti Esau yang menganggap rendah hak kesulungan. Hak kesulungan sangat istimewa pada masa itu dimana akan mendapat berkat yang diturunkan oleh Ayahnya, karena itu adalah janji berkat Allah kepada Abraham. Janji itu diberikan kepada yang menerima hak kesulungan, bukan sekedar janji berkat jasmani tetapi juga berkat rohani yang sangat penting bagi Abraham dan keturunannya. Kehidupan Esau dikonotasikan sebagai orang yang “bernafsu rendah” (berselera rendah) karena berkat tersebut dianggap sepele olehnya.

Tindakan Esau yang buruk membuat ia tidak mendapat kasih karunia Allah (Kej. 25:27-34; 27:30-45). Esau disebut orang duniawi, yang berarti orang yang hidup bagi dunia dan tetapi hidup bukan untuk Allah. Dalam terjemahan literal bahasa Inggris “hidup diluar bait Allah atau disebut bukan milik Allah”. Esau memandang rendah hak kesulungan, dan menjualnya kepada Yakub demi mendapatkan makanan sup kacang merah (Meskipun memang hak kesulungan itu sudah ditentukan semula menjadi milik Yakub, tapi Yakub juga mendapatkan hak kesulungan itu dengan cara menipu yang dibantu oleh ibunya. lih. Kej. 25:19-26). Setelah itu Esau berubah pikiran dan mencoba mendapatkan bekat itu dari Ishak, tapi sudah terlambat. Esau justru tidak mendapatkan apa-apa dari Ishak walau bercucurkan air mata.

Dari bagian ini jadi pertanyaan bagi kita, apakah yang membuat kita jauh dari kasih karunia Allah? Bagian ini memberitahukan kepada kita bahwa kehidupan Esau menunjukkan kurangnya ketekunan menjaga/melatih spiritual (relasi dengan Allah). Hal ini menimbulkan kepahitan kepada orang lain (Ul. 29:18), percabulan, dan hidup untuk dunia/daging. Beberapa orang memiliki gagasan “orang duniawi” adalah penghujat, kotor; tetapi Esau menyenangkan sesama, ia seorang pemburu yang baik, dan seorang yang mencintai ayahnya. Banyak orang berbuat baik, menyenangkan orang tapi tidak tertarik pada hal-hal yang dari Allah. Kasih karunia Allah tidak pernah gagal, tapi kitalah yang sering gagal bergantung pada kasih karunia Allah. Esau adalah peringatan bagi kita untuk tidak hidup hal-hal yang rendah atau nafsu rendah.


Anugerah keselamatan harga mati dan tidak ada tawar-tawar dalam menggapai pengharapan hidup kekal, maka kita yang hidup dalam anugerah itu tuntutannya mengerjakan keselamatan didalam tuntunan Roh Kudus.

Dalam mengerjakan keselamatan banyak tantangan dan ujian maka sebagai orang beriman terus bertekun dalam iman yaitu: (1) Berkomitmen hidup damai dan pentingnya hidup dalam kekudusanNya, (2) Pakailah selalu perlengkapan rohani dalam menjalani hidup sekarang ini supaya tidak jauh dari kasih karunia Allah, (3) Tetap menjaga hubungan erat dengan Bapa kita di Sorga, karena kita adalah pewaris kerajaan Allah, maka tetaplah didalam Allah sehingga terhindar dari hidup keduniawian.