Ringkasan Khotbah

Di dunia ini banyak orang beragama, hampir 3/4 penduduk dunia mengaku beragama. Beragama artinya memiliki keyakinan bahwa diluar dirinya ada satu penguasa yang lebih besar yang dipercaya membuat tatanan hidup yang mempercayainya baik adanya. Fenomena ini ada dalam semua agama. Orang yang mempercayai itu memiliki harapan agar jalan hidupnya tidak kacau.

Di dalam agama ada Penguasa semesta yang dasyat mengatur sistim kerja alam semesat. Penguasa itu ada yang menyebutnya Tuhan, Allah, Elohim, Adonai, atau apapun itu namanya. Pribadi penguasa itu juga diyakini sebagai pribadi yang Maha Tahu. Artinya Pengetahuanya tidak bisa dibatasi oleh apapun.

Tetapi sayang, banyak orang yang beragama dan bahkan mengakui adanya Tuhan yang Maha Tahu, mereka hidup seakan Tuhan yang Maha Tahu itu tidak tahu. Mengapa demikian?? Ini nampak dari cara hidupnya, cara berpikirnya, timgkah lakunya. Orang yang demikian adalah ateis praktis.

Dalam teks ini kita mau belajar dari pribadi Daud sebagai seorang Raja, orang nomor satu di Israel. Daud memiliki kesadaran akan kebenaran Allah yang penting. Ini adalah doktrin Allah yang benar. Apa yang bisa dipelajari dari Daud dalam teks ini?

1. Menjadikan pengetahuan sebagai Doa

Orang bisa mendapatkan pengetahuan beberapa hal:

  1. Pengetahuan empiris (pengalaman pribadi, orang lain, nabi atau sejarah). Dalam teks ini pengalaman perjalanan kerohanian Daud, pengalaman orang percaya lainya, pengalaman nabi atau para rasul atau tokoh rohani, sejarah bangsa israel.
  2. Pengetahuan akademis (melalui belajar di bangku sekolah), kursus Alkitab, PA, katekisasi, sekolah theologia, para church.
  3. Pengetahuan logis (melalui analisa atau riset). Melalui Makalah, skripsi dan disertasi dll. Ini berlaku mulai zaman skolastik (abad 9-15). Pada abad ini segala sesuatu di analisa secara kritis dan logis. Kegagalanya adalah segala sesuatu yang tidak bisa dipecahkan dan dirumuskan secara akali dianggap bukan kebenaran. Yang disebut kebenaran adalah jika sesuatu itu bisa dijelaskan dan diterima secara logis. Apakah benar demikian?? Tidak. Sebab fenomena yang terjadi sejak dunia dijadiakan ada fenomena logis (bisa dianaliasa oleh akal); rohani (ada tetapi tidak bisa di analisa secara pasti gejalanya oleh akal, karena bekerja diluar rasio); dan melampaui akal (pergerakan alam semesta secara teratur dan sistimatis, dan detil mekanisme sistim kerja saraf dalam tubuh manusia). Orang Yunani percaya ada dewa Atlas yang menopang bumi. Kalau dianalisa secara matematis para ahli tidak bisa memprediksi, mengapa bumi bisa bertahan berdiri tanpa ada penopang. Akhirnya mereka berkesimpulan ada pencipta yang menopang.

Semua pengetahuan kita tentang Allah inilah kita bawa dalam doa seperti yg dilakukan Daud. Daud menyatakan ada pengetahuan yang bisa dia cerna dengan indra tetapi ada juga pengetahuan yang tidak dapat dicerna oleh indra. Maka 3 kali Daud memaparkan hal itu (ayat 6, 14 dan 17-18).

  • Ayat 6: terlalu ajaib, terlalu tinggi, tidak sanggup di capai.
  • Ayat 14: kejadianku Dasyat, ajaib, jiwaku benar-benar menyadarinya (dapat di rasakan).
  • Ayat 17-18: betapa sulitnya pikiranMu ya Allah, betapa besar jumlahnya, lebih banyak dari pasir, terus menerus tidak tergantung pada eksistensi manusia. Ketika manusia berhenti berpikir, pengetahuan Tuhan dalam pikiranNya terus menerus. Karena Tuhan tidak pernah tertidur dan terlelap. (Mazmur 121:4).

Kesadaran inilah yang membuat Daud berdoa dengan pengetahuanya. Rasul Paulus berkata: “Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” (1 Kor 14:15). Tanpa pengetahuan yang benar tentang Allah tidak mungkin orang dapat berdoa.

2. Menjadikan doa sebagai kekuatan optimis

Daud adalah Raja yang senang berdoa, sebelum bertindak biasanya mengawalinya dengan doa. Banyak hal yang dilakukan Daud, tidak heran kalau perjalananya penuh optimisme keberhasilan. Dengan pengetahuanya tentang Allah menyebabkan imanya betumbuh, pengetahuanya ini menyebabkan Daud berani melangkah. Dalam keadaan senang maupun susah, pagi, siang, petang dan malam, artinya dalam segala keadaan dan situasi Daud tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berdoa. Hal ini terlihat dari banyaknya Mazmur yang berisi Doa.

Yang membuat daud optimis atau kecanduan dengan doa karena dia tahu: ayat 1-16

  • Tuhan Maha tahu: menyelidiki, mengenal, keadaan, mengerti pikiran dari jauh, memeriksa, memaklumi, mengerti bahasa, bahkan diluar ketidaktahuan manusia Tuhan tahu.
  • Tuhan bisa hadir disegala tempat. Semua tempat ada dihadapan Tuhan(7), di langit dan dunia orang mati (8), terbang dengan sayap fajar (terbang dengan kecepatan cahaya) dan di ujung laut (9) engkau dipegang dengan “tangan kanan Mu menuntun, tangan kananMu memegang”. Tangan Kanan Tuhan melambangkan kemenangan. Artinya tidak ada tempat yang menjadi penghalang untuk engkau menang, engkau pasti menang. Tuhan bisa membuat engkau menang ditempat engkau berada. (Ayat10), Maka masalah tempat bukan urusan.
  • Ditempat gelap dan terang (11-12), bagi Tuhan kegelapan tetap terang. Karena Tuhan terang itu sendiri.
  • Tuhan pembentuk engkau dalam rahim seorang ibu (13), artinya semua partikel terkecil dalam hidup kita dibentuk oleh Tuhan. Kalau begitu kita milik siapa? Milik Sang Pembentuk.

Karena Tuhan Maha Tahu apakah kita harus berdoa? Harus. Justru ini lah yang membuat kita semakin optimis untuk berdoa karena kita sedang berkomunikasi dangan Sang Bapa yang maha Tahu.

Saya punya papa seorang lurah saja bangganya setengah mati. Apalagi Allah telah mengakui kita sebagai Anak, seharusnya ini membuat kita semakin optimis seperti Daud.

Daud punya saudara yang tidak respek terhadap kariernya (1Samuel 17:28), Daud punya Istri yang merendahkan dia (2 Samuel 6:16), Daud punya mertua yang arogan dan berusaha membunuh dia (1Samuel 18:7-11,13; 23:26-27; 24:1-2; 26:1-4) Daud punya pengikut kebanyakan orang bermasalah – kumpulan prahara (1 Samuel 22:1-2).

3. Menjadikan pengetahuan dan doa sebagai gaya hidup (19-24)

Banyak orang tidak berani hidup sebagai dirinya sendiri. Memang hidup ini sebagaian besar terjadi karena “meniru”.
Apa yang Daud Lakukan? Dia menjadikan doa dan pengetahuanya sebagai gaya hidup.

  • menyerahkan penghakiman hanya kepada Tuhan (19a), Daud melakukan itu kepada Saul, Abner dan Yoab.
  • Tuhan berkuasa menyingkirkan penumpah darah dari sekitar kita (19b), Tuhan telah melakukan itu bagi Daud, dan Daud telah mengalaminya sampai kerajaanya kokoh.
  • Berdusta kepada Tuhan (20a), Daud ketika diberitahukan dosanya oleh nabi Natan, dia langsung mengakuinya.
  • Melawan Tuhan (20b), Daud merendahkan diri dihadapan Tuhan ketika ia dua kalin berbuat Dosa. Yaitu mengambil Batsyeba istri Uria dan menghitung laskar Israel akibat dari bujukan iblis. 2 Samuel 24:1-10).
  • Melakukan kehendak Tuhan. Kalau Tuhan marah kita harus marah; kalau Tuhan menghendaki tudak marah jangan marah; tidak bergaul dengan orang yang melawan Tuhan. (21-22). Daud tetap tidak mau membunuh Saul, karena Saul bukan musuhnya Tuhan. Yang disebut musuh Tuhan adalah musuh bangsa Israel. Daud beranggapan bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk mencabut nyawa orang. Okelah Saul salah, telah ditinggalkan Tuhan, berusaha membunuh Daud. Daud menyadari bahwa dia tidak lebih baik dari Saul. Saul bobrok, Daud juga bobrok, tetapi Mereka sama-sama orang yang mendapatkan Kasih Setia Tuhan.

Kesimpulan

Marilah kita hidup sebagaimana selayaknya dihadapan Allah yang Maha Tahu. Terus belajar supaya tahu Tuhan, bawalah dalam doa pengetahuan akan Tuhan itu, optimislah hidup karena ada Tuhan Yang Maha Tahu, jadikanlah pengetahuan itu gaya hidup. Buatlah Tuhan tersenyum karena engkau tahu bahwa engkau hidup dan berkarya dihadapan Tuhan yang Maha Tahu.