Ringkasan Khotbah

Setiap manusia pada umumnya mempunyai pengharapan. Sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, semua yang kita pikirkan, lakukan dan kerjakan, semuanya memiliki suatu harapan. Salah satu contohnya adalah kita ke gereja mungkin dengan menggunakan sepeda atau kendaraan tertentu dengan harapan lebih cepat sampai. Dengan kata lain, perjalanan hidup diikuti dengan harapan demi harapan. Namun pertanyaannya, seberapa banyak dari kita yang kerinduaannya atau harapannya untuk hidup berkenan kepada Allah belum tercapai? Ketika kita merasa puas dengan level rohani kita, maka kita akan berhenti berharap. Ketika kita berhenti berharap maka kita akan berhenti berjuang. Selanjutnya kita akan menjadi orang Kristen yang sama dan hidup tanpa terobosan. Bacaan hari ini hendak mengingatkan bagaimana mengejar harapan supaya hidup berkenan kepada Allah.

  1. Jangan kejar segala sesuatu yang sifatnya fisik saja (misalnya uang). Sesuatu yang sifatnya fisik akan membawa kita pada kelumpuhan rohani. Hal ini sesuai dengan bacaan Kisah Para Rasul 3 : 2 ”…tiap-tiap hari orang itu diletakan dekat pintu gerbang Bait Allah, … untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam bait Allah.” Memang laki-laki tersebut terlihat rohani, karena setiap hari ia pergi ke Bait Allah, tetapi ia hanya berhenti sampai pintu gerbang dan meminta sedekah.  Bahkan ketika Petrus dan Yohanes datang, ia hanya melihat dengan mengharapkan sesuatu dan bukan melihat untuk mendengarkan. (lihat ayat 3) Dalam bahasa Yunani kata melihat tersebut disebut Eido. Padahal bait Allah adalah rumah doa dan ia menyia-nyiakan itu, sehingga tidak ada terobosan dalam hidupnya dan hal yang sama terus terjadi setiap harinya. Kebutuhan kita bukan hanya keuangan saja melainkan kerohanian yang beres. Kerohanian yang beres membuat kita bisa mengendalikan keuangan dengan baik.
  2. Dalam relasi pribadi, carilah orang yang memiliki relasi dengan Kristus secara pribadi. Petrus menyebutkan bahwa dirinya memiliki Kristus dalam dirinya. ”… tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (lihat ayat 6) Orang yang memiliki relasi denganKristus secara pribadi akan berbuat seperti Petrus dan Yohanes yaitu menatap, melihat dengan penuh atensi atau dalam bahasa Yunani disebut Atensio. (lihat ayat 5) selanjutnya mereka juga melihat dan ingin orang tersebut mengikutinya atau dalam bahasa Yunani deisebut Epeko. Selain itu, orang yang memiliki relasi Kristus secara pribadi akan menuntun kita kepada kemenangan. Sama halnya dengan, Petrus dan Yohanes yang membantu orang lumpuh itu untuk berdiri. ”Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.” (lihat ayat 7)
  3. Milikilah nama Yesus dalam hidup kita.
  4. Bekerjalah bagi Tuhan. Ketika kita memiliki Tuhan Yesus menerimanya sebagai juruselamat kita. Kita menjadi sessorang yang tidak hanya mendapatkan sesuatu dari orang lain, tetapi kita rindu memberi dan bekerja bagi Tuhan. Lebih dari itu, hidup kita dipulihkan dan membawa orang lain juga kepada Kristus. Kisah Para Rasul 3 : 8-10 menuliskan ”Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian kemari dan mengikuti mereka ke dalam bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.” Ayat 9, ”Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, … ayat 10 … mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.”