Ringkasan Khotbah

Picture Source: https://www.google.co.jp/search?q=the+calling&biw=797&bih=389source=lnmstbm=ischsa=Xved=0ahUKEwjyodOo1-7QAhVFTrwKHaNiCagQ_AUIBigB#tbm=isch&q=god%27s+calling&imgrc=HqauX749b8tgDM%3A

Apabila kita meneliti bagian-bagian Firman Tuhan di atas, maka terjadi dialog antar Musa dengan TUHAN. Dalam dialog tersebut, TUHAN memanggil Musa untuk menjadi hamba-Nya guna memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Akan tetapi Musa berusaha untuk menolak panggilan TUHAN dalam mewujudkan kehendak TUHAN tersebut. Maka ada tiga alasan yang dipergunakan Musa sebagai senjata untuk menolak :

1. Pasal 3: 11. Dirinya dipakai sebagai alasan penolakan. (Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan Membawa orang Israel keluar dari mesir?”). Namun alasan ini TUHAN patahkan dengan Jawaban-Nya dalam Pasal 3:12 (Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”). Pengertian yang ditangkap dari jawaban TUHAN kepada Musa adalah bahwa ketika engkau melihat dirimu Musa sebagai standart kekuatan/kemampuan untuk menjalankan Tugas panggilan yang Aku embankan kepadamu Musa maka, engaku tidak dapat melakukannya, namun Kekuatan yang menjadi fondasi bagimu Musa dalam menjalankan tanggung jawab panggilan ini adalah “PenyertaanKu kepadamu Musa. Musa melanjutkan dengan menggunakan alasan penolakan yang kedua.

2. Pasal 4: 1 Alasan kedua. Lingkungan yang akan di tuju, sebagai alasan penolakan. (Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu). TUHAN menjawab musa dalam Pasal 4:2 (TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.”). Jawaban Tuhan ini menunjukkan bahwa ketika Musa hadir ditengah-tengah bangsa Israel ada kuasa Allah yang menjadi bukti panggilan dan penugasan Allah bagi Musa dalam menjalankan Misi Allah. Akan Tetapi alasan ini seakan-akan tidak cukup bagi Musa sehingga ia melanjutkan dengan alasan ketiga:

3. Pasal 4:10. TUHAN disalahkan, karena tidak menciptakan Musa dengan fasih lidah (Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”). Jawaban TUHAN untuk Musa dalam pasal 4:11 (Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?). Jawaban Tuhan memberikan pengertian bagi Musa bahwa hidup Musa berada dalam kedaulatan dan Kuasa Tuhan sehingga seharusnya tidak ada lagi alasan bagi Musa untuk menyalahkan TUHAN dalam hal ini, serta menolak panggilan TUHAN dalam menjalankan kehendak TUHAN.

Setelah ketiga alasan penolakan Musa dijawab tuntas oleh TUHAN barulah ia berangkat untuk menjalankan kehendak TUHAN.

Pelajaran apa yang perlu dipetik dari perenungan di atas:

1. Seringkali manusia memakai alasan kelemahan-kelemahan dirinya maupun orang lain menjadi kekuatan alasan untuk menolak menjalankan panggilan Tuhan dalam tugas yang akan dipercayakan kepadanya oleh Tuhan.

2. Alasan apapun yang dipergunakan untuk menolak panggilan Tuhan tidak dapat menggagalkan kehendak dan rencana Tuhan dalam menjalankan Misi-Nya. Sebab Kehendak Tuhan bersifat Mutlak dan kekal.

3. Keberhasilan dalam menjalankan kehendak Tuhan bukan terletak pada siapa kita, atau sejauhmana kekuatan dan kepintaran kita, namun semuanya terletak kepada Penyertaan dan Kuasa Allah dalam pelayanan Kita.

Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa ketika Panggilan Allah ditujukan kepada kita maka tidak perlu adanya banyak alasan untuk menolak, namun hanya satu pernyataan yang semestinya keluar dari hati kita melalui mulut kita yaitu “Aku siap dan Taat kepada Panggilan Mu TUHAN” sebab penyertaan dan kuasanya menjadi jaminan dalam penugasanku untuk mewujudkan misiNYa.