Pengkhotbah

Perikop
Yunus 2 : 1-10

Ringkasan Khotbah

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kitab Yunus adalah kitab fiksi, mitos atau dongeng semata. Namun jika kita memperhatikan lebih lagi, teks bacaan kali ini sesungguhnya membantah dan mematahkan pendapat tersebut. Berikut adalah fakta yang menunjukkan bahwa kitab Yunus adalah fakta historis.

  1. Yunus 1 : 1 menuliskan ”Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai,..” Kata ‘bin’ dalam penulisan Yunus bin Amitai menunjukkan bahwa ayah Yunus adalah Amitai. Artinya Yunus memiliki silsilah keluarga yang dapat ditelusuri. Adapun, silsilah keluarga adalah salah satu tanda fakta historis bukan mitologi. Mengapa demikian? Karena dalam tokoh mitologi tidak pernah menjelaskan asal usul bahkan atau dimulai dengan dewa.
  2. Kota Niniwe dengan segala keterangan ukuran dan luasnya ditemukan di kota Maskul, Irak. Hal ini menunjukkan bahwa kota Niniwe adalah fakta sejarah. Dengan demikian, Yunus pun merupakan tokoh sejarah. Fakta ini diperkuat oleh pernyataan C.S Lewis yang menulis buku metodologi kuno bahwa Alkitab termasuk kitab Yunus adalah fakta sejarah. Lebih jauh lagi, sejarawan Yahudi, Flafeus Yosepus memperkuat fakta ini ketika ia menelusuri asal-usul Yunus.
  3. Kitab-kitab lain dalam Alkitab pernah mengutip kitab Yunus sebagai referensi. Referensi kutipan ini menunjukkan bahwa Yunus adalah tokoh sejarah. Sebagai contoh, 2 Raja-raja 14 menuliskan bahwa Yunus bin Amitai pernah dipanggil Tuhan untuk menyampaikan firman kepada Israel bagian utara (sama halnya dengan yang ditulis dalam Yunus 1). Lebih jauh lagi dalam Matius 12, Tuhan Yesus sendiri pernah mengutip kitab Yunus.
  4. Pada akhirnya masalah fakta atau bukan fakta sejarah, pada akhirnya berkaitan dengan presaposisi. Presaposisi artinya asumsi untuk menolak atau menerima sesuatu. Orang-orang yang beranggapan bahwa kitab Yunus adalah mitos adalah orang-orang yang menolak kuasa supranatural Allah untuk melakukan mujizat. Bagi Allah segala sesuatunya mungkin.

Apa yang dapat kita pelajari dari kitab ini?

1. Siapa saja yang menjauhkan dirinya dari Tuhan justru membuat keadaannya semakin terpuruk. Dituliskan dalam Yunus 1 : 3 bahwa Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan. Jika memperhatikan dalam terjemahan dalam bahasa Inggris dan Yunani, ayat ini sebenarnya ditegaskan bahwa Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan dan turun ke bawah, ke Yafo. Artinya dari Israel ke Yafo posisinya ia turun ke bawah. Yunus 1 : 5 menuliskan bahwa Yunus menaiki kapal dan ”..telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah..” Lalu karena keadaan laut yang tidak semakin baik, Yunus dibuang ke laut dan ditelan oleh seekor ikan besar (Yunus 1 : 17). Ikan besar sendiri berada di laut dan berada lebih bawah lagi dari sebuah kapal selanjutnya membawa Yunus lebih dalam lagi, ke pusat lautan (Yunus 2 : 3). Hingga akhirnya Yunus tenggelam ke dasar bumi bahkan ke dalam liang kubur (Yunus 2 : 6). Hal ini menunjukkan apabila hidup kita jauh dari hadapan Tuhan, justru bukan keberhasilan yang akan kita dapat melainkan keterpurukan hidup. 

2. Keterpurukan hidup Tuhan izinkan untuk membawa kita mengenal siapa diri kita dan kebaikan Allah. Pada awalnya Yunus adalah orang yang tidak mengenal rasa takut. Apa cirinya?

  1. ketika badai besar terjadi sehingga kapal yang ditumpanginya hampir hancur namun Yunus tertidur dengan nyenyak dalam ruang kapal yang paling bawah.
  2. ketika awak kapal ketakutan dan mulai berteriak-teriak kepada allahnya, Yunus tetap tertidur dan tidak berdoa kepada TUHAN.
  3. ketika Yunus terkena undi, ia tidak takut mati bahkan meminta awak kapal mencampakkannya ke laut.

Namun akhirnya, Yunus 2 : 4 menuliskan, bahwa Yunus menyadari batas kekuatannya dan dirinya telah diusir Allah sehingga ia menyesal dan kembali berdoa kepada Allah memohon pertolongan. Artinya melalui peristiwa ini, Tuhan hendak menyadarkan bahwa manusia tidak ada apa-apanya jika tanpa Tuhan di hidupnya.

3. Anugerah Allah adalah sebuah kehidupan yang digunakan untuk untuk rencana Allah.
Amin.