Pengkhotbah

Perikop
1 Korintus 13:4

Ringkasan Khotbah

Perlu kita pahami bahwa dalam 1 Korintus 13 kata sabar diulang 2 kali yaitu ayat 4 dan 7. Namun kedua kata tersebut walaupun dalam bahasa Indonesia itu sama, namun dalam bahasa Yunani sangat beda. “sabar” dalam (1 Korintus 13:4) bahasa Yunani adalah kata kerja “makrothumeo” yang tersusun dari kata “makros” yang berarti “panjang” dan “thumos” yang berarti “kemarahan”. Dengan kata lain, “makrothumeo” berarti “perlu waktu yang panjang sebelum marah” dan merupakan lawan dari “cepat marah”. “Makrothumeo” lebih bermakna sabar terhadap orang daripada sabar terhadap keadaan. Sedangkan ” sabar ” dalam segala sesuatu (1 Korintus 13:7) di sini adalah kata kerja “hupomeno”, “ merujuk pada respons orang terhadap keadaan, yang menunjukkan ketabahannya dalam menghadapi kesulitan”. Jadi, kasih itu selain panjang sabar terhadap orang lain (makrothumeo), juga panjang sabar terhadap keadaan (hupomeno). Kasih menanti dengan sabar tanpa menjadi lemah di tengah kesulitan.

Mengapa Kesabaran harus ada dalam kehidupan umat Allah?

1. Kesabaran adalah Karakter Allah. ” TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” (diambil dari Mazmur 103:8) Hal ini dibuktikan dalam kehidupan Zaman Nuh. Dimana, walaupun manusia pada saat itu sudah hidup dalam dosa, namun Tuhan masih panjang sabar untuk memberikan umur panjang bagi mereka. Bangsa Israel ketika di padang gurun, seringkali bersungut-sungut dihadapan Tuhan, namun Allah yang panjang sabar senantiasa memberikan mujizat bagi mereka. Yesus Kristus ketika datang kedalam dunia, walaupun Dia harus menderita tetapi Dia sabar menanggung semua kesengsaraan tersebut hanya untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Kepanjang-sabaran Tuhan sebagai kesempatan agar kita umat manusia bertobat. Tanpa kepanjang-sabaran Allah didalam Yesus Kristus kita tidak mungkin mengalami anugerah pemeliharaan dan keselamatan dari Tuhan. Syukur, Allah kita adalah Allah yang panjang sabar.

2. Kesabaran adalah buah Roh. (diambil dari Galatia 5:22-23). Dalam perikop ini dijelaskan tentang adanya pertentangan antara keinginan Roh dan keinginan daging. Perbuatan daging atau dosa mengganggu bahkan memisahkan hubungan dengan Tuhan dan juga merusak hubungan dengan sesama manusia. Menarik sekali untuk diperhatikan, bahwa bertalian dengan daging, Paulus berbicara tentang perbuatan-perbuatan (ay.19), tapi bertalian dengan Roh, ia berkata buah. Artinya Buah itu tidak dibuat, tetapi tumbuh dengan sendirinya. Buah Roh adalah bukti Roh Kudus tinggal dan berkarya dalam kehidupan umat yang percaya kepada Yesus. Maka secara otomatis karakter kesabaran Allah itu dianugerahi oleh Allah melalui buah Roh dalam kehidupan umat percaya. Dengan adanya buah roh yang menghadirkan kesabaran maka kekristenan memiliki nilai lebih yang dapat di lihat oleh orang yang percaya. Sehingga kehidupan kesabaran dapat menjadi daya tarik bagi orang yang belum percaya Tuhan, pada akhirnya melalui pekerjaan Roh Kudus mereka percaya kepada Tuhan.

3. Sabar membuat kita tidak berbuat dosa. ” Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.” (diambil dari Pengkhotbah 10:4) Orang yang sabar pasti menang. Menang terhadap siapa? a. Menang terhadap diri sendiri. Berkaitan dengan Pengkhotbah 10:4, jika diperhadapkan dengan amarah penguasa tidak boleh meninggalkan tempat tersebut. Orang yang bisa melakukan hal ini adalah orang yang dapat menguasai diri dengan sabar. Maka ia tetap mendengar apa yang bisa dipelajari menjadi pembelajaran dalam dalam kejadian tersebut untuk dapat membangun dirinya. b. Menang terhadap sesama yang membuat kejahatan kepadanya. Dimana ia dapat dengan sabar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan namun membalas kejahatan dengan kebaikan. Kebaikan tersebut dapat dipakai oleh Roh Kudus untuk mengubah orang yang jahat untuk menjadi baik.

Hiduplah dalam kesabaran karena melaluinya Tuhan dapat memakainya untuk menjadi berkat bagi sesama dan diri sendiri untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.