Ringkasan Khotbah

Penyakit kusta adalah penyakit kulit yang sangat berbahaya dan juga menular. Seseorang yang mengidap penyakit ini tidak hanya menderita secara jasmani namun juga jiwani (batin), karena penderita harus diasingkan dan dikucilkan.

Hal yang sama, terjadi pada 10 orang kusta yang terdapat dalam teks bacaan kali ini. Mereka diasingkan dan harus tinggal di daerah perbatasan (daerah yang berbahaya), yaitu perbatasan Samaria dan Galilea.

10 orang kusta ini sebenarnya terdiri dari orang Yahudi dan orang Samaria yang tidak saling bergaul pada saat itu. Namun karena kesamaan penyakit yang diderita mengharuskan mereka bersama-sama.

Selanjutnya ketika Tuhan Yesus menyusuri daerah perbatasan (Lukas 17: 11), kesepuluh orang kusta ini menemui Yesus dan memohon kesembuhan (Lukas 17:13). Namun ketika, Tuhan Yesus menyembuhkan mereka, hanya ada satu orang, yaitu orang Samaria yang datang kembali dan mengucap syukur kepada Tuhan (Lukas 17 : 16).

Apa yang dapat dipelajari dari bacaan ini?

  1. Tuhan Yesus menginginkan kesatuan bukan kelompok-kelompok. Dapat dikatakan, penyakit kusta ini menjadi sarana Allah untuk mempersatukan umatNya.
  2. Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dalam ungkapan syukur kepada-Nya. Seringkali ketika menerima kasih dan kebaikan Tuhan, namun kita terlena dan tidak mengucap syukur kepada Tuhan.

Kesimpulannya, apa saja bukti bahwa Kasih Kristus memulihkan?

  • Kasih Kristus memulihkan, karena Yesus sendiri yang adalah Allah berkenan datang untuk memulihkan. Lukas 17 : 11 menuliskan Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Perbatasan adalah daerah yang berbahaya namun Yesus mau datang.
  • Kasih Kristus memulihkan ketika kita memanggil namanya (Lukas 17:13).
  • Kasih Kristus memulihkan ketika Ia memandang umatNya (Lukas 17:14). Pandangan yang dimaksud adalah pandangan ilahi, yaitu pandangan menggebu-gebu yang penuh belas kasihan.

Amin.