Ringkasan Khotbah

Banyak orang tidak mau menerima kegagalan bahkan kegagalan dirinya sendiri. Lebih lagi, kenyataan yang lebih pahit, banyak juga orang yang tidak mau menerima orang yang gagal. Lain halnya dengan Tuhan, terlepas dari apapun kondisi seseorang, baik gagal maupun tidak, Tuhan menerima orang tersebut. Sehingga tema minggu ini dapat dijadikan refleksi tentang siapa kita dihadapan Tuhan.

Tema minggu diambil dari Mazmur 103. Adapun jika kita memperhatikan teks bacaan kali ini, ada dua hal yang melatar-belakangi teks bacaan ini.

  1. Ketika bangsa Israel menyembah patung lembu emas. Hal ini terjadi dikarenakan bangsa Israel tidak sabar menanti Musa yang sedang naik ke gunung untuk menerima dua loh batu dari Tuhan. Sebagai akibatnya mereka mengumpulkan anting-anting emas kepunyaan mereka untuk dibuat patung lembu emas. Patung tersebut menjadi sarana untuk menyembah TUHAN. Perbuatan tersebut tentunya adalah kegagalan yang sangat besar dalam menyembah TUHAN dan telah melanggar Hukum Taurat yang kesatu dan kedua. Sehingga hal ini menyebabkan Tuhan dan juga Musa marah terhadap bangsa Israel. Namun Musa memohon belas kasihan Tuhan agar Tuhan mengingat kasih perjanjiannya dan berbelas kasih terhadap bangsa Israel (lihat Mazmur 103 : 7, Keluaran 32 dan Keluaran 33 : 13).
  2. Ketika Musa meminta kepada Tuhan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Musa hanya dapat melihat sisi belakang dari Tuhan sehingga ia bersembunyi di balik batu. Dan pada saat itu Tuhan lewat sambil berseru seperti yang tertulis dalam Keluaran 34 : 6 dan Mazmur 108.

Dengan demikian secara umum, teks bacaan ini tidak berbicara tentang keberhasilan melainkan tentang kegagalan bangsa Israel di hadapan Tuhan. Namun kegagalan bangsa Israel tidak meniadakan kasih setia Tuhan bahkan Ia menunjukkan anugerah-Nya.

Selanjutnya di dalam Mazmur 108 : 8 ada beberapa kata sifat yang ditulis sebagai sifat dari pada Tuhan, yaitu penyayang, pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Jika memperhatikan dalam bahasa aslinya, kata penyayang itu ditujukan kepada orang berdosa dan juga orang yang malang. Sehingga, kata ini dapat diterjemahkan menjadi berbelas-kasihan dan berkemurahan. Pengasih adalah kasih atau beranugerah. Panjang sabar adalah sabar untuk memilih seseorang lebih bertobat daripada penghukuman. Berlimpah kasih setia atau kasih setia berkaitan dengan perjanjian (dalam bahasa Ibrani disebut berik). Kasih setia ini bukan karena orangnya tetapi karena janji yang sudah diikat Tuhan dengan diri-Nya.

Mazmur 108 : 9 menuliskan kalimat ”Tidak selalu Ia menuntut..” Kata menuntut yang dimaksud adalah mencela atau melawan kita. Kemudian dalam ayat 10 ”…setimpal dengan dosa kita…” artinya Tuhan tidak menghukum setimpal dengan kesalahan kita. Dan yang terakhir ayat 13-18 menggambarkan tentang kasih Tuhan yang menerima apa adanya dan tidak membiarkan kita apa adanya. Amin.