Pengkhotbah

Perikop
Matius 5:3

Ringkasan Khotbah

Kebahagiaan adalah ketentraman hidup lahir batin, keadaan atau peresaan senang dan tentram, bebas dari segala yang menyusahkan. (KBBI).

Kebahagiaan adalah keadaan yang dirindukan semua insan manusia sepanjang zaman. Dimanapun manusia ketika ditanaya apa tujuan hidup anda? Jawaban yang lazim diberikan adalah “saya ingin hidup bahagia”. Atau dalam hal memilih teman hidup. Mengapa anda memilih si A bukan si B? jawabanya “karena si A dapat membahagiakan saya”. Ini sedikit contoh mengapa orang memilih bahagia.

Banyak orang jatuh pada pemahaman bahwa kebahagiaan adalah kehidupan tanpa masalah, tanpa perjuangan dan tanpa pengorbanan. Ini adalah kesalahan yang terjadi di masyarakat luas. Bahkan ada yang mengatakan kebahagiaan adalah titik final kehidupan manusia. Orang yang demikian setelah kebahagiaanya direnggut, dia menjadi putus asah dan mengambil langkah bunuh diri.

Mengapa bisa terjadi demikian? karena kebahagiaan yang mereka miliki adalah kebahagiaan buatan sendiri, atau bisa jadi kebahagiaan produk dunia, atau kebahagiaan produk Iblis. Kebahagiaan medel ini pada hakekatnya semu dan hilang di telan waktu.

Arti kata bahagia dalam teks ini:

  1. Kata ‘bahagia’ di sini tidak menunjuk pada ‘perasaan bahagia’ yang terasa dalam hati kita. Kalau kata ‘bahagia’ memang menunjuk pada perasaan bahagia dalam hati kita, bagaimana mungkin bisa ada ay 4 yang berbunyi: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur”. Disamping itu terjemahan yang sebenarnya bukan ‘berbahagialah’, tetapi ‘blessed’ (= diberkatilah) seperti dalam KJV/RSV/NIV/NASB. Memang ada yang menterjemahkan ‘happy’ (= berbahagialah) seperti Good News Bible, tetapi ini merupakan terjemahan yang kurang tepat.

  2. Juga kata ‘berbahagialah’ / ‘diberkatilah’ ini tidak menunjuk pada kebahagiaan / keadaan diberkati menurut ukuran dunia / jasmani, seperti kaya, sukses, sehat dan sebagainya. Mengapa? Karena kalau demikian bagaimana bisa dikatakan ‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang dianiaya / dicela / difitnah’ seperti dalam Mat 5:10-11?

  3. Kata ‘berbahagialah’ / ‘diberkatilah’ di sini menunjuk pada kebahagiaan / keadaan diberkati dalam pandangan Tuhan. Jadi, dalam pandangan Tuhan orang-orang seperti dalam Mat 5:3-12 adalah orang yang berbahagia / diberkati. Bisa saja pandangan Tuhan ini bertentangan dengan pandangan manusia. Jadi bisa saja kita miskin, gagal, menderita, dianiaya, lemah dsb, tetapi dalam pandangan Tuhan kita berbahagia / diberkati. Sebaliknya bisa saja kita kaya, berkedudukan tinggi, sukses, dsb, tetapi dalam pandangan Tuhan kita celaka / terkutuk.

‘Miskin di hadapan Allah’.

  1. ‘Miskin’.

    Ada beberapa kata bahasa Yunani yang berarti ‘miskin’:

    • PENES atau PENICHROS yang artinya adalah ‘miskin tetapi masih mempunyai sesuatu’.

    • PTOCHOS yang artinya adalah ‘miskin dalam arti sama sekali tidak punya apa-apa’. Dalam Luk 16:20 kata ‘pengemis’ yang ditujukan kepada Lazarus itu dalam bahasa Yunaninya adalah PTOCHOS. Bacalah Luk 16:20-21 untuk mendapat gambaran tentang PTOCHOS itu.

      Luk 16:20-21 – “Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya”.

      Ia bukan hanya tidak mempunyai rumah, tetapi juga tidak mempunyai uang untuk membeli makanan atau obat / perban untuk mengobati / membalut luka-lukanya.

      Pulpit Commentary:

      • PTOCHOS, dalam penggunaan klasik dan filosofis, menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dari PENES (2Kor 9:9)
      • Orang yang PENES adalah orang yang miskin sehingga ia mendapatkan roti / makanannya melalui kerja keras setiap hari; tetapi orang yang PTOCHOS adalah orang yang begitu miskin sehingga ia hanya mendapatkan penghidupannya melalui pengemisan … Orang yang PENES tidak mempunyai apapun secara berlebihan, orang yang PTOCHOS sama sekali tidak mempunyai apapun).

      Dalam Luk 21:1-4 terdapat cerita tentang seorang janda miskin yang memberikan seluruh uangnya kepada Tuhan.

      Luk 21:1-4 – “(1) Ketika Yesus mengangkat mukaNya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. (2) Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. (3) Lalu Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. (4) Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.’”.

      Dalam Luk 21:2 ada kata ‘miskin’ dan demikian juga dalam Luk 21:3, tetapi dalam Luk 21:2 digunakan kata Yunani PENICHROS dan dalam Luk 21:3 digunakan kata Yunani PTOCHOS. Mengapa berbeda? Karena dalam Luk 21:2 sekalipun ia miskin, ia masih mempunyai uang sedikit, jadi digunakan kata PENICHROS. Tetapi setelah uangnya dipersembahkan semua, ia tidak mempunyai apa-apa lagi, sehingga dalam Luk 21:3 digunakan kata PTOCHOS. Kata ‘miskin’ yang digunakan dalam Mat 5:3 adalah PTOCHOS!

  2. Kata-kata ‘di hadapan Allah’ kurang tepat. NIV/NASB: in spirit (= dalam roh). Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ‘miskin’ dalam Mat 5:3 ini bukanlah ‘miskin dalam hal jasmani / uang’. Dalam persoalan ini, dalam dunia ini ada 3 golongan manusia:

    1. Orang yang merasa dirinya baik (‘kaya dalam roh’) seperti:

      1. Orang Farisi dalam Luk 18:9-12 (perumpamaan Yesus tentang 2 orang yang berdoa di Bait Allah).

        Luk 18:9-12 – “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: ‘Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”.

        Perhatikan bahwa dalam doanya bukan saja ia merendahkan orang-orang lain yang ia anggap berdosa / jahat, tetapi ia juga ‘memamerkan’ kebaikan / kesalehannya kepada Tuhan!

      2. Jemaat Laodikia.

        Wah 3:17 – “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang”.

      Apakah kita merasa diri saudara baik / lebih baik dari orang lain? Ingat bahwa Mat 5:3 yang berbunyi “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” secara implisit menunjukkan “Celakalah orang yang kaya dalam roh (yang merasa diri baik) karena merekalah yang empunya neraka (akan pergi ke neraka)”.

    2. Orang yang merasa diri berdosa tetapi toh masih merasa dirinya mempunyai kebaikan.

      Ini adalah miskin dalam arti PENES / PENICHROS bukan PTOCHOS! Jadi golongan ini belum bisa dikatakan berbahagia! Mungkin ini adalah golongan orang yang paling banyak terdapat di gereja. Mereka merasa diri sebagai orang berdosa, tetapi mereka juga merasa diri lumayan baik, karena mereka masih mau pergi ke gereja, memberi persembahan, melayani Tuhan, tidak melakukan hal-hal yang maksiat, dan sebagainya. Mereka tidak merasa diri sebagai hitam legam, tetapi sebagai abu-abu atau putih berbintik-bintik. Apakah saudara termasuk golongan ini?

    3. Orang yang merasa dirinya penuh dosa dan sama sekali tidak bisa berbuat baik.

      Pulpit Commentary: Di sini Kristus menegaskan keadaan diberkati dari orang-orang, yang dalam roh mereka sama sekali tidak mempunyai kekayaan. Ini tidak bisa diartikan bahwa mereka adalah seperti itu dalam pandangan Allah, karena dalam pandangan Allah semua adalah demikian. Karena itu, itu berarti bahwa mereka adalah demikian dalam pandangan mereka sendiri).

      Jadi, orang yang termasuk golongan ini adalah orang yang menyadari sepenuhnya bahwa hidupnya hanyalah dosa, dosa, dan dosa. Ia tidak menganggap diri sebagai putih, abu-abu, putih berbintik-bintik, tetapi sebagai hitam legam.

      Kalau saudara adalah orang yang merasa diri baik / saleh / suci, atau lumayan baik, maka coba perhatikan gambaran Firman Tuhan di bawah ini tentang keadaan manusia di hadapan Allah.

      Yes 64:6a – “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor”.

      Perhatikan bahwa Yesaya bukan mengatakan ‘segala dosa kami seperti kain kotor’. Ia juga tidak mengatakan ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.

      Kalau kesalehan kita digambarkan seperti ‘kain kotor’ di hadapan Allah, bagaimana dengan dosa kita?

      Yeh 36:17 – “‘Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapanKu”.

      Dosa / kejahatan kita digambarkan seperti ‘cemar kain’. Apakah ‘cemar kain’ itu? NIV menterjemahkannya: ‘a woman’s monthly uncleanness’ (= kenajisan bulanan dari seorang perempuan).

      Bandingkan juga dengan Im 15:20,24 – “(20) Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. … (24) Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga”.

      Untuk kata ‘cemar kain’ yang pertama (ay 20) NIV menterjemahkan ‘her period’ (= masa datang bulannya), sedangkan untuk kata ‘cemar kain’ yang kedua (ay 24) NIV menterjemahkan ‘her monthly flow’ (= aliran bulanannya).

      Jadi Kitab Suci menggambarkan kesalehan kita seperti kain kotor, dan menggambarkan dosa / kejahatan kita seperti cairan yang dikeluarkan oleh seorang perempuan pada saat mengalami datang bulan!

      Kalau saudara adalah orang yang menganggap diri saudara suci atau lumayan baik, renungkan bagian ini!

      Contoh orang yang termasuk PTOCHOS:

      • Rasul Paulus.

        Ro 7:18-19 – “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”.

        1Tim 1:15 – “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa”.

        Merupakan sesuatu yang aneh bahwa pada saat Paulus belum bertobat, ia menganggap dirinya bisa mentaati hukum Taurat tanpa cacat.

        Fil 3:4-6 – “(4) Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: (5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”.

        Tetapi setelah ia bertobat, dan tumbuh dalam pengertian Firman Tuhan dan kekudusan, ia justru merasa dirinya penuh dengan dosa.

      • Pemungut cukai.

        Dalam Luk 18:13 – “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”.

      • Anak bungsu / terhilang.

        Luk 15:17-19 – “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”.

‘Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga’.

Inilah alasan mengapa golongan ini disebut berbahagia: mereka adalah pemilik kerajaan Sorga. Tetapi mengapa mereka disebut sebagai pemilik kerajaan surga?

  1. Karena orang seperti ini tidak akan berusaha masuk surga dengan usahanya sendiri. Dia akan mengemis pengampunan kepada Tuhan (bdk. Luk 18:13-14). Sebaliknya, orang yang merasakan dirinya baik / lumayan akan berusaha masuk surga dengan usahanya / perbuatan baiknya sendiri. Ini tidak mungkin berhasil, karena Kitab Suci memang tidak pernah mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik! Jadi, orang-orang seperti ini justru akan masuk neraka!

  2. Kristus juga berkata bahwa Ia datang untuk memanggil orang berdosa bukan orang benar.

    Mat 9:10-13 – “Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: ‘Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’ Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.’”.

    Kata-kata Yesus ini tidak berarti bahwa dalam dunia ini ada orang-orang yang benar dan ada orang-orang yang berdosa. Tidak, Kitab Suci mengatakan bahwa semua orang berdosa (Ro 3:10-12,23), tetapi ada yang sekalipun berdosa tetapi menganggap dirinya baik / benar, dan ada yang menyadari dirinya berdosa. Yesus datang bukan untuk kelompok pertama tetapi untuk kelompok kedua!

Cara menjadi PTOCHOS.

  1. Berdoalah dengan tekun supaya Tuhan membukakan mata saudara sehingga saudara bisa melihat dosa-dosa saudara. Salah satu fungsi Roh Kudus adalah menyadarkan kita dari dosa. Yoh 16:8 – “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman”. Tanpa pekerjaan Roh Kudus kita tidak mungkin menjadi PTOCHOS! Banyak orang berdoa meminta berkat, kesembuhan, bahkan karunia-karunia, tetapi tidak banyak yang meminta pencelikan terhadap dosa.

  2. Jangan membandingkan diri dengan orang lain.

    Dengan membandingkan diri dengan orang yang jahat kita akan merasa diri kita baik (bdk. Luk 18:11 – orang Farisi itu merasa diri baik karena ia membandingkan dirinya dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang lain). Standard hidup kita adalah Firman Tuhan / kehidupan Tuhan Yesus, bukan kehidupan orang lain.

    Illustrasi: seorang murid yang mendapat nilai 4 bisa saja merasa nilainya bagus, kalau ia membandingkan dengan murid yang lebih bodoh, yang mendapat nilai 2.

  3. Belajarlah Firman Tuhan!

    Satu hal yang perlu dicamkan adalah: saudara harus menggabungkan point no 1) dan point no 3) ini. Hanya berdoa untuk meminta Roh Kudus mencelikkan mata kita terhadap dosa-dosa kita, tetapi tidak mau belajar Firman Tuhan, tidak akan menjadikan kita PTOCHOS. Mengapa? Karena cara Roh Kudus mencelikkan mata kita adalah dengan menggunakan Firman Tuhan. Sebaliknya, kalau kita hanya belajar Firman Tuhan tetapi tidak berdoa untuk meminta pencelikan terhadap dosa-dosa kita dari Roh Kudus, mungkin sekali kita akan menjadi semacam ahli-ahli Taurat / orang-orang Farisi, yang hanya melihat kesalahan orang-orang lain, tetapi merasa dirinya benar (self-righteous person).

    Firman Tuhan menunjukkan dosa-dosa kita (Ro 3:20 2Tim 3:16). Dan juga, makin kita mengerti Firman Tuhan, makin kita akan diperhadapkan dengan Allah yang maha suci sehingga kita makin akan merasa penuh dosa.

  4. Bandingkan Firman Tuhan dengan diri saudara sendiri, jangan dengan orang lain. Firman Tuhan harus menjadi cermin, bukan kaca spion! Memang kalau kita sudah membandingkan Firman Tuhan dengan diri kita, tentu kita juga boleh membandingkannya dengan orang lain, karena kita harus saling memperhatikan dan mendorong dalam perbuatan baik (Ibr 10:24-25).

  5. Jangan mencari alasan / kambing hitam untuk menutupi dosa saudara atau membenarkan kesalahan saudara! Bdk. Kej 3:12-13 1Sam 15:13-15,20-21. Salah satu cara mencari kambing hitam yang saat ini banyak terdapat, khususnya dalam kalangan tertentu, adalah dengan melemparkan kesalahan kepada roh zinah, roh dusta, roh marah, dan sebagainya. Dalam menghadapi ajaran seperti ini perlu diingat bahwa Adam dan Hawa juga jatuh karena serangan setan, dan setan memang disalahkan dan dihukum, tetapi Adam dan Hawa juga! Jadi, kalau mereka hanya menyalahkan roh dusta, roh zinah dsb, tetapi tidak menekankan bahwa orang yang berdusta dan berzinah itu harus bertobat, maka itu berarti mereka hanya mencari kambing hitam.

    Makin saudara menutupi dosa dan mempertahankan dosa-dosa saudara, makin keras hati saudara. Tetapi makin saudara mentaati Firman Tuhan, makin peka saudara terhadap dosa saudara!