Pengkhotbah

Perikop
Rut 1:1-22

Ringkasan Khotbah

Murid-murid Yesus ketika pada saat bersama dengan Yesus, banyak hal yang mereka dapat dan juga pembekalan-pembekalan untuk pelayanan dimasa yang akan datang. Walaupun berulangkali Yesus mengatakan bahwa Ia akan diserakan dan mati, dan pada hari yang ketiga akan bangkit, hal ini kurang dipahami para murid. Pada akhirnya apa yang dikatakan Yesus itu terjadi, dan para murid menjadi kurang percaya, mereka kembali ke kehidupan mereka masing-masing, dan ada yang bersembunyi ketakutan. Pada masa itu tentunya muncul kekecewaan, orang yang mereka pandang berkuasa, sangat bijaksana berkata-kata, tidak buat salah, dan rasanya impian mereka terhadap Yesus tidak punya harapan. Hal ini juga dialami orang percaya, disaat mengikut Tuhan, hidup diberkati, pelayanan diberkati, pekerjaan jalan mulus, hidup serasa enjoy. Suatu waktu ketika menghadapi masalah yang sulit, dan membuat kita sampai berduka, kita mulai lupa saat-saat indah bersama Tuhan. Berkat-berkat yang melimpah dari Tuhan menjadi tidak ada apa-apa, hanya karena menghadapi masalah yang sulit, kedukaan yang mendalam, kita mulai tidak aktif pelayanan, pekerjaan mulai berantakan, dan segala sesuatu menjadi tidak berguna, karena pikiran dan perasaan telah dikuasai masalah dan pergumulan sehingga hidup kita hidup dalam keputusasaan.

Bagaimanakah kita bisa mengantisipasi ketika hal itu terjadi dimasa yang akan datang?  Hari ini kita belajar dari mertua Rut yaitu Naomi, dengan tema “Kebaikan Tuhan di Balik Penderitaan”

Penderitaan Naomi

  1. Perkataan Naomi pada ayat 20-21 “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengapa kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tuhan telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” Pertama mengenai jangan sebut aku Naomi. Nama Naomi memiliki arti “menyenangkan”. Karena mengalami penderitaan Naomi menyebutkan namanya Mara, Mara memiliki arti “pahit”. Mara merupakan tempat pertama perkemahan Israel, sesudah menyeberangi laut Teberau (laut Merah), tempat itu disebut Mara karena disana hanya terdapat air yang pahit rasanya (Kel. 15:22; Bil. 33:8-9). Mara juga diartikan tempat yang di tolak, atau Tuhan telah menolak. Dengan nama inilah Naomi ingin dipanggil, Naomi merasa tidak cocok lagi dipanggil Naomi, karena hal pahit telah dialaminya, dan merasa Tuhan telah menolaknya.
  2. Bagian terakhir ayat 21, Naomi mengatakan Tuhan mendatangkan malapetaka, dalam terjemahan asli “heera” “maha menyakitkan” menunjukkan secara fisik, mental, sosial dan moral telah dialami Naomi begitu buruk, hidup serasa hancur, dan sangat mengecewakan. Bagi Naomi yang menyebabkan ini adalah Tuhan,dan menganggap ini sebuah kutukan, yang menunjukkan penolakkan Tuhan terhadap dirinya.
  3. Apa yang membuat Naomi sampai memiliki pikiran seperti ini terhadap Tuhan, sepertinya dimata Naomi tidak ada yang baik lagi dari Tuhan. Dalam hal ini Naomi menuduh bahwa Tuhan tidak mengakuinya lagi sebagai umatNya menunjukkan bahwa Tuhan telah mengutukinya. Pertama Tuhan mengambil suaminya, mungkin itu tidak terlalu pahit karena ia memiliki dua putra. Tetapi kedua putranya belum memberikan keturunan, Tuhan sudah memanggil mereka. Inilah yang menjadi titik kedukaan pada Naomi. Pada ayat 21 memberi penjelasan bahwa Naomi Tidak membawa apa-apa setelah pulang dari perantauan. Khususnya berbicara keturunan ini sangat berpengaruh dalam hidup sosial masyarakat Yehuda saat itu. Tidak memiliki keturunan itu aib bagi orang Israel, karena keturunanlah yang akan membawa nama keluarga, serta meneruskan harta warisan, dan keturunan yang akan memelihara orang tua. Dapat disimpulkan, Naomi tidak melihat sisi baiknya Tuhan, dan ini adalah pengaruh budaya bangsa Israel, yang hidup bersungut-sungut kepada Tuhan. Kehidupan Naomi menunjukkan lambang kehidupan bangsa Israel, yang tidak mensyukuri akan impinan Tuhan, hidup bersungut-sungut, dan tidak mengerti kehendak/proses Tuhan, serta ketidaksetiaan akan janji Tuhan yaitu janji berkat kepada Abraham.

Kebaikan Tuhan dibalik Penderitaan Naomi

  1. Bukti pemeliharaan Tuhan.   Perlu diketahui bahwa Naomi berada dalam masa kepemimpinan hakim-hakim di Israel. Kehadiran hakim-hakim di Israel untuk memimpin bangsa Israel melawan para penindas, dan memberi keadilan kepada umat Tuhan.  Ada 2 point penting di sini: a) Walaupun bangsa Israel tidak setia tapi Tuhan tetap setia, b) Tuhan memberikan kebebasan khususnya kepada Naomi dan keluarga.
  2. Tuhan menghadirkan orang2 yang setia menemani Naomi.   Naomi sungguh tidak menyadari bahwa ketika ia mau meninggalkan Moab, kedua menantunya tidak mau meninggalkannya. Kedua menantu ingin menemani Naomi, walaupun pada akhirnya dibujuk Naomi untuk kembali kebangsanya dan sanak keluarga Orpa.
  3. Bangsa Naomi (Yehuda) adalah bangsa yang ditentukan Tuhan memegang tongkat kerajaan (Kej. 49:8-12).   Hal ini bisa saja dilupakan oleh Naomi, atau tidak terpikirkannya bahwa sukunya sudah dinubuatkan Tuhan untuk menjadi suku/bangsa yang melahirkan seorang raja yang kerajaannya diberkati, yang dihormati, dikagumi akan keperkasaannya, dan seluruh bangsa takluk akan kekuasaannya. Menunjukkan bahwa pada saatnya nanti Allah akan memberkati suku/bangsa ini dengan seorang pemimpin dari kehendak Allah.
  4. Tuhan memberikan Rut untuk Naomi meneruskan rencana kekal Allah

Penutup

Kebaikan Tuhan yang harus kita pelajari dalam penderitaan Naomi, yaitu:

  1. Kesulitan/masalah/penderitaan yang kita alami, jadikan itu sebagai sarana Tuhan sedang membentuk atau memperlengkapi kita, tetapi bukan sebuah kutuk atau akibat dari sebuah kesalahan. Pandanglah secara positif bukan pandangan negatif
  2. Perlu diketahui ketika menghadapi kesulitan/masalah, kita tidak sendirian tapi ada orang-orang yang Tuhan sediakan untuk menemani kita, dan bahkan menghibur kita
  3. Perlu diketahui bahwa Tuhan tidak pernah merancang kejahatan terhadap umatNya, tetapi merancangkan kebaikan