Ringkasan Khotbah

Setelah raja Israel ke-3 Salomo meninggal, Kerajaan Israel terpecah menjadi dua yaitu Israel Utara (Samaria) yang dipimpin Yerobeam dan Israel Selatan (Yehuda) yang dipimpin Rehabeam anak dari Salomo. Dalam sejarah Israel Utara mulai dari raja Yerobeam sampai kepada Ahab yang kita baca sekarang ini, hidup raja-raja tersebut mereka melakukan apa yang jahat dimata Tuhan. Mereka jatuh pada penyambahan berhala, mereka meninggalkan Tuhan Allahnya Abraham Ishak dan Yakub, dan lebih jahat lagi para raja-raja Israel Utara ini membawa bangsa Israel pun ikut menyambah berhala-berhala seperti bangsa-bangsa yang ada disekitar mereka. Raja Ahab dalam teks kita hari ini, ia melakukan kejahatan lebih dari raja-raja sebelumnya, dan lebih jahat lagi ia menikahi Izebel anak raja Sidon kemudian menyembah baal dan kemudian membuat mezbah baal juga membuat patung Asyera (Pasal 16:30-33). Hal ini membuat Allah murka karena perbuatan Ahab, maka Allah mengutus hambaNya Elia sebagai nabi saat itu untuk menegur Ahab. Hal ini menunjukkan bahwa ketidaksetiaan bangsa Israel kepada Tuhan, tidak menyurutkan kasihNya kepada umatNya dengan cara menghukum umatNya sebagai tindakan teguran untuk kembali kepada Allah. Hukuman Allah bagi bangsa Israel saat itu ialah tidak ada embun, hujan sehingga mengalami kekeringan yang panjang pada masa itu (Pasal 17:1,7). Ditengah-tengah bencana kekeringan di Israel karena ketidak setiaan mereka kepada Allah, Elia muncul dan dengan keberaniannya menyuarakan Firman Allah, dan berani menunjukkan kemahakuasaan Allah.

Elia Mengkoordinir Kegiatan

Sebelumnya, ketika Elia bertemu dengan raja Ahab, Ahab menuduh Elia-lah yang membuat Israel sengsara. Tetapi justru Elia balik membalas dengan mengatakan bahwa Ahab dan keluarganya yang mencelakakan bangsa Israel dengan meninggalkan Tuhan Allah (1Raj. 18:16-18). Kemudian Elia menyuruh Ahab mengumpulkan bangsa Israel dan seluruh nabi baal 450 orang dan nabi-nabi Asyera 400 orang yang mendapat makan dari meja Izebel (istri Ahab) ke gunung Karmel (1Raj. 18:19). Ahab melakukan apa yang diperintahkan Elia kepadanya. Setelah berkumpul Elia menemui bangsa Israel dan berkata sampai kapan kamu berlaku timpang dan bercabang hati (maksudnya melayani Tuhan tapi melayani baal juga), sehingga Elia memberi pilihan kepada bangsa itu yaitu memilih Tuhan Allah atau baal yang disembah. Bangsa Israel begitu takut menjawab Elia, karena Elia seorang diri yang hidup didalam Tuhan, ia tidak menyimpang seperti Ahab dan bangsa Israel, sehingga Elia juga berani melawan/menantang nabi-nabi baal yang 450 orang. Kesetiaan Elia dan ketaatannya pada perintah Tuhan, menjadikan ia berani berdiri, dengan tegas dan lantang menyatakan dosa/kejahatan yang dilakukan pemimpin dan bangsa Israel.

Untuk membuktikan kehebatan kuasa Allah, maka Elia menyuruh menyediakan 2 ekor lembu untuk dipersembahkan kepada; Elia mempersembahkan kepada Allah Abraham Ishak dan Yakub, dan para nabi baal persembahkan kepada baal mereka. Elia mengatur cara-cara atau ritual penyembahan. Elia mengatur seperti biasanya dilakukan ketikamempersembahkan kepada Allah.Maksudnya disini supaya bangsa Israel diingatkan kembali untuk bagaimana memersembahkan persembahan kepada Tuhan dengan cara yang benar, karena selama ini mereka sudah tidak terbiasa mempersembahkan kepada Tuhan. Elia mempersilahkan para nabi baal itu setelah mempersiapkan mesbah dan korban, mereka diminta Elia berseru kepada tuhannya, dan bangsa Israel sebagai saksinya melihat apakah tuhan para baal atau Tuhan Elia yang menjawab doa, dan bangsa Israel setuju dengan hal itu. Syarat yang diberikan Elia tidak menggunakan api, tapi biarlah api dari Tuhan yang disembah.

Dalam hal ini sekalipun Elia hanya sendirian, tapi dia datang atas nama Tuhan, sehingga dengan keberaniannya itu dia berani menegur raja yang secara penuh pemegang kuasa pemerintahan saat itu, bahkan Elia berani menyuruh raja melakukan apa yang diperintahkannya.

Elia Menghina Baal

Para nabi baal setelah menyiapkan persembahannya, mereka mulai berdoa dan berseru kepada baal dari pagi sampai tengah hari. Sudah begitu lama mereka berdoa dan sambil berjingkat-jingkat (melompat-lompat) mengelilingi mezbah, Elia mulai mengejek mereka. Karena ejekkan Elia itu, mereka menjadi fanatis dengan ritual dan kepercayaan mereka, dan semakin berusaha lebih keras berteriak kepada tuhan mereka, sambil menoreh pedang dan tombak ditubuh mereka, dan itu sudah menjadi kebiasaan para nabi baal ketika mengadakan ritual penyembahan. Sesudah lewat tengah hari mereka mulai kelelahan, dan akhirnya mereka kerasukan. Kata kerasukan dalam bahasa asli Ibrani ‘naba’ nubuat dan dalam bagian ini mereka para nabi palsu bernubuat.

meskipun nabi-nabi palsu tidak digerakkan oleh kuasa ilahi sebagaimana nabi-nabi Allah bernubuat, tapi mereka juga bernubuat (band. Yer 23:21). Nabi-nabi palsu mendapat kutukan dari Allah karena melawan nubuatan para nabi Israel, sehingga para nabi itu benubuat bukan atas dasar kuasa Allah tapi itu dari bisikan hati mereka sendiri, sehingga Allah mengutuk mereka melalui firmanNya (band. Yeh. 13:2-3). Pada pasal yang sama pada ayt. 17 dijelaskan nubuat para nabi palsu muncul oleh karena sesuka hati mereka bernubuat. Maka dalam bagian ini mereka bernubuat karena pikiran dan hati yang galau karena allah mereka tidak mendengarkan seruan/permintaan mereka, dan bisa juga karena ejekan Elia membuat mereka makin galau, stres dan karena itu bisikan hati yang jahat, kemungkinan kata-kata jahatpun keluar dari mulut mereka. Maka penting diketahui bahwa para nabi (hamba Allah) diutus untuk berbicara firman Allah kepada umatNya, mengingatkan mereka untuk tetap menjaga kesetiaan kepada Allah, menyampaikan kondisi yang akan terjadi, dan juga dengan tujuan membawa kembali umatNya berbalik kepada Tuhan dan beribadah kepada Tuhan.

Hal ini memberi petunjuk bahwa Tuhan Allah yang disembah Elia adalah Tuhan yang hidup, Dia bukanlah hasil buatan tangan manusia seperti baal. Implikasinya penyembahan kepada baal yaitu tuhan buatan manusia adalah kebodohan dan bagi Elia sangat pantas dihina karena kebodohan manusia yang mau menyembahnya sambil melukai diri. Maka Tuhan akan mempermalukan orang-orang yang menyembah kepada Tuhan yang benar, apalagi mereka mengaku sebagai hamba Tuhan tapi menyesatkan

Elia Menyatakan Kuasa dan Kemahadahsyatan Tuhan

Pertama-tama Elia memperbaiki Mezbah Allah yang sudah hancur, kemudian menyusun batu-batu tersebut sesuai 12 suku Israel. Penyusunan batu yang membentuk mezbah dengan simbol 12 suku bangsa Israel, menunjukkan bahwa Allah merindukan ke-12 suku Israel yang terpecah ini akan dipersatukan kembali, dengan jalan korban penebus salah/dosa. Elia membuat/mendirikan batu-batu tersebut dengan menyebut nama Tuhan, bagi Elia hal ini sangat sakral dan kudus dimata Tuhan. Elia tidak mau mencoreng altar Allah dengan ketidakkudusan, dia tidak main-main dalam mempersembahkan korban kepada Tuhan yang kudus, maha Kuasa dan maha segalanya. Ada 2 hal kenapa mezbah tidak dibangun kembali, pertama bangsa Israel kemungkinan besar telah melupakan mezbah Allah yang kudus karena mereka telah menyembah kepada baal, dan yang kedua mereka tidak berani membangun mezbah itu dan beribadah kepada Tuhan karena kekejaman Izebel istri Ahab yang membunuh para nabi-nabi Allah. Disini Elia begitu berani dan mau menunjukkan bahwa memulihkan mezbah Tuhan tidak ada yang bisa menghalanginya dan mezbah Tuhan tidak bisa dipermainkan dan disalahgunakan oleh siapapun baik mereka yang dipercayakan; imam, kaum Lewi maupun para nabi, apa lagi mereka yang tidak berkepentingan didalamnya yaitu para nabi-nabi baal sebab Mezbah Tuhan adalah kudus dan melalui itu Allah hadir bertemu dengan umatNya dan mengampuni akan kesalahan umatNya.

Setelah memperbaiki mezbah untuk Tuhan, ia membuat parit disekelilingnya. Ketika semua sudah disiapkan, baik penyusunan kayu, lembu yang dipotong disusun diatas kayu, tidak puas denganitu Elia menyuruh bangsa itu menyiramkan air dengan jumlah 3×4 buyung. 1 buyung = 38 liter air jadi jika 12 buyung = 456 liter air atau sebanyak 4,5 drum. tentunya dengan jumlah air yang begitu banyak maka disekeliling mezbah menjadi banjir. Setelah semuanya selesai, Elia mulai memanggil Allah yang disembahnya yaitu Allah Israel yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang Israel, yaitu Allah yang mencipta langit dan bumi. Elia memohon kepada Allah untuk menunjukkan bahwa Allah benar-benar ada ditengah-tengah Israel, Allah yang memakai Elia sebagai perantaraan Firman, Allah adalah satu-satunya Tuhan, dan Allah yang mengampuni dan memberi pertobatan kepada umatNya. Permintaan Elia bukan muluk2 menampilkan apa yang menjadi keinginan manusia, tapi yang diinginkan Elia sebagaimana kehendak Allah, yaitu biar semua bertelut, memuji dan menyembah Tuhan serta hidup takut akan Dia. Allah dengan kuasaNya datang menyambar dengan api semua persembahan Elia, sampai air yang banjir tadi menjadi kering oleh karena sambaran api itu. Bangsa Israel melihat itu mereka tertunduk dan menyembah Allah serta mengakui bahwa Allah Elialah Tuhan semesta alam. Elia menyuruh bangsa itu menangkap para baal sekitar 450 orang, kemudian disungai Kison Elia membantai/membunuh para nabi baal itu. Membunuh disini bukanlah suatu kekejian, tapi menunjukkan murka Tuhan terhadap nabi-nabi penyesat yang membawa bangsa Israel meyembah kepada berhala.

Pada bagian ini menunjukkan Elia memiliki keberanian menyusun kembali mezbah yang sudah dihancurkan dan Elia memiliki pengharapan kepada Allah akan memulihkan Israel. Elia dengan setia menjaga kekudusan di mezbah tempat mempersembahkan korban, dan dengan yakin bahwa Allah akan menyatakan kuasaNya ditengah-tengah ketidakpercayaan bangsa Israel. Tujuan Elia melakukan ini yaitu supaya bangsa Israel mengaku bahwa Allah adalah Tuhan dan sujud menyembah kepadaNya.


Sebagai orang percaya, hal yang perlu kita ambil dalam bagian ini dan mengaplikasikannya, sebagai berikut:

  1. Marilah kita hidup sebagaimana Elia berpegang kepada perintah Tuhan, menjadi teladan sehingga berani menyatakan salah kepada mereka yang tidak hidup dalam prinsip kebenaran.
  2. Berani menyaksikan kuasa Tuhan dalam pengalaman hidup bersama Tuhan, dan hidup menyembah kepada Tuhan didalam roh dan kebenaran.
  3. Jadikan penyembahan kita kepada Tuhan menjadi saksi bagi orang lain.