Ringkasan Khotbah

Habakuk hidup pada jaman dimana bangsa Israel ditindas oleh musuh-musuhnya. Bukan hal yang mudah baginya untuk dapat terus mempertahankan imannya. Masa-masa yang sukar dimana musuh senantiasa menindas, membuat semua aspek kehidupannya terpengaruh. Ladang yang biasanya menjadi tempat yang mendatangkan penghasilan dan merupakan tempat tumpuan bagi penghidupannya tidak lagi membuahkan hasil. Ternak yang menjadi harta kekayaannya terhalau dari kurungannya. Tidak ada lagi simpanan baginya. Sedangkan dia mempunyai kebutuhan yang harus terus dipenuhi.

Habakuk hidup dan melayani dalam situasi yang sulit untuk dipahami. Habakuk sendiri dikenal dengan sebutan “Nabi Bingung”. Di pasal 1:2-4 ia bertanya kepada Allah mengapa Allah seolah-olah diam saja ketika kejahatan merajalela dan orang fasik semakin bertambah banyak. Ketika Allah menjawab bahwa Ia akan memakai bangsa Kasdim untuk menghukum umat-Nya yang berbuat jahat (1:5-11), Habakuk kembali bertanya kepada Allah (1:12-17). Ia heran mengapa Allah memakai bangsa yang lebih jahat untuk menghukum umat-Nya (1:13). Kejahatan bangsa Kasdim sendiri dijelaskan Habakuk di 1:15-17. Habakuk benar-benar dalam kondisi kerohanian yang kritis!

Bukankah hal-hal ini juga yang banyak dialami oleh umat Tuhan? Keadaan krisis global yang sedang terjadi belakangan ini menimbulkan dampak yang sangat besar. Begitu banyak terjadi pengurangan tenaga kerja di seluruh bagian dunia ini. Tidak terkecuali di Indonesia, makin banyak pengangguran terjadi dimana-mana. Pekerjaan atau bisnis yang masih berjalan-pun tidak menjadi semakin mudah. Semakin banyak tekanan dalam kehidupan kita. Tetapi apakah kita menyerah dengan keadaan seperti itu?

Mari kita belajar dari nabi Habakuk, bagaimana dia mendapatkan kekuatan dia masa-masa yang sukar.

  1. Bersorak-sorak di dalam Tuhan (Hab 3:18a)

    Ketika bangsa Israel selesai mengelilingi kota Yerikho pada hari ke tujuh, mereka bersorak-sorai. Setelah itu kita melihat bahwa tembok Yerikho diruntuhkan. Tembok sebesar tembok Yerikho dapat diruntuhkan dengan kuasa dari sorak sorai. Demikian juga masalah seberat apapun yang kita hadapi, ketika kita bersorak-sorai bagi Tuhan, maka masalah itupun dapat diruntuhkan. Bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati! (Ef 5:19)

    Ada beberapa pengalaman hidup John Wesley – seorang pelopor gerakan Metodis yang terkenal – yang sangat menentukan hidupnya, salah satunya adalah perjumpaan John Wesley dengan sekelompok kaum Moravian di sebuah kapal menuju kepulauan Amerika. Waktu itu ia diangkat sebagai pendeta untuk melayani kaum pendatang di Amerika. Kapal yang ia tumpangi dilanda badai di tengah Samudera Atlantik. Semua orang panik, kecuali kelompok Moravian yang tetap memuji Tuhan dengan sukacita. Ketika John Wesley bertanya mengapa mereka begitu tenang dan malah bersukacita, mereka ganti bertanya kepada John Wesley, “Apakah engkau mengenal Yesus Kristus?”, “Apakah Engkau tahu bahwa Ia adalah Anak Allah?”, “Apakah engkau yakin bahwa engkau diselamatkan?” Pengalaman ini turut menuntun John Wesley pada pertobatan yang sejati dengan puncaknya ketika ia mendengar pendahuluan tafsiran Roma yang ditulis Martin Luther.

    Bagi bangsa Yehuda yang hidupnya bergantung pada pertanian, ayat 17 merupakan situasi yang sangat sulit. Pohon ara, buah-buahan dan minyak merupakan produk-produk pilihan mereka (band. Yoel 1:7; Hos 2:12; Mik 4:4; 6:15; Ul 6:11; 8:8). Lebih daripada itu, ladang yang tidak menghasilkan makanan dan ternak yang musnah menyangkut kebutuhan pokok yang tidak bisa tergantikan. Situasi ini bukan hanya masalah ekonomi. Ketidakadaan komoditas di atas sangat terkait dengan ibadah mereka di bait Allah yang pasti melibatkan minyak, gandum dan kurban bakaran. Lebih jauh, semua komoditas tersebut berhubungan dengan perjanjian antara Allah dan umat-Nya: komoditas tersebut adalah hasil perjanjian (Im 26:3-5, 10; Ul 28:2-14) dan digunakan dalam berbagai hari raya untuk memperingati perjanjian tersebut. Pendeknya, situasi ini secara nalar sulit dihadapi oleh setiap bangsa Yehuda.

    Bagaimanapun, situasi di atas tidak mampu merampas sukacita Habakuk. Ia tetap bersukacita (LAI:TB “bersorak-sorai”; bandingkan dengan sukacita bangsa Kasdim di 1:15; 3:14). Sukacita ini tidak didasarkan pada apa yang diberikan Allah, tetapi pada diri Allah sendiri. Ia tetap merasa cukup walaupun ia hanya memiliki Allah saja sebagai bagian hidupnya (Mzm 73:26). Pendeknya, alasan sukacita Habakuk terletak pada pengenalannya terhadap TUHAN. Ia mengakui TUHAN sebagai sumber keselamatan (ayat 17). Dalam PL, kata “keselamatan” merujuk pada keutuhan hidup, material maupun spiritual. Melalui ungkapan “Allah penyelamat” Habakuk ingin menyatakan bahwa seluruh hidupnya, tanpa terkecuali, dikuasai oleh Tuhan.

  2. Beria-ria di dalam Allah (Hab 3:18b)

    “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” 1Pet 4:12-13

    Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa penderitaan adalah bagian dari proses hidup kita, dan kita akan menerima bagian yang telah Tuhan sediakan bagi kita, jika kita bertahan sampai pada akhirnya. Oleh karena itu Rasul Paulus menasehatkan agar kita bersukacita di dalam apapun yang kita alami, supaya kita bisa terus bertahan sampai pada akhirnya. “Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.” Maz 68:4.

  3. Berharap kepada Tuhan (Hab 3:19a)

    “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya.” Maz 28:7a

    Tempatkan harapan kita kepada Tuhan, jadikan Tuhan kekuatan hidup kita. Ketika kita menghadapai suatu masalah, janganlah kita mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri. Gantungkan harapan kita kepada Tuhan. Serahkan apa yang menjadi masalah kita kepada Tuhan. Minta kekuatan dariNya, maka Dia akan memberikan kekuatan sehingga kita sanggup melalui setiap problema.

    Ia juga mengakui TUHAN sebagai sumber kekuatan (ayat 19a). Pengalaman pribadi ini dinyatakan melalui kata ganti milik “ku” (“TUHAN, Allah, adalah kekuatanku”). Habakuk menggambarkan pemberian kekuatan ini seperti kekuatan kaki belakang binatang [rusa] yang memang terkenal sangat cepat dan kuat ketika menaiki perbukitan terjal untuk membebaskan diri dari ancaman musuh yang mengejarnya (2Sam 22:34; Ul 32:13; Mzm 18:34.

    “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Kor 10:13; Yesaya 43:2; hab 3:19.