Ringkasan Khotbah

Sehubungan dengan kemerdekaan, dalam kekristenan kemerdekaan bukan berbicara seperti yang dialami Indonesia, tetapi dalam kekristenan kemerdekaan yang dimaksud, kemerdekaan yang mengubahkan pribadi seseorang. Maka dalam Firman Tuhan kali ini kita akan mempelajari tentang Kemerdekaan dalam Kristen. Melalui teks firman Tuhan Yohanes 8:30, kita akan mempelajari beberapa hal mengenai “Kemerdekaan Sejati”, Yaitu:

A. Hidup dalam Firman Allah

Perhatikan ayat 30, “Setelah Yesus mengatakan semuanya itu,” maksud disini setelah Yesus memberi pengajaran kepada orang banyak di bait Allah (band. Yoh. 8:2,12,21). Ada beberapa hal yang diajarkan Yesus dimulai dari pasal 8:2-29, dapat disimpulkan yaitu mengenai menghakimi, kesaksian Yesus, dan hubungannya Yesus dengan Bapa di Sorga. Kembali pada ayat 30 jelas sekali Yesus berbicara mengenai firman, karena Dia adalah firman itu sendiri yang menjadi manusia (Yoh. 1:1,14). Melalui perkataan Yesus, dikatakan ada banyak orang menjadi percaya kepada-Nya. Jadi dalam bagian ini orang percaya disini adalah mereka suatu saat, menjadi malas mendengar firman Allah, mundur dari pemahaman Alkitab, malas dari saat teduh, mundur dalam kegiatan ibadah, mundur dalam semangat melayani, mundur dalam ketaatan terhadap firman Tuhan. Maka tidak dipungkiri orang-orang seperti ini pada akhirnya mereka yang berteriak salibkan Yesus, mereka yang meludahi Yesus, menghina Yesus pada waktu Yesus kan disalibkan. “Percaya” di sini bukan berbicara sampai pada iman yang sejati, maka untuk mencapai itu setiap orang yang sudah percaya hendaknya tetap dalam firman Allah. “Tetap” menunjukkan mengerti/memahami, setia didalamnya, hidup yang sepadan/sesuai dengan firman, serta mengaplikasikan firman dalam hidupnya terus-menerus, maka orang yang hidup/sesuai dengan firman dia benar-benar disebut murid Kristus (band. Mat. 28:19). Tetap dalam firman Allah, belajar sungguh-sungguh, karena murid identik dengan belajar. Firman Tuhan bukan sekedar pengetahuan tetapi firman adalah makanan rohani, kebutuhan rohani.

Implikasinya seseorang yang mengatakan percaya tapi tidak hidup dalam firman, dia bukanlah murid Kristus. Sebagai murid Kristus, diberikan pengetahuan akan kebenaran, dan kebenaran itu memberi dampak kepada seseorang mengalami kemerdekaan yaitu dengan tetap dan setia belajar pada firman Allah sebaai kebutuhan hidup menghadapi tantangan pesoalan kehidupan, dan selalu kuat dan teguh menghadapinya.

Ayat 33 menunjukkan pemahaman orang Yahudi mengenai kemerdekaan khususnya ahli Taurat dan orang Farisi sangat dangkal, justru mereka bangga dengan keturunan secara fisik dari Abraham, ini yang disebut ekslusivisme salah pengertian. Pengertian ekslusivisme yang benar menurut Christ wright: Pandangan ini menyatakan bahwa, jika Yesus Kristus secara unik adalah kebenaran, dan satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia, itu berarti agama lain itu tidak merupakan jalan keselamatan.

Pengertian ekslusivisme yang salah dalam pemahaman Kristen yaitu yang ditulis dalam Wikipedia Encyclopedia: disebutkan bahwa pendekatan eksklusivisme menyatakan bahwa agama Kristen merupakan satu-satunya jalan keselamatan. Paham ini menjelaskan bahwa diluar kekristen-an tidak ada keselamatan. Pemahaman ini mirip dengan pemahaman orang Yahudi, sampai masa kini dan beberapa denominasi gereja mengadopsi pemahaman salah ini. Sebenarnya dalam bagian ini menunjukkan orang Kristen masa kini banyak yang hidup dalam keyakinan abu-abu bisa disebut keyakinan palsu (band. Mat. 3:7-10, Flp. 3:4-5).

Hal penting yang perlu kita pelajari disini, orang yang mengalami kemerdekaan sejati adalah orang yang percaya yang diwujudkan dengan kesetiaan dan taat serta lebih lagi mengisi hidupnya dengan Firman Allah dan hidup didalam Firman Allah.

B. Bebas dari Perhambaan Dosa

Yesus menjawab cara berpikir orang Yahudi dengan menyampaikan orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Berbuat dosa diartikan terus-menerus berbuat dosa, hidup dalam dosa (1Yoh. 3:6). Istilah “hamba dosa”, pada dasarnya ia tidak bisa berbuat baik, ia tidak bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik, dan karena ia hamba dosa atentunya akan selalu berbuat dosa (band. Kej. 6:5). Hal ini menunjukkan hidup dalam perhambaan dosa,melakukan dosa bukan karena terpaksa tapi memberi diri dengan sukarela/senang hati melakukan dosa. Maka konsep kemerdekaan dengan perhambaan dosa sangat bertentangan dengan konsep kebanyakan orang, yaitu anggapan bahwa mereka merasa merdeka jika bebas berbuat apa saja, Firman dan hukum merupakan belenggu hidup mereka. Ke gereja tiap minggu, pergi ibadah, persekuuan seolah-olah menjadi belenggu, sehingga tidak bisa menikmati hiburan dihari liburan. William Hendriksen: “One is free, therefore, not when he can do what he wishes to do but when he wishes to do and can do what he should do”. Karena itu, seseorang adalah bebas/merdeka bukan pada waktu ia bisa melakukan apa yang ia ingin lakukan, tetapi pada waktu ia ingin melakukan dan bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

Pada ayat 35 yang menyatakan status hamba dan anak, maksudnya disini orang yang adalah hamba dosa mempunyai tempat dalam ibadah selayaknya setiap orang Yahudi yang taat beribadah, tetapi sebetulnya walaupun mereka mengaku anak (keturunan Abraham) tetapi bagi Yesus mereka hamba, maka mereka tidak akan selama-lamanya bertahan dalam Rumah Allah, karena mereka ada dalam Rumah Allah hanya bersifat lahiriah saja, atau pemenuhan jasmani, tapi rohaninya keropos. Hal ini Yesus menyerang orang Yahudi yang dianggap Yesus sebagai hamba menikmati rumah hanya sementara. Sehubungan dengan kekristenan orang yang adalah hamba dosa bisa saja mempunyai atau hadir dalam gereja, tetapi karena mereka sesungguhnya bukan anak tetapi hamba maka mereka tidak akan selamanya berada dalam gereja. Melihat pada ayat 36, disini sungguh menunjukkan bahwa hanya Yesus satu-satunya yang bisa memerdekakan orang dari belenggu dosa.


Dari bagian firman ini kita mempelajari beberapa hal dari Kemerdekaan Sejati:

  1. Orang yang mengalami kemerdekaan sejati, ialah mereka yang percaya kepada Yesus dan hidup dalam kebenaran FirmanNya tidak menyimpang dan keluar dari firmanNya, dan tetap teguh setia kepada firmanNya dan hidup didalamNya.
  2. Orang yang merdeka adalah orang yang tidak hidup dalam perhambaan dosa/duniawi, tetapi hidup sebagai status anak-anak Allah, dapat membedakan baik dan jahat, bebas melakukan apa yang seharusnya dilakukan yaitu sesuai kehendak Tuhan.