Ringkasan Khotbah

Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga di anggap sebagai mitos belaka, dan sebagai cerita isapan jempol bapa-bapa gereja mula-mula. Bahkan banyak orang menggugat kebenaran ini. Apakah peristiwa ini kebetulan atau rekayasa atau memang fakta sejarah? Peristiwa ini di tulis oleh dokter Lukas (Lukas 24:50-52; KPR 1:6-11), dan Markus 16:19-20, adalah fakta sejarah.

Lalu apa dasarnya menerima dan mempercayai hari kenaikan tersebut? Sebenarnya, jika mau mempercayainya, ada satu bagian Alkitab yang sangat jelas menuliskan kisah tsb. Dokter Lukas dengan sangat jelas dan cukup detail menuliskan kisah tersebut pada volume kedua dari tulisannya, yaitu pada Kisah Para Rasul.

Berdasarkan kisah tersebut di atas, kita dapat belajar beberapa hal penting.

  1. Kenaikan Yesus menegaskan akan fakta kebangkitanNya.

    Dengan sangat jelas dokter Lukas menuliskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus tersebut merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitanNya. Hal itulah yang ditulisnya, menjadi latar belakang dari kisah kenaikan tersebut. Menarik sekali bagaimana dokter Lukas memulai kitab Kisah Para Rasul tsb. Dia menulis: “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat (1:1-2). Jadi, dokter Lukas tidak hanya menulis penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT. Dalam ayat berikutnya kita membaca bagaimana kisah kebangkitan Yesus merupakan satu fakta sejarah, dan bukan ilusi semata. Hal itu dengan jelas dinyatakan dengan pembuktian Yesus sendiri bahwa Dia hidup. Hal itu juga menjadi sorotan dokter Lukas, seolah-olah dia sedang mengantisipasi adanya orang-orang yang meragukan dan menolak kebangkitan tsb. “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia MEMBUKTIKAN, bahwa IA HIDUP.

    Ada pendapat mengatakan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah halusinasi pada murid-Nya.

    1. Tidak mungkin orang berhalusinasi secara beramai-ramai pada objek yang sama, tempatnya berbeda ada di jalan ke Emaus, di dalam ruangan, di danau Galilea.

    2. Halusinasi tidak mungkin terjadi dalam waktu yang lama. Berkumpul dalam ruangan dan sambil memakan ikan goreng, berkumpul di danau dan makan ikan bakar dan roti, atau terjadi berulang kali selama 40 hari, mereka selalu berkumpul untuk makan bersama. (Kisah 1:4).

    3. Halusinasi tidak mungkin terjadi kepada orang yang dengan sadar bisa menyentuh tubuh kebangkitan yang tidak mengalami kebinasaan.

    4. Kenaikan Yesus Kristus di proklamasikan oleh 2 orang Malaikat (9-10). Yesus lahir, waktu di cobai, waktu melayani, waktu bangkit, naik ke surga, datang dari surga. Saksi manusia dan saksi Malaikat. Dua kelompok ini adalah saksi yang benar dan cukup untuk fakta sejarah ini.

    Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke Sorga bukanlah halusinasi para murid Yesus, karena rentetan peristiwa penampakan Tuhan Yesus sampai kepada kebangkitan-NYa di saksikan oleh 500 orang sekaligus. (I Kor 15:6). Tuhan Yesus sudah tahu bahwa Iblis akan menggunakan segala kelicikannya dan kecerdasannya untuk mengaburkan berita ini, agar orang tidak mau percaya akan fakta sejarah kenaikan-Nya. Sehingga Tuhan Yesus harus menampakkan diri selama 40 hari dan dalam beberapa suasana tempat dan juga dalam kehadiran jumlah saksi yang berbeda pula. Ini menjadi pelajaran yang berharga bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa atas segala metode dan cara dan tidak terikat pada satu metode saja.

    Tuhan Yesus tidak membutuhkan pengakun dari Herodes, Pilatus, para Imam, orang Faris dan Yahudi yang terpandang. Tetapi Tuhan Yesus mempercayakan kesaksian ini untuk mereka yang dengan rendah hati mau percaya. Siapa mereka? Mereka adalah para murid. Kalau hari ini, kepada kita yang percaya kepada fakta ini.

  2. Kisah kenaikan menunjukkan betapa pentingnya tugas memberitakan Injil.

    Hal itu terlihat dengan sangat jelas di dalam cara dan metode penulisan Lukas. Di dalam ayat 9 kita membaca: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka”. Jadi, kita membaca bahwa Tuhan Yesus terangkat sesudah Ia mengatakan demikian: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi SAKSIKU (martures/marturia) di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dengan perkataan lain, pesan atau perintah terakhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus SEBELUM kenaikanNya ke surga adalah agar menjadi saksiNya. Hal itu dimulai dari tempat di mana mereka berada (Yerusalem), meluas ke seluruh propinsi (Yudea) hingga seluruh bumi. Penting untuk diamati bahwa kota Samaria, yang biasanya dihindari oleh orang-orang Yahudi juga disebut. Dengan demikian, tidak ada daerah atau kota di mana Injil tidak diberitakan. Jadi, dari hal di atas kita melihat bahwa penginjilan bukan sesuatu yang boleh ada atau tidak. Tugas memberitakan Injil diberikan oleh Yesus sebagai sebuah KEHARUSAN. Hal itu juga yang pernah ditegaskan Paulus. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor.9:16b).

    Kiranya kenyataan ini cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala teori dan usaha untuk mengurangi semangat kita untuk memberitakan Injil. Kiranya perintah Tuhan Yesus tsb yang diberikan PERSIS SEBELUM kenaikanNya ke surga kita nilai dan sikapi SEMAKIN SERIUS. Dengan demikian, dengan segala doa, dana dan daya, kita kerahkan untuk meresponi perintah tsb. Jika kita amati pasal-pasal berikutnya, memang kita melihat bagaimana rasul-rasul dan orang percaya sangat serius melakukan tugas penginjilan tsb. Karena itulah kita dapat membaca statistik Lukas mengenai pertumbuhan Gereja yang sedemikian pesat. Lukas memulai dengan 120 orang (Kis.1:15), selanjutnya sebagai hasil KKR (kebaktian kebanguna rohani) yang dipimpin rasul Petrus, jemaat menjadi 3000 (tiga ribu) jiwa (2:41). Jumlah tsb meningkat lagi secara tajam menjadi “kira-kira 5000 (lima ribu) orang LAKI-LAKI” (4:4). Jadi, jumlah besar tsb, belum termasuk perempuan. Pertumbuhan jemaat terus terjadi. Karena itu, rupanya, dokter Lukas kewalahan untuk memberikan statistik detail. Itulah sebabnya, jumlah angka yang jelas, terakhir kita temukan pada Kisah 4 tsb, di mana selanjutnya dokter Lukas menggunakan istilah “jumlah murid makin bertambah” (6:1)

    Selanjutnya, dari kisah tersebut di atas, kita perlu mewaspadai dua hal. Pertama, kita membaca satu PEERTANYAAN ANEH yang diberikan kepada Yesus. “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”. Pertanyaan tersebut diberikan bukan pada awal pelayanan Yesus, tetapi justru di akhir, yaitu pada saat-saat terakhir di mana kenaikan Yesus tinggal dalam hitungan detik. Apakah yang ada dalam pikiran orang banyak ketika itu? Soal pemulihan KERAJAAN ISRAEL! Bukan soal KERAJAAN ALLAH, sebagaimana hal itu terus menerus ditegaskan dan ditekankan Yesus selama sisa 40 (empat puluh) hari Dia tinggal di dunia. Sungguh menyedihkan. Dengan perkataan lain, orang yang berkumpul di situ hingga detik terakhir mereka bersama Yesus masih terus mener us berpusat kepada hal-hal duniawi, bukan kepada hal-hal surgawi. Itulah sebabnya kemudian Tuhan Yesus menegur mereka dan untuk saat terakhir kembali mengarahkan hati dan pikiran mereka kepada KERAJAAN ALLAH, yaitu untuk memberitakan Injil.

    Hal tersebut juga menjadi pelajaran dan koreksi bagi kita agar kita memeriksa diri kita masing-masing. Setelah kita mengenal Tuhan Yesus dan mendengar segala pengajaranNya, sejauh mana hati dan pikiran kita semakin menyatu dengan visi dan ambisi ilahi. Sejauh mana hati kita bersemangat serta berkobar-kobar dalam hal PENGGENAPAN KERAJAAN ALLAH tsb. Apakah doa, dana dan diri kita sudah semakin terpusat untuk hal tsb? Jika ternyata, kita masih memiliki ambisi2 duniawi bahkan semakin dikuasai oleh ambisi-ambisi demikian, biarlah kita dengan segera membuang dan meninggalkan itu dan dengan segala kerendahan hati memohon rahmatNya agar RohNya bekerja menguasai diri kita untuk hidup menjadi saksiNya.

    Hal kedua yang perlu kita waspadai adalah SIKAP ANEH yang ditunjukkan oleh umat di ayat 10. “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka”. Apa maksud ayat tsb? Di sana firman Tuhan mencatat bahwa mereka yang berkumpul ketika itu “sedang menatap ke langit” (kai hos atenizontes esan eis ton ouranon).

    Barangkali ada yang bertanya: “Apa salahnya menatap ke langit? Bukankah itu mencerminkan kekaguman mereka kepada Yesus, Tuhan mereka? Bukankah itu juga mencerminkan kerinduan mereka kepada Yesus, di mana mereka ingin terus bersama-sama dengan Tuhannya? Jika itu yang menjadi pertanyaan kita, maka ternyata hal itu adalah salah. Salah bukan menurut saya, tetapi menurut Tuhan. Setidaknya hal itu kita lihat dengan jelas dari kisah tsb. Kita melihat di sana bahwa Tuhan ‘terpaksa’ harus mengutus “dua orang yang berpakaian putih” untuk menegur mereka dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

    Sebenarnya, saya sependapat bahwa tidak salah mengagumi dan merindukan kebersamaan dengan Yesus. Saya justru melihat bahwa hal itu harus kita lakukan dan kita tumbuh kembangkan. Kita jangan menjadi orang yang cuek dan tidak perduli kepada Yesus yang telah sedemikian baik dan berbuat segalanya bagi kita. Jangan juga kita biarkan hati kita dingin dan membeku sehingga tidak bergairah dan tidak merindukan Yesus. Saya melihat bahwa yang menjadi masalah adalah ketika mereka terus menerus mengagumi dan merindukan Yesus dengan “menatap ke langit”, sedemikian rupa, sehingga mereka melupakan tugas yang telah diberikan kepada mereka, yaitu untuk pergi segera. Pergi bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk bersaksi bagi Dia, yang mereka kagumi tsb. Bersaksi untuk memberitakan KERAJAAN ALLAH di Yerusalem, seluruh Judea dan Samaria… sampai ke ujung bumi. Itulah sebabnya kedua orang utusan tsb harus turun dan ‘mengusir’ mereka dari bukit kemuliaan, yaitu tempat Yesus naik ke surga tsb.

    Jadi, ada dua hal yang harus kita waspadai. Pertama, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ duniawi, sehingga kita hanya memikirkan kerajaan duniawi, yaitu pemulihan ‘kerajaan-kerajaan’ kita. Terus berpikir dan bertanya tentang pekerjaan kita, business kita, sehingga kita lupa akan Kerajaan Allah. Kedua, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ rohani, dengan terus menerus memandang ke langit. Terus menerus beribadah, dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain; sedemikian rupa, sehingga kita melupakan tugas kita untuk bersaksi bagi dunia, untuk terlibat di dalam dunia, melakukan segala sesuatu secara kongkrit, demi pemulihan dunia ini.