Ringkasan Khotbah

Semua gereja pada dasarnya memiliki tugas untuk bersaksi atau disebut juga Marturia. Tapi seringkali gereja dalam menjalankan tugasnya kalah semangat dibanding ajaran sesat. Padahal kesaksian gereja, seharusnya lebih bersemangat karena didasarkan pada ajaran yang benar (Firman Tuhan) juga mengenai Allah yang Hidup dan Maha Kuasa.

Lebih jauh lagi, jika kesaksian dalam ajaran sesat menjadi syarat mutlak untuk masuk surga. Namun berbeda dengan kekristenan, motivasi bersaksi dalam kekristenan adalah untuk menyaksikan pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan setelah diselamatkan oleh Tuhan. Sehingga setiap orang yang belum mengenal Tuhan, dapat mengenal Tuhan dan diselamatkan.

Dalam teks bacaan kali ini, ada seorang gadis kecil yang bersaksi tentang kebesaran Tuhan.  Kesaksian gadis tersebut disampaikan kepada nyonya dari tuannya kemudian sampai kepada tuannya bahkan sampai kepada raja Aram. Pada akhirnya, kesaksian gadis kecil ini bukan hanya didengar oleh raja Aram tetapi juga dipercaya sehingga ia menuliskan surat kepada raja Israel, yaitu raja Yoram (lihat 2 Raja-raja 5 : 5). Dari bacaan kali ini, dapat dikatakan bahwa kebenaran kesaksian tidak diukur dari siapa yang menyampaikannya. Meskipun kesaksian ini disampaikan oleh gadis kecil, namun ketika Roh Kudus turut bekerja, kesaksian tersebut menjadi kebenaran.

Apabila kita memperhatikan bacaan ini lebih jauh lagi, melalui kesaksian gadis kecil ini terungkap beberapa hal tentang raja Israel dan raja Aram.

Hal yang pertama,

2 Raja-raja 5 : 7 reaksi raja Israel ketika menerima surat dari raja Aram adalah mengoyakkan pakaian. Bahkan ia menganggap bahwa raja Aram hendak mencari gara-gara dengannya, karena memang saat itu hubungan Aram dan Israel tidak harmonis. Melalui reaksinya ini, dapat dilihat bahwa mungkin ia melupakan pengalaman pribadinya dengan Tuhan yang Maha Besar. Ia lebih melihat kepada fenomena negatif dari raja Aram dan bukan kepada kesempatan untuk bersaksi tentang kehebatan Tuhan. Reaksi ini tentunya berbeda dengan gadis kecil yang menjadi tawanan panglima aram. Gadis kecil ini mengingat pengalamannya dengan Tuhan Maha Besar dan membagikannya kepada majikannya. Sehingga panglima Aram ini begitu menggebu-gebu dan menyampaikan maksudnya kepada raja Aram.

Implikasi bagi kita adalah jangan jadikan kekristenan (anugerah, penyertaan dan perlindungan) Tuhan sebagai hal yang biasa. Seringkali karena kita sudah menjadi kristen sejak lama atau bahkan sejak kecil, sehingga menjadikan kekristenan sebagai hal yang biasa. Berbeda dengan orang yang baru masuk kristen, biasanya mereka lebih menggebu-gebu. Mengapa demikian? Karena setia pengalaman mereka berjalan bersama dengan Tuhan, mereka saksikan kepada orang lain.

Hal yang kedua,

2 Raja-raja 5 : 11 reaksi panglima Aram, Naaman ketika nabi Allah yaitu Elisa menyuruh bujangnya untuk menyampaikan kepada Naaman bahwa ia harus membenamkan dirinya sebanyak tujuh kali ke dalam sungai Yordan. Mendengar hal tersebut, Naaman menjadi gusar, berpaling dan pergi dengan panas hati (lihat 2 Raja-raja 5 : 12). Melalui reaksinya ini, dapat dilihat bahwa sebelum ia bertemu dengan Elisa, ia sudah menentukan standar, metode atau cara untuk kesembuhannya itu sendiri sebagaimana dituliskan dalam ayat 11, ”Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!”

Implikasi bagi kita adalah Tuhan tidak selamanya bekerja sesuai dengan apa yang kita mau baik cara maupun metodenya. Justru kitalah yang harus terbuka terhadap cara Tuhan.

Hal yang ketiga,

2 Raja-raja 5 : 12 reaksi kesombongan yang ada pada diri Naaman. Ketika diminta membenamkan diri ke sungai Yordan, Naaman merasa dirinya cukup hebat sehingga seharusnya ada sungai yang lebih baik yang lebih layak untuknya.

Implikasi bagi kita adalah Tuhan lebih menginginkan kerendahan hati dan ketaatan, sarana tidak boleh dijadikan sebagai kultus.
Amin.