Ringkasan Khotbah

Komitmen merupakan sebuah keputusan yang di ambil untuk dijalani. Memang dalam kehidupan manusia tidak akan lepasa dari istilah komitmen. Dalam teks ini kita akan belajar dari seorang yang bernama Yehuda. Yehuda adalah anak ke 4 dari Yakub dan Lea. Yehuda adalah orang yang berjiwa dagang. Karena perihal penjualan Yusuf oleh kepada orang Ismael, terjadi atas usulan Yehuda. Supaya mereka terhindar dari hutang darah karena membunuh Yusuf yang adalah darah daging mereka sendiri. Yehuda terlibat dalam persekongkolan jahat itu.

22 tahun setelah peristiwa itu, Yusuf menjadi penguasa di Mesir. Yehuda dan saudara-saudaranya telah lupa dengan kejahatan yang mereka lakukan kepada Yusuf. Kelaparan berat melanda seluruh wilayah itu selama 7 tahun. Sehingga memaksa Yakub dan keluarganya untuk membeli bahan makanan di Mesir. Karena dikabarkan bagi mereka, di Mesir ada Makanan. Yehuda dan saudara-saudaranya terpaksa harus pergi membeli gandum di Mesir. Guna mempertahankan kelangsungan hidup keturunan Israel.

Perjalanan pertama mereka berhasil membawa pulang gandum belanjaan mereka. Meskipun didepan sang penguasa atas tanah mesir itu, mereka dibentak-bentak dan dicurigai sebagai mata-mata. Dengan perasaan takut dan cemas, Mereka dimintai informasi sampai kepada keluarga mereka. Terpaksa mereka menceritakan tentang keberadaan sang ayah yang telah lanjut usia dan adik mereka yang masi muda. Sang penguasa tanah mesir itu meminta agar sang adik mereka yang masih muda itu dibawah ke Mesir. Karena dia ingin melihat anak muda itu. Sebagai bayaranya, Simeon harus ditahan. Namun mereka tetap di ijinkan pulang oleh sang penguasa. Ironisnya didalam karung gandum mereka terdapat uang belanja yang masih utuh dalam kantong.

Mengetahui kenyataan itu, hati Yehuda dan saudara-saudaranya menjadi tak menentu. Yakub menasihati mereka untuk membawa uang bayaran dua kali lipat dari yang pertama. Kemudian menyuruh mereka kembali berbelanja ke Mesir setelah beberapa waktu. Berat bagi mereka untuk pergi karena mereka harus membawa Benyamin adik mereka. Yakub tidak mempercayai mereka lagi. Karena mereka telah menyebabkan Yusuf anak kesayangan sang ayah hilang. Yakub tidak mau hal itu terjadi kepada Benyamin. Ditengah keraguan sang Ayah, Yehuda memberanikan diri untuk bertanggungjawab atas nyawa adiknya. Maka sang ayah memberikan Benyamin kepada Yehuda untuk dibawa bertemu dengan si penguasa Mesir itu.

Anehnya, bagitu sampai di sana, mereka ternyata dilayani dengan baik oleh pembantu sang penguasa. Ketika mereka memberitahukan soal uang dahulu itu, dan bahwa sekarang mereka membawanya untuk juga beserta uang yang lain, pelayan itu justru tidak mempersoalkanya. Anak-anak Yakub semakin dibuatbkebingungan oleh perilaku pelayan itu. Bahkan dia berkata: “jangan takut, tenang saja”. Tapi bagaimana mungkin mereka tidak takut, semuanya masih misterius bagi mereka.

Namun ada tanda baiknya. Mereka bukan dibawah dalam ruang interogasi tapi dibawah ke rumah sang penguasa Mesir itu. Simeon dikeluarkan dari penjara dan mereka diberi air untuk membasuh kaki juga mereka di jamuh dengan makanan dan minuman. Tetapi yang membuat mereka heran, bahwa mereka duduk mulai dari yang tertua sampai yang termuda di meja makan itu. Mereka semakin kebingungan. Mengapa tidak? Ketika mereka sedang makan bersama sang penguasa Mesir yang cerdik itu, tampak ada keramahan dari bibirnya menanyakan: “apakah ayah mereka selamat?”

Setelah jamuan itu, anak-anak Yakub diperbolehkan pulang. Tentu semuanya bergirang hati karena ternyata penguasa yang ditakuti itu telah berbuat baik bagi mereka. Tidak mustahil bahwa perkara itu masih misterius bagi mereka. Terutama dalam pemikiran Yehuda. Kalau toh kita dibebaskan dengan cuma-cuma, mengapa Benyamin harus dibawa? Mengapa kepada Benyamin diberikan makanan 5 kali lipat lebih banyaknya? Namun walau telah memeras otak, rahasia itu tetap tidak terpecahkan oleh mereka. Mereka pun membiarkan saja, yang penting mereka sekarang sudah bebas tanpa kekurangan satu apapun.

Sambil berjalan mungkin mereka mulai tersenyum satu sama lain. Munkin juga diselingi obrolan ungkapan kegembiraan dan diantara mereka ada yang bernyanyi kecil. Karena Simeon dan Benyamin pun turut senang. Jika ada yang tidak bergembira mungkin itu adalah Ruben. Mengapa demikian? Karena Yehuda ternyata tanpa pengorbanan sedikit pun telah berhasil memenuhi janjinya dengan membawa pulang Benyamin dengan selamat. Bagaimana pun, nama Yehuda telah naik sedemikian hebat. Barangkali Ruben berpikir, seandainya ia berani berbicara seperti Yehuda, tentu dia akan mendapat penghormatan dimata ayahnya dan semua keluarganya. Setidaknya aibnya di masa lalu akan dilupakan ayahnya dan seluruh keluarganya.

Namun belum jauh dari pintu gerbang kota itu, pembantu sang penguasa itu sedang mengejar mereka. Piala sang penguasa yang biasa dipakai untuk minum dan menelaah itu hilang tanpa bekas. Merasa tidak ada yang mencuri piala itu, anak-anak Yakub begitu yakin bahwa piala itu tidak ada pada mereka. Dengan penuh percaya diri, anak-anak Yakub berkata: “Kepada siapa piala itu didapati, biarlah ia dihukum mati, dan kami semua biarlah menjadi budak tuanku”. Si pengejar itu mengatakan bahwa hanya pada orang yang didapati piala itu dijadikan budak. Mereka semua setuju.

Diperiksalah karungnya, mulai dari yang tertua hingga yang paling bungsu. Pemeriksaan yang berurutan itu menyebabkan anak-anak Yakub keheranan. Bagaimana mungkin orang itu dapat memeriksa secara terurut begitu? Setelah semua karung diperiksa, ternyata piala itu ada di karung Benyamin.

Bagai disambar petir disiang bolong. Sungguh hal yang tidak diduga oleh siapapun. Yehuda pasti yakin bahwa Benyamin tidak mungkin melakukan tindakan sebodoh itu. Pastilah itu terjadi karena kelengahan dan kehilapan pembantu penguasa itu. Namun yang ada di hati semua anak Yakub sekarang adalah keheranan bercampur kesesakan dan ketakutan.

Mungkin saja Yusuf ingin melihat reaksi dari saudara-saudaranya, siapa yang akan bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa Benyamin adiknya. Kegembiraan yang telah muncul beberapa waktu lalu, kini lenyap seketika. Ketakutan yang dasyat kembali menyelimuti anak-anak Yakub. Mungkin dalam situasi yang paling buruk ini, Ruben merasa untung karena telang mengurung niatnya menjadi penanggung terhadap keselamatan Benyamin. Meskipun ia tidak senang dengan keadaan itu, bagaimanapun tanggungjawab ada pada diri Yehuda.

Mereka dibawa kembali kerumah sang penguasa yang tampaknya baik namun licik dan kejam itu. Bisa dirasakan beta beratnya tekanan yang mereka hadapi. Ditengah suasana yang penat dan mencekam itu, Yehuda memberanikan diri berbicara dangan dasar iman. Yehuda menyadari perkara ini ada dalam pengetahuan dan kedaulatan Allah. Biarlah sang penguasa bertindak sesuai dengan kehendaknya.

Rupanya setiap komitmen diuji dengan perkara-perkara diluar perhitungan akal manusia sebelumnya. Yehuda telah berjanji kepada ayahnya dihadapan Tuhan, bahwa ia akan membawa Benyamin dengan selamat. Terlepas dari sikap Yusuf yang misterius itu, satu hal yang harus diingat bahwa Tuhan menghendaki agar komitmen ditaati sepenuhnya tanpa alasan embel-embel. Disitulah letak kedewasaan iman seseorang terlihat. Disini Yehuda memperlihatkan kedewasaan iman dengan cara yang hormat dan sopan. Yehuda berbicara kepada penguasa yang cerdik itu. Ia benar-benar membela adiknya Benyamin, yang keselamatanya telah ditanggung dihadapan ayahnya.

Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: “Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri…. Lalu tuanku berkata… : Bawalah dia ke mari kepadaku, supaya mataku memandang dia.Tetapi jawab kami kepada tuanku: Anak itu tidak dapat meninggalkan ayahnya, sebab jika ia meninggalkan ayahnya, tentulah ayah ini mati. . . . Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita. Tetapi hambamu ini telah menanggung anak itu terhadap ayahku dengan perkataan: Jika aku tidak membawanya kembali kepada bapa, maka akulah yang berdosa kepada bapa untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, baiklah hambamu ini tinggal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu, dan biarlah anak itu pulang bersama-sama dengan saudara-saudaranya. Sebab masakan aku pulang kepada ayahku, apabila anak itu tidak bersama-sama dengan aku? Aku tidak akan sanggup melihat nasib celaka yang akan menimpa ayahku.”

Dapat dibayangkan betapa heningnya suasana didalam ruangan itu ketika Yehuda sedang menuturkan pembelaan yang mengharukan itu. Wajah anak-anak Yakub pasti sangat tegang sementara menyaksikan sambil menantikan keputusan dari sang penguasa itu. Namun tidak ada waktu untuk berlama-lama menikmati tutur kata yang mengharukan itu dari saudara mereka yang selama ini hanya memikirkan untung rugi. Sebaba rasa takut dan tegang serta ketidakpastian menyelimuti hati nurani mereka.

Semua itu disampaikan Yehuda atas keyakinan akan kedaulatan Allah Yakub, Ishak dan Abraham dalam kehidupan mereka. Kata-kata yang dilontarkan tidak dengan nada tinggi itu telah menembuh bilik hati setiap orang yang ada dalam ruangan itu.

Alangkah mengejutkan, ternyata orang penguasa Mesir yang kejam itu paling terharu dengan pembelaan Yehuda yang penuh rasa tanggungjawab itu. Karena terdorong oleh rasa harunya yang amat dalam penguasa misterius itu tak kuasa menyembunyikan identitasnya. Penguasa itu berkata: “Akulah Yusuf saudaramu yang kamu jual itu!” Sunngguh hal yang tidak terduga oleh mereka.

Keberanian Yehuda membela Benyamin atas dasar iman itu, ternyata menyenangkan hati Yakub dan Allah. Yehuda bukan hanya sekedar berani mempertaruhkan nyawanya, melainkan juga setia terhadap janjinya. Orang yang demikian pantas mendapat hadiah dari Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “jika seseorang setia dalam perkara kecil, dia akan setia dalam perkara besar”. Maka kepada Yehuda Allah mempercayakan tampuk pemerintahan akan dipegang oleh Yehuda sampai selama-lamanya. Daud dan keturunanya dari suku Yehuda dan Yesus Kristus yang adalah Mesias anak Allah, Sang Penguasa Kekal lahir dari keturunan Yehuda.

Berbeda dengan Ruben, akibat dari dosanya, hak kesulunganya beralih kepada Yusuf. Sehingga Yusuf mendapat dua bagian dari suku Israel yakni Efraim dan Manasye. Hak pemerintahan berlih kepada Yehuda, sedangkan hak kepemilikan warisan jatuh ke keturunan Yusuf. Hal ini terjadi karena Ruben seorang pecundang dan pengecut.

Tuhan Yesus berkata: “orang yang mempunyai kepadanya akan ditambahkan, tetapi kepada orang yang tidak mempunyai, apa yang ada padanya pun akan diambil. Bagaimana dengan kita? Relakah kita diubahkan oleh Tuhan seperti Yehuda? Rela berkorban uang, tenaga, waktu, demi keselamatan jiwa banyak orang? Marilah kita serius dengan panggilan ini, komitmen kita. Jangan takut! Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi memberikan kekuatan kepada mereka yang bersungguh hati. 2 Tawarikh 16:9.