Pengkhotbah

Perikop
Matius 26:47-56

Ringkasan Khotbah

Dalam dunia ini setiap orang memiliki konsep nilai tertinggi yang berbeda-beda.  Seperti dapat kita lihat dalam Matius 26:47-56 yang walaupun bercerita tentang penangkapan Tuhan Yesus, akan tetapi dalam konteks ini kita pun dapat melihat dua kelompok orang dengan konsep nilai tertinggi yang berbeda, yaitu: 1) Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, 2) Tuhan Yesus.  Mengapa imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi ingin menangkap Yesus dan apakah nilai yang tertinggi dalam pelayanan mereka?  Lalu bagaimana dan apa bedanya dengan Tuhan Yesus?  Pelayanan yang dilakukan imam-imam kepala pada waktu itu menunjukkan bahwa bukan Allah yang menjadi nilai tertinggi dalam pelayanan mereka, tetapi diri mereka sendiri yang menjadi nilai tertinggi.

Mari kita lihat ordo penciptaan untuk memperjelas apa yang seharusnya menjadi konsep nilai tertinggi.  Ordo penciptaan dalam urutannya adalah Allah –> manusia –> alam.  Allah bersifat kekal adanya dan segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah, termasuk manusia dan alam.  Manusia memiliki awal tapi tidak berakhir (Pengkhotbah 3:11).  Manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah, dan dengan kata lain manusia itu diberi nilai oleh Allah.  Alam memiliki awal dan juga akhir, dan alam diberi nilai oleh manusia.  Bila kita teliti lagi ordo penciptaan ini maka seharusnya Allah yang harus menjadi nilai tertinggi.  Dan kalau bukan Allah yang menjadi nilai tertinggi, maka manusia atau bahkan alam yang akan menjadi nilai tertinggi.  Alkitab juga mencatat bahwa Ayub, dalam kemakmuran, berkat jasmani dan kesenangan hidup, tetap memuliakan dan mengutamakan Allah.  Allah sendiri yang menjadi konsep nilai tertinggi bagi Ayub, dan kondisi apapun juga tidak mengubah konsep nilai yang dimiliki Ayub.  Dia tidak menggunakan Allah sebagai sarana untuk kepentingan diri sendiri.

Tuhan Yesus juga memuliakan dan mengutamakan Allah Bapa dalam hidupnya bahkan Ia setia sampai kepada salib sebagai penebus dosa umat manusia.  Hal lain yang dapat kita lihat dalam diri Tuhan Yesus adalah bahwa Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (Mat. 26:50).  Orang yang menempatkan Allah sebagai nilai tertinggi dalam hidupnya harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai teladan (Filipi 1:21).