Ringkasan Khotbah

Sebagai orang percaya tentunya kita memperingati hari Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dan Pentakosta. Natal berbicara tentang berita keselamatan bagi dunia, Jumat Agung berbicara tentang berita pengampunan dosa, Paskah berbicara tentang berita pembenaran dari dosa. Sedangkan Pentakosta berbicara tentang berita turunnya Roh Kudus dan asal muasal sejarah berdirinya gereja. Mengapa demikian? Karena sejak hari Pentakosta, dengan pertolongan Roh Kudus murid-murid Yesus mulai bersaksi dan mengabarkan injil hingga tersebar ke seluruh dunia.

Ada beberapa cara yang dilakukan gereja-gereja untuk memperingati hari Pentakosta, antara lain:

  • Ada yang merayakan seperti peringatan sejarah gereja.
  • Ada yang merayakan seperti merayakan hari ulang tahun kedatangan Roh Kudus.
  • Ada yang merayakan setiap minggu, bahkan nama gereja pun mungkkin memakai nama Pentakosta.

Hal ini terjadi karena adanya perbedaan teologia atau cara menafsir arti Pentakosta. Sehingga kita perlu berhati-hati dan kembali kepada Firman Tuhan untuk mengetahui tentang bagaimana memperingati arti Pentakosta pada masa kini. Dan bukan berdasar pada teologia suatu gereja.

Apa arti Pentakosta pada masa kini?

1. Lukas 24 : 47-49 menuliskan ”dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” (ayat 47) Melalui ayat ini kita diingatkan, arti Pentakosta yaitu berita pertobatan dan pengampunan harus disampaikan. Berita ini sudah dimulai oleh murid-murid Tuhan Yesus ketika mereka dipenuhi Roh Kudus dan disampaikan ke segala bangsa. Dan akhirnya adalah tugas setiap orang percaya sebagai gereja untuk melanjutkan inti dari injil tersebut. (lihat Kisah Para Rasul 1 : 8)

2. Kisah Para Rasul 2 : 2-3 menuliskan ”Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” Kata ‘tiupan angin’ menandakan bahwa murid-murid perlu bergerak untuk mengabarkan injil. Kata ‘lidah’ menandakan bahwa murid-murid perlu bersaksi dan berkata-kata. Melalui ayat ini kita diingatkan, arti Pentakosta yaitu sebagai orang percaya kita perlu bergerak, bersaksi dan berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. (Kisah Para Rasul 2 : 11b).

3. Kisah Para Rasul 2 : 16-17 menuliskan ”tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel. Akan terjadi pada hari-hari terakhir demikianlah firman Allah bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.” Ayat ini diucapkan Rasul Petrus mengutip dari Yoel 2 : 28-32. Ayat ini menjadi bukti bahwa nubuatan yang disampaikan oleh nabi Yoel terjadi. Namun demikian, jika memperhatikan lebih jauh isi kedua ayat tersebut ada sedikit perbedaan antara kutipan Rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul dan Kitab Yoel. Perbedaan itu dapat dijabarkan menjadi lima bagian.

  1. Kisah Para Rasul 2 : 17 menuliskan ‘hari-hari terakhir’ (majemuk) sedangkan pada kitab Yoel tertulis ‘hari Tuhan’ (tunggal). Hari-hari terkahir menunjukkan masa berakhirnya perjanjian lama sampai menunju kepada hari terakhir (hari Tuhan). Sedangkan hari Tuhan hanya terjadi satu kali yaitu hari kesudahan ketika Tuhan Yesus datang kedua kali.
  2. Kisah Para Rasul 2 : 17 menuliskan ‘demikianlah Firman Allah’ sedangkan pada kitab Yoel tidak dituliskan. Jika pada perjanjian lama, setiap nubuatan disampaikan Allah melalui nabiNya. Namun pada saat ini, setiap kitab yang tertulis di dalam Alkitab dan dituliskan dengan pimpinan Roh Kudus menjadi Firman Allah.
  3. Kisah Para Rasul 2 : 18 menuliskan ‘hamba-hamba-Ku’ sedangkan dalam kitab Yoel hanya ‘hamba-hambamu’. Kata hamba-Ku hendak menunjukkan bahwa setiap orang yang dipilih oleh Allah, bertobat, diampuni dosanya dan dicurahkan Roh Kudus.
  4. Kisah Para Rasul 2 menuliskan kata ‘bernubuat’ sebanyak 2 kali yaitu pada ayat 17b dan 18 akhir. Sedangkan pada kitab Yoel hanya satu kali. Artinya setelah dicurahkan Roh Kudus juga perlu bernubuat. Namun bernubuat ini perlu berhati-hati dan dasarnya adalah kembali memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah yaitu salib, kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus.
  5. Kisah Para Rasul 2 : 19 menuliskan kata ‘mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi. Sedangkan pada kitab Yoel kata diatas dan dibawah tidak dituliskan. Petrus hendak menambahkan bahwa mujizat adalah tanda sebelum datangnya hari terakhir. Selain itu, masa sejak dicurahkannya Roh Kudus hingga hari terakhir adalah masa anugerah dimana injil dapat disampaikan ke segala bangsa.

Lima perbedaan tersebut menunjukan arti Pentakosta yaitu hari pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada hari-hari terakhir dan dicurahkan Allah untuk membantu setiap orang percaya untuk menerangkan dan menunjukkan kebenaran tentang Firman Tuhan.

Selamat merayakan hari Pentakosta! Amin.