Ringkasan Khotbah

Sementara berbaring dalam selnya sebagai tahanan, rasul Paulus ,masih terus memikirkan masa depan Injil. Kali ini ia merenungkan kejahatan waktu. Kali ini ia merenungkan watak Timotius yang kurang yakin pada diri sendiri . Timotius begitu lemah padahal lawannya begitu kuat. Kelihatannya tidak wajar bahwa orang seperti dia terpanggil untuk berjuang bagi kebenaran dalam keadaan seperti itu. Justru Paulus mulai memberikan gambaran yang hidup tentang keadaan pada waktu Itu. Dan dengan latar belakang ini ia memanggil Timotius – kendati hampir dimana-mana orang ramai-ramai meninggalkan Allah dan kendari kelemahan temperamennya sendiri – untuk tetap setia kepada apa yang dipelajarinya dari Paulus.

Bagaimana keadaan pada akhir zaman?

I. Hari-Hari Terakhir (Ayat 1)

Ketika Rasul Paulus memaparkan bagian ini kepada anak rohaninya Timotius, ini terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu. Paulus menggunakan istilah “hari-hari terakhir. Paulus sedang menunjuk pada rentan waktu antara kedatangan Tuhan Yesus yang pertama dangan kedatangan yang ke dua. Timotius, Paulus dan kita berada pada rentang waktu itu.

Pada bagian ini dikemukakan tentang suatu masa yang sulit (sukar). Dalam bahasa Yunani kata sifat χαλεπος – khalepos pada dasarnya berarti ‘sukar’ atau ‘berat’, yang dalamnya terkandung pengertian ‘berat untuk dipikul’ (kesakitan fisik atau mental), atau juga ‘berat untuk dihadapi, ganas, berbahaya’, ‘penuh ancaman’. Dalam bahasa Yunani klasik kata itu dipakai untuk binatang buas yang berbahaya dan untuk laut yang sedang mengamuk. Hanya satu kali lagi saja kata itu dipakai dalam Perjanjian Baru (PB), yaitu dalam cerita tentang orang Gadara, yang dirasuk setan yang buas dan tidak terjinakkan seperti binatang liar, dan yang dilukiskan Matius sebagai ‘yang sangat berbahaya (χαλεπος – khalepos), sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu (lihat Matius 8:28). Ini memberikan kita sedikit gambaran tentang masa-masa suram yang akan dihadapi gereja pada hari-hari terakhir. Masa itu akan penuh penderitaan dan marabahaya, berat untuk ditanggung dan sukar ditanggulangi.

Paulus melanjutkannya dengan segera menguraikan kepada kita mengapa demikian manusia akan penting kita sadari manusialah yang bertanggung-jawab atas masa penuh ancaman yang ahrus ditanggung gereja, yaitu orang-orang yang telah terjatuh ke dalam dosa, yang jahat, yang tabiatnya sudah bejat, yang perilakunya berpusat pada kepentingan diri sendiri dan tidak takut akan Allah, yang akal budinya memusuhi Allah dan hukumNya (bandingkan Roma 8:7), dan yang menyebarkan kejahatan, kemurtadan (menentang Allah).

Pertama, kita hidup pada hari-hari terakhir, demikian katanya : Kistuslah yang telah membawanya dengan kedatanganNya. Kedua, hari-hari ini mencakup masa-masa penuh bahaya dan ketegangan. Ketiga, masa-masa bahaya dan ketegangan itu adalah ulah manusia jahat. Keempat, kita harus menyadari ini, mencamkan dalam hati, dan dengan demikian bersiap-siap.

II. Pemerosotan Moral (Ayat 2-7)

Paulus membukakan keadaan manusia di akhir zaman, diamana manusia mengalami penurunan kualitas moral dalam kehidupan, manusia mengalami dekadensi moral yang sangat mengerihkan, kemerosotan sangat mencengangkan menyebabkan hal-hal semakin hari tampak semakin jahat. Dan memang itu fakta yang kita baca dalam Alkitab. Tetapi itu juga fakta yang terjadi disekitar kita. Artinya Alkitab tidak meleset ketika membicarakan apa yang kelak akan terjadi. Sekalipun Alkitab dibicarakan atau di tuliskan 2000 tahun yang silam.

Karena itu apa yang dikatakan Alkitab bukan sebuah prediksi ataupun ramalam tetapi sungguh-sungguh menjadi sebuah penggambaran tentang kebenaran yang Allah katakan kepada manusia. Sehingga Allah Sang Penguasa dunia dan Pencipta dunia mengatakan kebenaran maka kebenaran itu tidak ditelan waktu, tetapi justru akan nyata di dalam waktu. Tidak terbantah oleh penjelasan waktu.

Dalam kenyataanya hidup makin hari makin sukar. Jadi moralitas yang mengalami dekadensi yang sangat mengerikan, kemerosotan yang sangat menakutkan. Sehingga ini menjadi sesuatu tungkikan-tungkikan yang sangat tajam menungkik kebawah menuju kepada kehancuran.

Contoh:
Kalau dulu dengan tegas orang berkata: “homo itu dosa”. Sekarang tidak lagi karena sudah diangap biasa. Maka orang akan berkata: “orang kan tidak ingin menjadi homo, jadi bukan dosa”. Kalau dulu gereja tegas-tegas menolak sekarang kompromi. Bahkan akhirnya gereja menyetujui bahkan memberkati. Ironis bukan?

Kalau dulu kawin cerai dianggap sesuatu yang tidak baik. Sekarang dianggap lumrah. Maka ini menjadi suatu fakta-fakta yang sangat menyedihkan didalam kehidupan. Dimana kemudian orang Dengan toleransi yang sangat tinggi akibatnya kompromi yang sangat menakutkan. Orang akan berkata: “Boleh-Boleh saja itu tergantung dia”. Disana relatifisme sudah menghantam. Maka terjadilah pemerosotan yang sangat mengerihkan terhadap moral.

Sehingga sekarang kalau pendeta khotbah keras misalnya. Orang bilang keras. Ada yang bilang kalau khotbahnya terlalu keras. Kadang bingung juga keras dimanya? Tetapi saudaraku sejatinya ketika kita lihat sejarah dan perkembangan filsafat dunia, maka kita akan mendapati dunia sedang berubah. Khotbah saya nda ada yang keras, hanya sesuai Alkitab. Tetapi peta kehidupan kita memang berubah. Dulu kita yang tegas skrang kompromi. Dulu kalau anak kuang ajar sama orang tua langsung dipukul; skarang kan tidak. Dulu anak kalau kurang ajar sama orang tua kan jahat sekali itu, sekarang kan banyak. Bahkan jadi candaan kadang-kadang.

Jadi ada yang berubah dari jaman orang tua kita ke jaman sekarang. Yang berubah kita, bukan kebenaranya. Sehingga kebenaran yang dulu tegas dan jelas, yang bisa di terima orang dalam kualitas hidup di masa lalu, masa sekarang orang tidak bisa terima. Karena dianggap menjadi sesuatu yang menghambat kiri dan kanan. Padahal memang harus begitu. Mana boleh firman di kurangi. Tetapi sebaliknya tidak boleh ditambahkan. Katakan saja apa adanya.

Apakah saya tidak sadar? Justru saya sadar dan mengerti. Karena itulah saya harus terus meneriakkan kebanaran walaupun konsekwensinya, resikonya berat, sulit, tidak sederhana. Tetapi saya tidak boleh kompromi, menjadi penipu. Kalau saya berkata benar bukan berarti saya manusia super benar, tidak. Saya juga punya dosa. Saya pun harus menghantam diri saya sendiri. Khotbah saya pun harus mengkoreksi diri saya sendiri. Dan saya bertanding dalam hidup ini. Untuk dilihat diamati dan di cermati. Karena orang Kristen dipanggil memang seperti itu. Dikatakan kita menjadi garam dan terang dunia. Tidak ada orang menaruh pelita di bawa gantang, tetapi diatas kaki dian untuk menerangi semua orang.

Keadaan dunia ini memang semakin sukar. Karena saya juga merasa semakin sulit kita berbicara benar. Karena dianggap keras terlalu ekstrim dan seterusnya. Berat. Dulu anak cuma diteriakin oleh orang tuanya: “stop”! Sekarang Anak bukan hanya Membantah tetapi melawan. Pernahkah anda berpikir tentang ini saudara? Kita sudah terlalu biasa mendengar kata-kata yang kompromi. Sampai kata-kata tegas kita tidak lagi suka. Lalu kita menganggap itu salah pada hal, yang salah adalah kita. Daya terima kita, daya tampung kita yang bermasalah.

Contoh: Grendel pintu ke lantai. Saat pertama di pasang akan mudah kita menguncinya. Tetapi lama kelamaan akan sulit. Jangan kita berpikir untuk mengganti Grendelnya. Tetapi periksalah lubang yang dilantai itu karena sudah banyak masuk debu, sehingga tertutup lubangnya.

Kadang kita seperti grendel pintu tadi, kita yang berubah kita katakan kebenaran terlalu keras. Bukan kebenaranya Alkitabnya yang diganti tetapi kitanya yang harus berubah. Hidup memang semakin sulit, Menyatakan kebenaran semakin berat. Karena kita sudah terbiasa dengan basa basi. Sehingga kebenaran pun dibuat basa basi dan lelucon. Lebih banyak yang tidak menyukai dari pada yang menyaukai. Sehingga kata-kata langsung dianggap tidak bermartabat, tidak santun.

Contoh: kalau orang ditegus salah. Kalau dulu ditegur orang menunduk, Tetapi sekarang melotot! Bahkan ada yang berkata: “memang saya salah pak, tapi caranya negurnya dong jangan begitu!” Udah tahu salah mesan lagi cara negurnya. Bukanya menyadari tetapi meributkan cara. Anehkan? Tetapi itu kenyataan. Inilah kehidupan.m

Betapa sukarnya saudaraku menegakkan Nilai kebenaran itu. Ini ralitanya. Kehidupan yang sukar itu menjadikan manusia sulit menegakkan nilai kebenaran Kristiani karena diperhadapkan dengan dekadensi moral yang sangat merosot tajam. Karena mereka lebih menuruti hawa nafsunya dari pada menuruti Allah.

Namun kita akan kelihatan aneh oleh dunia ini karena masih ada orang seperti anda yang mau terus berpegang pada kebenaran Injil dan nilai-nilainya. Sehingga tidak heran banyak orang mulai memodifikasi kebenaran injil agar bisa diterima secara akali, maka muncullah Sincetisme. Tetapi marilah kita bertanding, bertarung dalam nilai kebenaran yang sejati.

Akhirnya agama supaya bisa diterima, apa yang dilakukan? Yaitu mencocok-cocokkan diri, pendapatnya, ajaranya dengan dunia. Supaya agama tidak di tolak maka penawaran adalah kamu adalah apa yang kamu mau, kamu bisa jadi anak Tuhan, karena kamu anak Tuhan maka apa yang kamu inginkan pasti kamu bis dapatkan. Itulah manusiawi kita yang serakah dan mau menang sendiri.

Jadi tidak lagi khotbah sangkal diri, pikul salib, ikut Yesus. Ajaran model begini tidak laku. Orang akan mual-mual mendengarnya. Tuhan Yesus katakan: “serigala mempunya liang, burung mempunyai sarang, tetapi anak Manusia tidak mempunyai temapat untuk meletakkan kepalanNya.”

Ayolah saudaraku. Kalau kita mau jujur, marilah kita menjaga nilai-nilai Injil tetap hidup didalam kita. Saya pun terus berjuang menjaga nilai itu tetap didalam hidup saya.

III. Tugas Orang Percaya

Mengapa Kemerosoran moral yang sangat mencengangkan bisa terjadi? Karena banyaknya filosofi atau filsafat itu yang datang menghantam nilai-nilai. Misanya: Relatifisme, nihilisme, materialisme dan post medernisme. Sadar atau tidak sadar kita sudah diracuni oleh berbagai filsafat itu. Ironisnya lebih banyak yang tidak sadar. Sehingga ia harus mencari kebenaran dan memakinya dalam kehidupanya.

Bahaya ini tidak hanya terjadi di luar gereja, tetapi juga di dalam gereja. Bahkan ada orang giat mencari pengikutnya. Bukan giat untuk membawa orang mengenal Kristus tetapi giat untuk mencari pengikutnya sendiri. Ayat 5, secara lahiriah mereka menjalankan ibadahnya, namun pada hakekatnya tidak demikian. Mereka menjerat orang-orang yang lemah, dikuasai nafsu, yang walaupun sering diajar namun tidak pernah mengenal kebenaran. Orang-orang yang seperti ini akan lebih mudah di tipu oleh orang-orang yang mengatasnamakan diri orang rohani.

Bahaya ini ada disekitar kita, marilah kita jeli melihat dan hidup dengan sadar. Hanya ada satu cara bagaiman kita bisa melewati masa yang berbahaya bagi keselamatan kita, keluarga kita, persekutuan kita, dan gereja kita. Yaitu hidup dipimpin oleh roh sehingga kita bisa memproduksi buah-buah roh dalam zaman yang jahat ini.