Pengkhotbah

Perikop
Ayub 1:1-12

Ringkasan Khotbah

Alkitab mencatat tentang Ayub sebagai seorang yang takut akan Allah (Ayub 1:1), ia adalah seorang manusia yang memiliki kesadaran yang tinggi akan keberadaan dirinya sebagai ciptaan dan dengan begitu ada Sang Pencipta di luar dirinya yang patut dihormati.  Inilah karakter dari manusia sejati sebagai ciptaan di hadapan Allah.  Hal pertama yang harus disadari seorang manusia adalah dirinya merupakan ciptaan.  Kesadaran ini akan menolong seseorang memahami peran-nya di hadapan Sang Pencipta.

Mari kita juga melihat beberapa kategori manusia sejati dalam Ayub 1 ini:

  1. Saleh (kesucian yang sempurna).    Pengakuan akan kesalehan Ayub ini berasal dari Allah sendiri.  Kesempurnaan yang dimiliki Ayub bukan karena Ayub adalah manusia yang tidak berdosa.  Ayub juga manusia berdosa, tetapi mengapa Allah menyebut Ayub sebagai manusia sempurna?  kata sempurna ini dalam bahasa Ibrani berasal dari kata “TAM” artinya “taat beribadah”.   Ayub adalah orang yang saleh (taat beribadah).  Dalam Ayub 1:5 dapat kita perhatikan kesalehan Ayub, bahkan ia pun tidak lalai mendidik anak-anaknya dalam hal rohani untuk takut akan Allah.  Ayub benar-benar mau mendidik anaknya supaya pengenalan dirinya akan Allah juga dimiliki oleh anak-anaknya.  Ini dapat menjadi contoh bagi para orang tua masa kini dalam hal mendidik anak.
  2. Jujur.  Dalam bahasa Ibrani dipakai kata “YASYAR” = tulus, lurus, jujur, benar.   Dalam Ayub 1:1 disebutkan bahwa Ayub adalah orang yang jujur.  Ayub tidak takut kalau konsekuensi dari kejujurannya akan membawa dirinya kepada kematian.  Dia tetap berdiri kokoh dalam kejujurannya di hadapan Allah.  Ayub lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia yang sama-sama adalah ciptaan.  (lihat Matius 10:28)
  3. Takut akan Allah.  Dalam bahasa Ibrani digunakan istilah “YARE” = gentar, takut, hormat.  Ini menunjuk kepada keadaan sikap hormat dan gentar hanya kepada Allah.  Dalam segala yang ada di dunia ini hanya Allah yang patut ditakuti (lihat Wahyu 21:8, Yakobus 4:7).    Ayub tidak takut kepada Iblis, kematian, kemiskinan, kabar celaka.  Walau semuanya diambil darinya, anak-anaknya lenyap binasa, ia tidak mempersalahkan Allah.
  4. Menjauhi kejahatan.  Dalam bahasa Ibrani digunakan istilah “We Saar” = menjauhkan diri dari.  Dalam Ayub 42:5 disebutkan bahwa hanya dari kata orang saja ia mendengar tentang Allah, walaupun begitu ia tetap setia, taat dan menghormati Allah, bahkan tujuannya hanya satu yaitu menyenangkan Allah saja.  Kesabaran dan ketekunan Ayub ini pun tetap dikenang sampai sekarang (lihat Yakobus 5:11).

Mungkin ada keraguan tentang kenyataan mengapa orang saleh dan takut Allah, yang seharusnya diberkati Allah,  malah menderita seperti Ayub?  Kekristenan adalah mempersiapkan suatu umat bagi Allah sebagai rancangan Allah semula yaitu manusia yang serupa dan segambar dengan Allah atau Kristus.  Oleh sebab itu dikatakan “Kerajaan Sorga” bukanlah hal makan atau minum, bukan soal fasilitas dunia. 

Hati Ayub melekat kepada Allah.  Buktinya adalah walaupun semua kekayaan, ternak, anak-anak dan istrinya lenyap dalam sekejap, ia tidak menjadi gila.  Ia tetap tekun bersandar kepada Allah dan tidak berbuat dosa.  Allah yang penuh belas kasihan dan rahmat akhirnya memulihkan kehidupan Ayub (lihat Ayub 42:5).  Untuk itu kita pun jangan puas hanya kepada pemulihan kehidupan dunia ini yang hanya bersifat sementara, tetapi mari kita cari pemulihan rohani yang bernilai kekal.  Marilah kita bergairah untuk terus mencari hadirat Tuhan, menjadi orang saleh, jujur, menghormati Allah dan berjalan dalam jalan Tuhan.