Pengkhotbah

Perikop
Efesus 2:10

Ringkasan Khotbah

Mengapa kita perlu berbuat baik? (lanjutan)

3. Karena kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik. Berbeda dengan agama lain yang menempatkan perbuatan baik dahulu, baru dapat diselamatkan.

Lalu apa yang menunjukkan kepastian keselamatan nyata dalam hidup kita? Yaitu ketika kita mengaku “Yesus mati di kayu salib dan kematianNya adalah untukku.” Kualitas pengampunan Yesus bagi kita utuh! Mencakup dosa masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Inilah yang menjawab pertanyaan “ketika seseorang mati dalam keadaan berbuat dosa, apakah ia diselamatkan?” Jabawannya “Ya”.

Dosa itu pasif, tidak ada seorangpun yang suci. Meskipun tidak berbuat dosa (atau secara aktif berbuat), tetapi dosa itu sudah ada di dalam diri manusia, itulah mengapa disebut dosa itu pasif.

Masuk surga bukan karena kita kudus, tetapi karena Yesus sudah mengampuni dosa kita secara utuh! Namun orang yang berpikir untuk melakukan dosa secara bebas dengan alasan ia sudah percaya, justru sebenarnya ialah yang belum diselamatkan. Konsep keselamatannya salah. Orang yang sebelumnya sangat enjoy dengan dosanya, ketika diselamatkan akan merasa jijik dengan dosa.

4. Tujuan melakukan perbuatan baik bukanlah untuk mendapatkan perbuatan baik, tetapi biarlah semua dikembalikan kepada Tuhan, Sang sumber segala perbuatan baik. Kalau begitu, apakah hukum tabur tuai itu konsep yang salah? Ketika kita berbuat baik, kita tentu akan menuai perbuatan baik juga bukan? Tidak, hukum tabur tuai adalah hukum pembelajaran, bukan hukum sebab-akibat.

Oleh karena itu, janganlah hendaknya kita mengharapkan orang membalas kebaikan kita. Kerjakan kebaikan tanpa pamrih, dan hendaklah semuanya itu dilakukan untuk memuliakan Tuhan.

 

dirangkum oleh,

Ferty Yolanda Simatupang