Ringkasan Khotbah

Terkadang kita bingung dan resah berusaha mau memberikan sesuatu yang berharga di hadapan Tuhan & berusaha memberikan yg terbaik tapi ragu-ragu bahkan ada yang tidak tahu. Dalam perenungan kita kali ini kita akan memusatkan pikiran kepada teks ini di bawah satu tema “Bagaimana memberikan yang terbaik bagi Tuhan?”.

1) Memiliki motivasi yang murni

Dalam peristiwa ini Yesus berkunjung ke tempat Lazarus yang pada pasal 11 di bangkitkan oleh Yesus dari kematian. Yesus bersama para murid pun makan bersama di tempat Lazarus dimana ada 2 saudara Lazarus yang melayani mereka. Tetapi di tengah persekutuan mereka saat itu ada satu peristiwa yang sangat menakjubkan yang patutu kita perhatiakn dimana dari sikap Mari ini kita dapat mengambil pelajaran penting dalam kehidupan kita mengikut Tuhan. Mari kita perhatikan satu persatu.

Kalau kita melihat media yang digunakan oleh Maria untuk mengurapi Yesus yaitu menggunakan minyak narwastu, yang berasal dari sejenis rerumputan yang hanya tumbuh di daerah pegunungan Himalaya (India), minyak ini dikatakan sangat mahal di wilayah Palestina (Betania ± 2 mil dari Yerusalem) dan wangi, biasanya pada masa itu digunakan sebagai:

  • sebagai minyak wangi bagi wanita-2 kaya/pejabat (karena mahalnya), wanita masa itu menggunakannya saat dia menikah.
  • di pakai juga sebagai campuran anggur agar anggur tersebut menjadi wangi yang biasanya di sajikan untuk tamu agung
  • juga biasanya juga digunakan untuk meminyaki orang mati.

Dalam teks yg kit abaca ini juga dikatakan pada ayat 3 bahwa minyak yang dipakai Maria ialah minyak narwastu yang murni, “murni” disini dalam bahasa aslinya menggunakan kasus genetif feminim tunggal. Genetif disini bukan hanya menyatakan kepemilikan namun memiliki arti yang lebih luas lagi yaitu, menyatakan arti jenis, macam. Jadi kata “murni” disini mengarah kepada suatu pengertian: asli, sejati, / tidak bercampur / campuran.

Nah saudara dari apa yang di perbuat & diberikan oleh Maria ini kita melihat, bahwa Maria memberikan sesuatu yang terbaik, (bukan harus mahal) melainkan sesuatu yg berharga (murni) sebagai cintanya kepada Yesus dan dengan didorong motivasi yang murni (kasih kepada Yesus) yg sudah terlebih dahulu mengasihi manusia yg berdosa & mau datang ke dunia. dan tidak memiliki campuran apa-apa dibalik semua itu, dan dia melakukan hal tersebut bukan hanya sekedar basa-basi/balas budi karena Lazarus di bangkitkan Yesus, semua itu dia lakukan dengan tulus ikhlas dan motivasi yg murni hendak menyenangkan hati Tuhan.

Hal ini pun tidak dilakukannya untuk mendapat simpati atau pujian dari pada murid-murid tetapi sungguh-sungguh memiliki motivasi yang murni yaitu, mengasihi Yesus.

Bandingkan dengan Yudas yang kalau kita lihat pada ayat, (5), disitu dia seolah-olah memiliki jiwa sosial yang tinggi dengan memperhatikan nasib orang-orang miskin tetapi sebetulnya hanya merupakan kedok/topeng belaka agar dia dapat melakukan kebiasaannya, yaitu pencuri.

Aplikasi
Dalam mengikut Tuhan apakah sudah kita memberikan yg terbaik dalam kehidupan kita, jika sudah apakah dalam memberikan yg terbaik itu kita juga di sertai dengan motivasi yg murni yaitu kasih kepada Tuhan sehingga kita siap mengasihi Tuhan dengan tulus ikhlas seperti Tuhan mengasihi kita yg berdosa dengan tulus dan kasih agape, yg sering di sebut secara sederhana dengan kasih “walaupun”.

Dan jika saat ini kita sudah melayani Tuhan, apakah dalam pelayanan kita itu kita sudah betul-betul memiliki motivasi yang murni, di dorong oleh kasih Allah pada kita atau di dorong keadaan, di dorong situasi, didorong suami atau istri/pacar atau bahkan teman? atau hanya karena dorongan motivasi untuk mendapatkan kepujian/kebanggaan pribadi dan menyenangkan emosi & egoisme kita?

Mari saat ini kita (saudara & saya) selalu memberikan yang terbaik bagi Tuhan itu harus disertai dengan motivasi yang murni.

2) Tidak menghitung untung atau rugi

Kalau kita melihat ½ kati disini sama sama dengan 1 pon atau setara dengan ½ kg, dalam teks ini juga dikatakan bahwa harganya 300 dinar yang pada waktu itu merupakan gaji pekerja selama 1 th, 300 dinar itu setara dengan $ 55 x 12.000 = 660.000 s/d $ 60 x 12.000 = 720.000 dengan kurs 12.000 saat ini, harga yang sangat mahal sekali waktu itu (wajarlah ayat 3 menyatakannya dengan gamblang mahalnya).
Namun kalau kita perhatikan dalam ayat ini Maria sama sekali tidak merasa rugi akan hal itu, bahkan dia tidak sempat berpikir sayang, untung /rugi dan membiarkan dirinya untuk sempat berpikir. Walaupun mungkin untuk mendapatkan ½ kati minyak Narwastu yg murni itu berarti ia harus membuang gaji yg di kumpulkannya nya bekerja selama 1 tahun untuk di habiskan selama beberapa menit saja saat mengurapi Yesus.

Dan yang paling menarik dalam ayat 3 ini Yohanes menggunakan kata “mengambil“/took: yang dalam bahasa aslinya mengandung arti, meraih sesuatu dari suatu tempat dimana sesuatu barang di letakkan atau disimpan, dari hal ini saya melihat bahwa mungkin Maria menyimpan minyak narwastu ini untuk persiapannya menikah nanti.

Kebiasaan waktu itu wanita di masa itu menggunakan minyak narwastu saat dia menikah untuk parfum. Dan mungkin juga karena merasa sayang kalau dipakai sendiri sehari-hari maka dia menyimpannya. Tetapi bagi seseorang seperti Maria yg sudah merasakan kehadiran Yesus dalam diri dan kehidupannya dia tidak lagi tidak merasa sayang, menghitung untung atau rugi, bahkan walaupun jika minyak itu di pakai untuk menyeka kaki Yesus (yang kelihatannya sia-sia / sepele).

Bandingkan respon Yudas ayat 5, otak kalkulator (13 digit) & naluri pencurinya yg begitu cepat menghitung untung atau rugi, bahkan Markus mencatat dalam 14:4 (perbuatan maria disebut “seseorang yg gusar/yudas” suatu pemborosan).

Sangat penting untuk kita perhatikan adalah Yudas bersikap berbeda dari Maria, (apa bedanya) maria mengangap minyak itu jauh lebih rendah harganya (sekalipun mahal) disbanding dengan Tuhan Yesus. Sebaliknya Yudas menganggap tinggi minyak itu tetapi menganggap rendah Tuhan Yesus, (Yudas menjual Yesus 30 keping perak = seharga budak Matius 26:15; Kel. 21:32).

Aplikasi
Dalam memberikan yang terbaik untuk Tuhan misalnya, memberikan persembahan baik itu persembahan syukur, perpuluhan, atau apapun namanya apakah kita sudah memberikan yang terbaik dengan tidak menghitung untung atau rugi.

Atau kita berpikir bahwa kalau memberi untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya adalah pekerjaan sia-sia, atau sebaliknya memberi untuk Tuhan & pekerjaan-Nya justru akan mendapatkan keuntungan 2 x lipat dari yg kita beri ?

Jika demikian prinsip kita dalam memberikan yg terbaik, maka itu bukanlah memberikan yg terbaik bagi Tuhan tapi bagi diri kita sendiri. Dan dengan demikian kita tidak ada ubahnya dengan Yudas yg dengan cepat menghitung keuntungan yg akan dia miliki kelak.

Mari kita belajar dari Maria yg memberikan yg terbaik bagi Tuhan dengan tidak menghitung untung atau rugi.

3) Melakukan dengan segenap hati

Kalau kita melihat dalam ayat 3 ini memberikan yang terbaik bagi Tuhan bukan hanya memiliki motivasi yang murni dan tidak mengitung untung atau rugi saja namun juga harus melakukannya dengan segenap hati.

Yg menarik dalam hal yang menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh orang Yahudi pada waktu itu jika kedatangan tamu, maka tamu tersebut di sambut dengan urapan di kepala yang biasanya diurapi menggunakan minyak biasa (bdg. Lukas. 7:44-46), tetapi mari perhatikan apa yang dilakukan oleh Maria waktu itu, Maria tidak meminyaki kepala Yesus tetapi justru melakukan hal yang berbeda dari kebiasaan waktu itu, apa itu?

Maria meminyaki kaki Yesus, dan menyekanya dengan rambutnya, Memang Yesus dalam Yohanes pada ayat 7 & para penafsir Alkitab mengatakan bahwa dengan melakukan hal ini maka Maria mempersiapkan hari penguburan-Ku.

Namun yang mau kita lihat disini ialah kesungguhan hati Maria untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Maria meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, saudara dalam agama Yahudi “rambut” merupakan suatu kehormatan dan mahkota

Bahkan Paulus dalam I Korintus. 11:15a mengatakan “tetapi bahwa kehormatan bagi perempuan jika ia berambut panjang…?“

Maria meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya yang baginya, dan orang sekelilingnya adalah kehormatan dan mahkota, dia pakai untuk menyeka kaki Yesus. Dia melakukan apa yg tidak biasa di lakukan oleh orang lain, karena dia sadar betul dia sedang berhadapan dengan Tuhan.

Dari hal ini kita dengan pasti mengatakan bahwa Maria tidak lagi melakukan dengan setengah hati ini namun justru menunjukkan betapa Maria begitu dengan sungguh hati melakukan yg terbaik itu buat Tuhan walaupun harus mengorbankan rambutnya yg adalah kehormatannya berakhir di kaki Yesus.

Tidak cukup baginya kalau hanya dengan hati yang murni, hanya dengan memberikan sesuatu yg mahal dan berharga kalau tidak melakukan dengan segenap hati.

Kolose 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”

Aplikasi
Apa yg bisa kita ambil dari bagian ketiga ini, saudara kadang latar belakang kita, kemampuan dan kepintaran kita, kebanggaan kita di masa lampau atau masa kini, atau kehidupan sosial kita dan lain sebagainya kadang kala menjadi penghalang untuk kita dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Kita mungkin bisa memberikan sesuatu yg mahal, berharga, itu tidak masalah bagi kita karena latar belakang kita, tetapi apakah disamping itu semua kita bisa memberikan yg terbaik buat Tuhan sekaligus dengan segenap hati kita, menaruh semua kebanggan, egoisme, emosi, kesombongan, kehormatan, di bawah kaki Yesus? menundukkannya di bawah kaki Yesus?

Ingat Yesus yg tidak berdosa menjadi berdosa karena kita, bahkan kata Paulus dalam Filipi 2:6-8: (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Mengapa Yesus yg adalah Allah tidak sekalipun menyombongkan diri bahkan dengan rela dan segenap hati menjalankan misi Bapa untuk menyelamatkan manusia di kayu salib, mengapa manusia justru manusia tidak mau memberikan yg terbaik buat Tuhan dengan segenap hati?

 

Kesimpulan
Jadi kita belajar konsep yg benar dalam memberikan yg terbaik buat Tuhan dari Yohanes 12:1-11 yaitu:

  1. Haruslah memiliki motivasi yang murni (Kasih kepada Yesus)
  2. Tidak menghitung untung atau rugi.
  3. Melakukannya dengan segenap hati.