Pengkhotbah

Perikop
Kejadian 50 : 20

Ringkasan Khotbah

”Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50 : 20 

Ada petuah yang mengatakan ”Hidup itu seperti roda yang berputar, kadang kita di bawah dan kadang kita di atas”. Jika demikian, hidup kita statis dan tidak ada tujuan karena hanya berputar pada tempatnya. Dalam pandangan iman Kristiani, petuah ini mungkin kurang tepat, karena setiap orang percaya memiliki tujuan yaitu memuliakan Tuhan, sehingga ilustrasi yang lebih tepat adalah ”Hidup itu seperti gelombang laut yang naik dan turun tetapi memiliki satu tujuan (tidak statis) yaitu mengalirkan air laut ke pantai.”

Analogi ini sangat berkaitan dengan kisah hidup Yusuf, ada saatnya ia berada di atas namun ada saatnya ia berada di bawah.

  • Awalnya kehidupan Yusuf kelihatan naik, dikasihi dan dicintai ayahnya bahkan mendapat ilham dan ditunjuk secara pribadi oleh Allah. Tetapi dari sanalah juga, kehidupan Yusuf mulai turun. Dia harus keluar dari keluarganya dan zona nyamannya.
  • Saat dijual ke Mesir dan menjadi budak, hidupnya seakan naik karena dia dipercaya menjadi kepala budak-budak. Namun selanjutnya, kehidupannya turun kembali ketika ia difitnah oleh istri Potifar. Bahkan ia harus dipenjara karena mempertahankan kekudusannya di hadapan Tuhan.
  • Sesampainya dipenjara, hidupnya seakan naik kembali karena ia beroleh kasih dari kepala penjara dan kepercayaan dari juru minum dan juru roti Raja. Namun hidupnya kembali turun, ketika jasnya dilupakan oleh juru minum dan juru roti Raja.

Ketiga poin tersebut menunjukkan bahwa hidup Yusuf terus bergeser dan tidak statis. Lebih dari itu, didalam setiap proses hidupnya, Yusuf tetap menunjukan kualitas hidup yang benar di hadapan Tuhan bukan dengan marah atau kepahitan terhadap Tuhan. Kualitas hidup Yusuf tidak dapat dibatasi oleh situasi.

Apa buktinya dan hal apa yang dapat kita pelajari darinya?

  1. Dalam setiap proses hidupnya, Yusuf tidak pernah menekankan kalimat ”KALAU SAJA”. Kalau saja ia tidak mendapat mimpi atau tidak menceritakan mimpinya atau kalau saja ia tidak mendapat kasih sayang lebih dari ayahnya atau kalau saja ia tidak dibenci saudaranya dan seterusnya. Namun, Yusuf tidak menyesali hidupnya dan tetap berjalan menuju masa depan. Sadar atau tidak sadar, mungkin kalimat ini pernah kita ucapkan. Kalimat ‘kalau saja’ pada dasarnya kalimat yang menunjukkan kekecewaan dan penyesalan. Lebih lagi, kalimat ini membawa kita untuk melihat kebelakang, berfokus pada masa lalu dan berakhir dengan keputus-asaan.
  2. Dalam setiap proses hidupnya, Yusuf tidak pernah menekankan kalimat ”BAGAIMANA KALAU”. Sebagai contoh, ketika Yusuf dijual sebagai budak di Mesir, bisa saja ia berkata bagaimana kalau ia tidak dapat bertemu orang tuanya sampai mati atau ketika ia menjadi tahanan, bagaimana kalau ia menjadi tahanan seumur hidupnya dan seterusnya. Kebalikan dari kalimat ‘kalau saja’ kalimat ‘bagaimana kalau’ membawa kita melihat pada masa depan juga konsekuensi-konsekuensi yang mungkin ada dan berakhir dengan sikap pesimis atau apatis pada masa depan.

Hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa Yusuf tidak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan, diri sendiri atau lingkungannya. Melainkan ia tetap mengandalkan Tuhan dan percaya bahwa Allah sedang menenun dan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi hidupnya (lihat Yeremia 29:11 dan Kejadian 41:51-52).