Ringkasan Khotbah

Menerima untuk memberi adalah salah satu warna umat kerajaan Allah. Sifat kebanyakan manusia adalah menerima untuk di simpan bagi masa depan. Bukan Cuma berkenaan dengan uang saja tetapi juga berkenaan dengan Anugerah Keselamatan dari Tuhan Yesus.

Orang itu betul-betul lumpuh.

Jaman sekarang banyak pengemis yang cuma pura-pura sakit. Ada cerita tentang orang memberi uang kepada pengemis buta. Pada waktu uang itu ia lemparkan kepada pengemis buta itu, pengemis itu dengan sigap menangkap uang itu. Orang itu lalu berkata: ‘Hei, kamu tidak buta; mana pengemis buta yang biasanya ada di sini?’. Pengemis itu menjawab: ‘Ia pergi nonton bioskop!’. Ini memang cuma cerita, tetapi jelas bahwa jaman sekarang ada banyak pengemis yang cuma pura-pura sakit. Yang semacam ini sama sekali tidak perlu dibantu!

Bdk. Amsal 3:27 yang berbunyi: “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya”. Ini secara implicit menunjukkan adanya orang-orang yang tidak berhak menerima kebaikan, terhadap siapa kita justru harus menahan kebaikan! Tetapi orang lumpuh dalam cerita ini benar-benar lumpuh. Ini terlihat dari ay 2: ‘dari lahir’, ‘harus diusung’, ‘diletakkan’. Juga dari ay 9-10 dimana kita lihat ada banyak orang yang tahu bahwa ia memang lumpuh.

Orang itu mengemis di pintu gerbang Bait Allah dan meminta uang kepada Petrus dan Yohanes. Ia tidak mempunyai harapan sembuh, ia hanya meminta uang. Penerapan: Adakah problem dalam hidup saudara yang sudah begitu lama, sehingga saudara tidak lagi mengharapkan pertolongan Tuhan tentang problem itu? Berhentilah dari keputusasaan itu dan teruslah berharap kepada Tuhan!

Ada saling tatap mata (ay 4-5). Ini bukan suatu rumus yang harus dilakukan kalau kita mau mendoakan orang sakit. Petrus melakukan hal ini hanya supaya orang lumpuh itu mau memperhatikan mereka. Jawaban Petrus (ay 6). Ada beberapa hal yang bisa dibahas dari jawaban Petrus ini.:

  1. Rasul-rasul itu tidak mempunyai emas dan perak. Mereka bukan hanya tidak kaya, tetapi bahkan miskin. Orang kristen memang tidak harus kaya seperti yang diajarkan oleh Theologia Kemakmuran.

  2. Petrus berkata: ‘Apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu’. Ini suatu konsep yang penting dalam banyak hal, seperti: (1) pada waktu menolong orang. Tolonglah dengan apa yang ada pada saudara. (2) pada waktu mau memberi persembahan bagi Tuhan / gereja. Jangan berkhayal menjadi milyarder supaya bisa memberi banyak. Berilah apa yang ada pada saudara. Tuhan tidak pernah menuntut supaya saudara memberikan apa yang saudara tidak punyai. (3) Pada waktu mau melayani Tuhan. Jangan berkata: ‘Andaikata saya bisa berkhotbah dan mengajar, saya pasti mau melayani Tuhan’. Layanilah dengan karunia yang ada pada saudara, dan janganlah berkhayal tentang karunia yang tidak saudara miliki.

Demi nama Yesus Kristus.

Ini bukan semacam mantera / kata-kata magic. Kalau saudara tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, tidak ada gunanya saudara menggunakan kata-kata ini, baik dalam doa maupun mengusir setan (bdk. Kis 19:13-16), dsb.

Petrus menggunakan nama Yesus di sini untuk menunjukkan bahwa ia melakukan mujijat itu bukan dengan kuasanya sendiri tetapi dengan kuasa Yesus.

Berjalanlah.

Dalam KJV: ‘rise up and walk’ (= bangkit dan berjalanlah). Perbedaan ini terjadi karena perbedaan manuscript. Manuscript yang lebih kuno (jadi, yang lebih dekat dengan aslinya, dan karena itu lebih dipercaya) hanya menggunakan satu kata perintah, yaitu ‘berjalanlah’.

Orang itu sembuh (ay 7).

belajar jalan (ingat bahwa ia lumpuh sejak lahir).

Apa yang terjadi setelah kesembuhan itu?

  1. Orang itu senang sekali dan ia memuji Tuhan (ay 8-9).

    Pikirkan baik-baik: orang itu memuji Tuhan karena ia bisa berjalan. Pernahkah saudara memuji Tuhan atau bersyukur kepada Tuhan karena saudara bisa berjalan? Sebetulnya ada begitu banyak berkat yang Tuhan berikan kepada kita untuk mana kita tidak pernah memuji Dia dan bersyukur kepadaNya! Cobalah renungkan berkat-berkat itu dan pujilah Tuhan / bersyukurlah kepada Tuhan atas semua berkat-berkat itu.

  2. Orang banyak melihat orang lumpuh yang sudah sembuh itu dan mereka datang kepada Petrus dan Yohanes (ay 9-11).

    Ay 11 mengatakan bahwa orang lumpuh yang sudah sembuh itu ‘tetap mengikuti’ Petrus dan Yohanes. Kata-kata ‘tetap mengikuti’ seharusnya adalah ‘memegangi dan tidak mau melepaskan’ atau ‘nggandoli’ (NASB: ‘clinging’; NIV: ‘held on’). Ini menunjukkan rasa syukurnya kepada Petrus dan Yohanes. Tetapi bagaimanapun ia sadar bahwa yang menyembuhkan dirinya adalah Allah, dan karena itu ia memuji Allah (ay 8-9).

    Tetapi sikap orang lumpuh ini berbeda dengan sikap orang banyak. Orang banyak itu hanya melihat kepada Petrus dan Yohanes dan tidak kepada Allah. Mereka menganggap kedua rasul ini sebagai sumber kesembuhan. Penerapan: Kalau saudara disembuhkan oleh seorang dokter, atau mendapat pertolongan dari seseorang, atau mendapat berkat Firman Tuhan dari pendeta, selalulah sadar bahwa semua itu sebetulnya datang dari Tuhan! Pendeta dan dokter hanyalah alat Tuhan.

  3. Kita telah menerima yang banyak dari Tuhan, kekayaan Rohani, teruslah belajar dan teruslah berbagi. Amin.