Ringkasan Khotbah

Dalam dunia Filasafat Yunani ada dua penilaian terhadap sesuatu nilai. Filosofi of being : nilai yang memang ada padanya, tidak tergantung orang yang menilai, Tidak mengalami proses. dan filosofi of be coming : nilai datang dari orang yang menilainya dan menjadikanya bernilai, tetapi substansi sebenarnya tidak bernilai.

Dalam dunia filsafat juga ada dua penilaian terhadap nilai.

  • Nilai absolute: Nilai ada pada substansi nilai itu sendiri : nilai tidak tergantung dari subjek, nilai itu sudah ada pada benda itu.
  • Teori interest : nilai itu tidak ada, nilai tergantung dari orang yang menilai. Orang menambah nilai pada benda itu. Misalnya barang antik.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus banyak orang menilai orang apakah Yesus itu. Ada yang menilai Yesus dari fenomenanya dan ada juga menilai Tuhan Yesus dari nomenanya. Fenomena adalah segala sesuatu yang bisa di tangkap oleh indra manusia. Nomena adalah segala sesuatu yang tidak Nampak dari benda itu.

  1. PENILAIAN PARA MURID

    Para murid mengikuti Tuhan Yesus karena melihat nilai yang ada pada diri Tuhan Yesus. Dari fenomena yang mereka lihat dalam gerak pelayanan dan pengajaran Tuhan Yesus, para murid menilai bahwa Tuhan Yesus memiliki nilai absolut pada diriNya. Nilai Tuhan Yesus ada pada diriNya. Tuhan Yesus memiliki nilai yang tinggi karena esensi nilai ilahi yang ada pada diriNya.

    Dari banyak tokoh agama di dunia tidak bberani mengaku diri seperti Tuhan Yesus, hanya Tuhan Yesus yang berani berkata: Aku adalah Jalan, Aku adalah Kebenaran, Aku adalah Kehidupan, dll. Para tokoh agama hanya bisa berkata: aku mencari kebenaran, aku mencari jalan, aku mencari kehidupan.

    Sengat berbeda dengan Tuhan Yesus. Esensi nilai ada pada diriNya, bukan karena proses atau bukan karena tergantung penilaian orang. Nilai Yesus adalah Allah memang pada diriNya dia adalah Allah.

    Kata “Aku adalah” artinya keberadaan nilai sudah ada, telah ada dan akan terus ada. Makanya Tuhan Yesus berkata: “Aku adalah Alfa dan Omega”. Nomena yang ada di dalam diri Tuhan Yesus ini yang membuat para murid tidak mau meninggalkan Dia meskipun dalam keadaan tidak memiliki apa-apa.

  2. PENILAIAN ORANG YAHUDI

    Orang Yahudi menilai Tuhan Yesus dari sisi yang berbeda. Mereka menilai Tuhan Yesus dari fenomena yang ada bahwa eksistensi kuasa dalam pelayanan Tuhan Yesus karena Dia menerima kuasa dari Allah, sedangkan Tuhan Yesus sendiri bukan Allah. Mereka juga menilai Tuhan Yesus sebagi penghujat Allah, karena pengakuanya: Ego Emi = AKU ADA (Yoh 8:58). Sebelum Abraham jadi, AKU TELAH ADA. Dan juga ada beberapa pengakuan lain yang berkaitan dengan ungkapan “AKU ADALAH”.

    Orang Yahudi yang terdiri dari ahli taurat dan para imam mengetahui bahwa hanya Allah memiliki pengakuan itu dalam kitab Keluaran 3:14. Ini adalah pengakuan yang Agung dari Tuhan semesta Alam kepada Musa. Sehingga ketika Tuhan Yesus mengungkapkan Kalimat “Aku adalah” merupakan penghujatan terhadap Allah.

    Menurut mereka Tuhan Yesus, manusia biasa, dari kota Kafir (Nasaret) dan kerasukan Setan. Tidak ada nilai Mesianis dalam diriNya. Sehingga mereka menolakNya dan menginginkan kematianNya. Hal ini di dorong oleh iri hati dan ketidak mampuan mereka bersaing dengan Tuhan Yesus dalam pelayanan. Maka dengan kecerdasan kelicikan mereka, mereka menyerahkan Tuhan Yesus ke tangan orang berdosa yang tidak percaya kepada Allah. Yaitu tentara Roma.

    Mereka menurunkan Nilai Tuhan Yesus yang sebenarnya absolute dalam diriNya. Meskipun bagi orang Yahudi, Tuhan Yesus tidak bernilai, namun Nilai yang ada pada diri Tuhan Yesus tidak tergantung orang menilainya. Keabsolutan nilai ini tidak luntur meskipun orang Yahudi menurunkan NilaiNya sejajar dengan Pemberontak kelas berat. Sehingga hukumanya Salib.

  3. PENILAIAN ORANG NON YAHUDI

    Orang non Yahudi dalam teks ini adalah bangsa yang tidak mengenal Allah yang tergabung dalam pemerintahan dan pasukan prajurid Romawi. Mereka memandang Tuhan Yesus sebagai bahan olok-olokan akibat dari pengaduan orang Yahudi. Orang Yahudi menyerahkan eksekusi hukuman mati kepada tentara Roma supaya mereka bebas dari salah karena membunuh.

    Orang non Yahudi yang memerintah tidak tahu menahu soal urusan agamawi orang Yahudi. Tetapi karena di adukan sebagai penghujat Allah dan menurut hukum Musa, orang demikian pantasnya dihukum mati. Karena Tuhan Yesus telah di tolak oleh kaum sebangsanya artinya tidak ada pembelaan lagi yang akan di alaminya. Maka Tuhan Yesus di pandang tidak memiliki nilai di mata orang berdosa.

    Orang berdosa menilai Tuhan Yesus dari fenomena. Mereka tidak mampu menilai Tuhan Yesus dalam nomenanya. Karena mata rohani orang berdosa gelap dan tidak dapat menangkap keilahian Kristus. Mereka tidak menemukan nilai dalam diri Tuhan Yesus, selain nilai seorang penjahat kelas berat yang pantas di hokum Mati.

    Penilaian yang paling hina dilakukan oleh orang berdosa bahkan mereka berani mengolok-olok, menyesah dan menyalibkan Dia. Mulut yang Tuhan Yesus ciptakan dipakan untuk menghujat Dia, tangan yang diberikan Tuhan Yesus di pakai untuk mengayunkan cambuk untuk menyesah DiriNya, bahkan Kekuatan yang Tuhan Yesus berikan dipakai untuk menyalibkan Dia.

  4. Bagaimana dengan kita?? Nilai apa yang kita temukan dalam Tuhan Yesus? Apakah seperti orang Yahudi menilai? Atau seperti orang non Yahudi pada waktu itu? Atau seperti para murid menilai??

    Nilai Tuhan Yesus tidak tergantung dari siapa dan apa serta bagaimana Dia di nilai. Nilai Tuhan Yesus Absolut pada diriNya adalah Allah. Karena setelah kematianNya, Dia Bangkit, Dia menang, Dia Hidup. Kebangkitan Kristus adalah Proklamasi kemenangan Iman kita.