Pengkhotbah

Perikop
Lukas 18:18-27

Ringkasan Khotbah

Injil yang sebenarnya adalah kabar baik belum tentu dipahami sebagai kabar baik.  Bila kita belum mengerti inti daripada Injil, pasti hidup kristen hanya sekadar keagamaan.  Dalam teks Lukas 18:18-20 kita baca kisah tentang seorang muda yang kaya, yang juga merupakan pemimpin agama Yahudi.  Orang ini sudah memiliki pemahaman keagamaan untuk standar suatu hidup yang berkualitas.   Standar itu berupa 10 Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Musa dan bangsa Israel.  Dari segi hukum agama, orang ini memiliki kehidupan moral dan sosial yang baik.  Orang ini pantas disebut baik.  Tetapi jawab Yesus dalam Lukas 18:19, “Mengapa kau katakan Aku baik?  Tak seorang pun baik selain daripada Allah saja.”.  Di sini Tuhan Yesus sedang membongkar konsep kebaikan orang Yahudi zaman itu bahwa orang yang telah melakukan tuntutan hukum Taurat pantas disebut baik (kebaikan menurut mereka sendiri).  Tetapi standar kebaikan menurut Tuhan Yesus adalah tak ada seorang pun yang baik kecuali Allah saja.  Di sini kita melihat perbedaan dari kacamata Allah dan kacamata manusia.

Orang muda ini sudah memiliki semua hal yang baik dan dia terus setia menaati semua hukum Taurat sejak dari muda, tetapi ia belum memiliki standar kualitas hidup seperti yang Tuhan mau.  Hatinya masih melekat pada dunia ini, kebanggaan-nya, popularitas-nya dan keinginan-nya, dan hatinya belum pindah ke surga.  Tuhan Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).  Sempurna seperti Bapa, hidup sebagaimana Tuhan Yesus hidup.  Percaya kepada Tuhan artinya menyerahkan diri kepada Tuhan.  Dalam bahasa Yunani – Pisteo – artinya menyerahkan diri.   Maka percaya kepada Yesus artinya menyerahkan hidup kita sepenuhnya hanya untuk kemuliaan Tuhan.  Salah satu ciri dari Corpus Delicti adalah menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada Tuhan Yesus, dan kita harus siap melepaskan apa yang kita miliki.  Sebelum waktunya jiwa berpisah dengan raga datang yang memaksa kita harus melepaskan semua yang kita miliki, mari kita belajar untuk melepaskan dari sekarang.

Masalah yang sering timbul adalah kita tidak mau tunduk dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah.  Seperti dalam Filipi 2:6-8 sebagaimana Tuhan Yesus tunduk kepada Bapa dalam ketaatan-Nya, maka kita yang percaya kepada Tuhan Yesus pun harus taat pada kehendak Allah.  Itulah yang disebut dengan Corpus Delicti, dengan kata lain adalah suatu fakta yang membuktikan bahwa sebuah kesalahan telah dilakukan.  Yesus bisa menjadi manusia yang taat sampai mati.  Ini membuktikan kepada Iblis bahwa ketidaktaatannya adalah sebuah kesalahan lewat ketaatan Tuhan Yesus.