Ringkasan Khotbah

Di dalam kehidupan berjemaat di Filipi ada sekelompok orang yang menentang Paulus (Filipi 1:27-30; 2:21), kemudian Paulus mengkritik orang-orang di Filipi dengan keras (Filipi 3:2).  Ada begitu banyak wanita yang menjadi anggota jemaat yang seringkali tidak sehati dan sepikiran dalam pelayanan diantaranya Euodia dan Sintikhe (Flp. 4:2).  Paulus juga mengharapkan jemaat sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, tidak mementingkan diri sendiri (Flp. 2:2-4).

Maka dari hal ini Paulus menginginkan jemaat di Filipi dalam persekutuan/kebersamaan hendaklah pikiran dan perasaan berada dalam Kristus. Disini Paulus memberi pemahaman bahwa dalam pelayanan dan kebersamaan, orang percaya harus melihat pada pribadi kristus yang datang kedunia. Maka dari pembahasan hari ini bertemakan: “Natal Menjadikan Hidup Serupa Kristus”.

 Bagaimana orang percaya dalam pelayanan bersama hidup serupa dengan Kristus?  Pada ayat 5 Paulus memulai dengan “Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan (NIV: attitude; TB: sikap) yang terdapat juga dalam (bersesuaian, seperti) Kristus Yesus. Ada beberapa hal Natal mengubah hidup kita menjadi seperti/serupa Kristus:

1.  Yesus adalah Allah tapi tidak menganggap setara dengan Allah.

Pada hakikatnya Yesus adaah Allah, Ia setara dengan Bapa, baik sebelum menjadi manusia, selama dibumi, dan setelah masa hidupNya dibumi (Yoh. 1:1, Yoh. 8:58, 17:24, Kol. 1:15:17)

Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, yang seharusnya menjadi milik untuk dipertahankan, menunjukkan Ia melepaskan segala hak istimewa dan kemuliaan-Nya di Sorga, agar kita dibumi dapat mengenal Allah melalui Dia, dan kita daat diselamatkan

2. Mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba dan sama seperti manusia

Bagian ini mengosongkan, menunjukkan Ia mengesampingkan kemuliaan-Nya, kedudukan sebagai Raja diatas segala raja, Kekayaan, segala hak sorgawi, dan keilahian-Nya. Pengosongan diri bukan hanya sekedar sukarela menahan diri menggunakan keistimewaan keilahian-Nya, tetapi dibalik semua itu Ia justru menerima penderitaan, perlakuan yang tidak pantas terhadap diriNya, kebencian bahkan kematian yang terkutuk melalui penyaliban.

Dia tidak hanya mengosongkan diriNya dari hal-hal istimewa tadi tapi mengambil rupa manusia (menjadi wujud manusia) yang memiliki keterbatasan, kelemahan yang beitu banyak cobaan dan ujian, menjadi hina sebagai keturunan tukang kayu, tetapi dalam pribadi manusia Ia tidak melakukan/berbuat dosa.

3.  Merendahkan diri dan taat

Merendahkan diri menunjukkan Ia merelakan diriNya dibenci dihina bahkan bersalah. DiriNya yang tidak berdosa tetapi Dia tidak membela diri ketika diadili, tapi justru Dia dianggap lebih buruk dari Barabas yang adalah penjahat yang dilepaskan. Penghukuman-Nya disejajarkan dengan dua orang penjahat yang ada disamping kiri dan kanan pada penyaliban-Nya. Dan sangat menghinakan bagaimana cara Dia dihukum yaitu melalui salib. Inilah yang menyebutkan Ia merendahkan diri yang sepatutnya tidak diterima-Nya. Ia merendahkan diri dengan mengesampingkan segala hak dan kepentingan pribadi supaya orang lain mendapatkan damai sejahtera.

Aplikasi

Natal yang perlu kita terapkan ialah bukan kesombongan atau menonjolkan siapa diri kita, tetapi kesederhanaan seperti yang ditunjukkan Kristus ketika Ia hadir kedunia.

Natal seharusnya menjadikan kita untuk saling melayani satu sama yang lain, saling membantu, menopang, bukan saling sikut atau menjatuhkan hanya karena harga diri.

Natal menjadikan kita rendah hati, menahan segala kegoisan, mengampuni satu sama lain, tidak memaksakan selalu yang benar sehingga tidak bisa memaafkan mereka yang berbuat salah.