Pengkhotbah

Perikop
Lukas 8:1-15

Ringkasan Khotbah

Beberapa kali Pendeta Atsumi mengutarakan dan menjelaskan tentang tema GIII se-jepang tahun 2014 yaitu “Nyatakanlah Kerajaan Allah”.  Dalam konteks khotbah kali ini terambil dari Lukas 8:1-15 pun diawali dengan kata “Injil Kerajaan Allah” (Lukas 8:1).  Penjabaran khotbah kali ini dimulai dengan pertanyaan, “Apakah Kerajaaan Allah itu?”.  Kerajaan Allah merupakan pokok tema Perjanjian Lama(PL) & juga Perjanjian Baru (PB), mencakup Kerajaan Allah di masa PL, dan dalam masa PB dinyatakan lewat kedatangan Mesias ke-1 & ke-2.  Walaupun inti tema ini awalnya diutamakan bagi bangsa Israel terdahulu, tapi mengapa Israel sulit menerima hal ini?  Dapat kita lihat dalam Markus 13-14 bahwa misteri Injil Kerajaan Allah ini menjadi batu sandungan bagi bangsa Israel pada masa itu.  Akan tetapi itu bukan saja menjadi batu sandungan bagi Israel, tapi pada zaman sekarang pun itu menjadi batu sandungan bagi hampir semua bangsa.  Injil Kerajaan Allah ini seperti misteri yang dirahasiakan selama berabad-abad, bahkan sampai bangsa Israel sendiri pun sulit untuk mengerti tentang Mesias yang telah datang itu (Lukas 8:10, Roma 16:25).  Konsep Kerajaan Allah bagi bangsa Israel identik dengan mimpi Raja Nebukadnezar yang diinterpretasikan oleh Nabi Daniel (Daniel 2:44-45).

Injil Kerajaan Allah ini ditaburkan untuk berbuah, dan ada beberapa syarat supaya Injil ini dapat berbuah banyak.  Dalam Lukas 8 ini benih itu ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu, di tengah semak duri, dan terakhir di tanah yang baik.  Dari semuanya ini hanya benih yang jatuh di tanah yang baik itulah yang berbuah banyak.  Kita dapat memperhatikan tiga hal tentang benih yang berbuah ini dari Lukas 8:15: yakni 1) Mendengar Firman, 2) Menyimpannya dalam hati yang baik atau mengerti (lihat Mat.13:23) , 3) Mengeluarkan buah dalam ketekunan.  Jadi ada dua hal yang dibutuhkan bagi orang yang telah mendengarkan Firman Allah:

  1. Bertobat.  Bila kita tidak bertobat dan lahir baru, hasilnya adalah nol dan tidak berguna.
  2. Mengerti Firman itu dan bertekun di dalamnya.