Pengkhotbah

Perikop
Yunus 1 : 1-17

Ringkasan Khotbah

Teks bacaan kali ini dimulai dengan kalimat, ”Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai,..” (ayat 1). Istilah datanglah firman TUHAN atau Allah berfirman sebenarnya adalah istilah yang tidak asing lagi dan sering dituliskan dalam perjanjian lama (bahkan tertulis sebanyak 120 kali). Sehingga istilah datanglah ini seakan biasa dan tidak spesial. Namun, jika kita memperhatikan lebih jauh lagi, ada hal yang menarik dalam bacaan ini.

Sebelumnya, 2 Raja-raja 14 juga menuliskan, ”datanglah firman TUHAN atau Allah berfirman dan memerintahkan Yunus untuk memberitakan injil kepada kerajaan Israel di Utara.” Selanjutnya Allah juga memerintah Yunus untuk memberitakan injil ke Niniwe. Hal yang menarik adalah selain Yunus, tidak ada satupun nabi di dalam perjanjian lama yang diperintahkan Tuhan untuk pergi memberitakan injil melainkan hanya bernubuat.

Mengapa Allah meminta Yunus mengabarkan injil ke kota Niniwe?

  1. karena Niniwe adalah kota yang besar (sebagai perbandingan dua kali luas kota Surabaya)
  2. karena kejahatan penduduk kota Niniwe yang sangat besar.

Mengapa Yunus tidak mau pergi mengabarkan injil ke kota Niniwe?

  1. karena Yunus berpikir tindakan ini adalah tindakan yang sia-sia. Pada saat itu ada kepercayaan bahwa besarnya suatu bangsa dan kota ditentukan oleh alahnya. Lebih jauh, Yunus menyadari bahwa ia adalah orang israel dan pada saat itu bangsa israel adalah bangsa yang kecil. Sehingga Yunus berpikir bagaimana mungkin bangsa yang besar mau mendengarkan injil dari seorang bangsa yang kecil.
  2. karena Yunus takut.
  3. karena Yunus tidak peduli. Ia hanya peduli kepada bangsanya sendiri, yaitu bangsa Israel. Hal ini terlihat dalam Yunus 4 : 2 yang secara tersirat menuliskan bahwa Yunus tidak mau orang lain diselamatkan atau bagsa Niniwe mendapatkan pengampunan.

Lalu, bagaimana respon Yunus terhadap firman TUHAN?

  1.  Yunus melarikan diri ke Tarsis
  2. Tidur

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah hidup Yunus?

  1. Intervensi Tuhan yang membawa pengertian bahwa Yunus adalah pribs yang tidak konsisten. Yunus 1 : 9 menuliskan ”…aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.” Melalui ayat tersebut, seakan Yunus orang yang mengenal TUHAN dengan baik, namun tindakan ketidak-taatanya berlawanan dengan sikap takut akan TUHAN. Pelajaran yang dapat diambil adalah ketika pengetahuan kita tentang Alkitab dan kebenaran firman Tuhan meningkat perlu diikuti dengan aplikasinya di dalam hidup. Dengan kata lain, perlu ada kecocokan antara pengenalan firman TUHAN dengan perbuatan sehari-hari.
  2. Tuhan dapat memakai siapa saja untuk mewujudkan rencana-Nya. Orang-orang yang satu kapal dengan Yunus adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan (politeisme). Ketika angin ribut terjadi, mereka berdoa kepada alah-alah mereka dan menyadari alah mereka tidak bisa menolong mereka.  Yunus 1 : 10 menuliskan, ”Apa yang telah kauperbuat?..” Terjemahan aslinya sebenarnya menuliskan ”Mengapa engkau berbuat demikian?” Selanjutnya orang-orang dalam kapal tersebut menyadari bahwa hanya Allah TUHAN yang dapat menolong mereka dan akhirnya nakhoda meminta Yunus berdoa kepada TUHAN. Amin.