Pengkhotbah

Perikop
Kolose 1:24-29

Ringkasan Khotbah

Menjadi pelayan dalam Alkitab ada dua jenis. Yakni “pelayan Perjanjian Lama” dan “pelayan Perjanian Baru”. Pelayan Perjanjian Lama dimulai secara formal ketika keturunan Lewi di tunjuk untuk melayani Tuhan yang diselenggarakan dalam rumah Tuhan (Tabernakel), yang dimulai dari kema suci pada peristiwa keluaran.

Menarik untuk disimak, bahwa pelayan dalam tradisi Alkitab dan orang kudus sepanjang sejarah memiliki esensi ikatan Perjanjian (Berit) dengan Yahweh sebagai Allah dan Bapa. Perjanjian ini terikat oleh darah korban yang sempurna dan tak bercacat. Dalam konteks Perjanjian dengan Allah, Allah mengikat diriNya dengan umatNya. Mari kita melihat apa yang menjadi kriterian pelayan Perjanjian Baru yang di paparkan Rasul Paulus dalam teks ini.

1. Tuhan yang menetapkan (25a)

Banyak orang mengatakan diri sebagai pelayan. Baik itu di restoran, kafe, pelayan masyarakat, rumah sakit, toko, istana kepresidenan dll. Pendeknya, semua orang yang bertugas melayani kebutuhan tuanya disebut pelayan.

Rasul Paulus sering menyebut dirinya sebagai pelayan. Yang dia layani sebagai Tuan adalah Kristus dan Allah. Sedangkan dirinya sebagai dulos (hamba). Paulus menerima tugas dari Tuhan. Dalam teks ini, jelas dikatakan “… tugas yang di percayakan Allah…”. Paulus menegaskan kepada jemaat di Kolose tentang superiornya tugas yang sedang dia jalankan. Sehingga Paulus merasa bangga akan apa yang sedang dia kerjakan untuk semua orang percaya pada zaman itu. Kapan Paulus menerima tugas ini? Sejak perjumpaan pertamanya denga Yesus Kristus. (Kisah Para Rasul 9:5-6).

Kesadaran yang perlu kita miliki: tugas pelayan perjanjian Barus adalah Tuhan yang memilih, menetapkan, Tuhan yang meneguhkan. Paulus bangga akan tugas ini. Bagaimana dengan kita? Kita harus bangga, karena tugas ini dipercayakan kepada kita oleh Tuhan semesta alam, pencipta langit dan bumi.

2. Memberitakan Kristus (25b-29)

Di dunia ini ada begitu banya berita. Mulai dari berita historis, filosofis, religi, sosial, kesehatan, fiksi sampai gosip. Banyak berita disekitar kita, demikian juga disekitar jemaat Kolose dan Paulus zaman itu. Dari sekian banyak berita yang beredar pada masa itu, Rasul Paulus memilih untuk memberitakan Kristus.

Kristus yang seperti apa yang diberitakan Paulus:

  • Kristus yang tersembunyi dalam FirmanNya (25b). Didalamnya ada rahasia yang perlu dibukakan, karena tersembunyi dari abad ke abad (26), Kristus itu harus di nyatakan kepada “orang Kudus”. Siapa orang kudus? Paulus, jemaat Kolose dan kita hari ini. Ini adalah kekayaan yang paling mahal yang pernah dimiliki setiap anak manusia yaitu Kristus. (27). “… Kristus ada diantara kamu…” artinya Allah yang begitu transenden, maha mulia dan maha kudus berkenan hadir di dalam manusia yang berdosa. Dalam PL menggunakan istilah “Imanuel” (Yesaya 7:14, Matius 1:23). Karena ini rahasia maka tidak semua orang tahu. Paulus yang tahu memberi tahu kepada jemaat Kolose. Sekarang tugas kita memberi tahu orang lain yang belum tahu.

  • Kristus adalah pengharapan kemuliaan. (27b). Dalam Kristus ada kemuliaan. Diluar Kristus kebinasaan. Maka Paulus mengatakan “hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup didalam aku. (Galatia 2:20). Jangan merasa mulia karena fasilitas dunia ini, karena semuanya akan binasa bersama dunia ini. Hendaklah kemuliaan kita terletak pada pengharapan akan Kristus yang mati, bangkit dan naik ke sorga.

  • Kristus yang menuntut kesempurnaan hidup dari setiap orang kudus. (28). Sehingga setiap orang percaya memiliki pengenalan yang sempurnya akan Kristus, pengetahuan yang sempurna dan kehidupan moral yang baik sekelas Yesus Kristus. Inilah “pekerjaan baik” yang dimaksud Paulus dalam Efesus 2:10).

  • Kristus yang memberikan Kuasa didalam setiap orang Percaya (29), inilah yang dimaksud Yohanes dalam Injil Yohanes 1:12 dan Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:8. Kuasa yang dari dalam mengubah setiap orang yaitu eksosia (hak, wibawa dan otoritas. Didalamnya ada Injil, Roh Kudus, karunia dan penggarapan Tuhan-Roma 8:28) dan dunamis (kuasa untuk mengalahkan iblis dan segala tipuanya, maut dan dosa).

3. Sukacita dalam penderitaan (24)

Dunia yang penuh penderitaan yang menakutkan ini yang sering kali merampas sukacita. Belum lagi tuntutanya yang begitu tinggi, mengenai pkerjaan, studi dan karir. Sehingga tidak heran kalau akhirnya setiap anak manusia melakukan manufernya menyingkirkan teman sejawatnya untuk rasa aman semu bagi diri sendiri.

Banyak ketakutan disekitar kita yang bisa dijadikan alasan sehingga kita berjuang menyingkirkannya supaya kita bisa bersukacita. Rasul Paulus memberikan kita cara yang berbeda. Paulus tidak menyingkirkan penderitaan itu dari hidupnya. Karena Paulus sadar bahwa tubuhnya yang fana tidak mungkin lolos dari penderitan. Kita sendiri tahu bahwa kita juga sering mengalaminya.

Paulus tidak berusaha membuang derita itu karena mustahil. Tetapi Paulus mengundang Kristus masuk dalam hidupnya dan menolong menanggung penderitaan itu dalam tubunya. Bahkan Paulus berkata: penderitaanya untuk “menggenapkan dalam dagingku apa yang masi kurang dalam penderitaan Kristus, yaitu jemaat”.

Bagi Paulus, penderitaan tubuhnya bukanlah alasan sehingga dia berhenti menjadi pelayan perjanjian yang Baru. Tetapi justru menjadi sukacita yang membahana dalam dirinya.

Bagaimana dengan kita? Masing-masing kita telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus menjadi pelayan perjanjian Baru. Dimanapun Tuhan menempatkan kita. Bersikaplah sebagai seorang pelayan perjanjia Baru yang mendapat tugas dari Tuhan, Memberitakan Kristus bagi semua orang dan rela menderita karena perjanjian itu.