Pengkhotbah

Perikop
Yoh. 5:1-9

Ringkasan Khotbah

Perbedaan Kalender china dan Kalender masehi dalam kaitannya dengan Pemaknaan Hidup. Bagaimanakah Firman Tuhan tersebut mengajarkan tentang hidup?

PERTAMA, HIDUP ADALAH PERSAINGAN. (To live is to compete.)

Pada bagian ini kita melihat bahwa di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba, ada sebuah kolam Betesda yang memiliki lima serambi. Yohanes menjelaskan bahwa di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu (ayat 2-3). Bagaimanakah orang-orang sakit ini disembuhkan? Selanjutnya kita membaca bahwa “Barangsiapa yang terdahulu masuk kedalam kolam itu sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun penyakitnya (ayat 4).
Jadi ‘aturan main” yang kita lihat di dalam Injil tsb adalah siapa yang terdahulu. Mungkin ada orang yang mau bertanya, “mengapa harus demikian? Apakah Allah yang sanggup menggoncangkan kolam tidak sanggup menyembuhkan orang itu secara langsung? Mengapa harus susah-susah merangkak ke kolam?”. Tentu kita boleh saja bertanya demikian. Tapi kenyataannya, itulah ‘aturan main’ yang kita baca. Dan yang menetapkan aturannya bukan kita, tapi Allah sendiri. Sekalipun Dia memang sanggup untuk menyembuhkan semua orang secara langsung, namun Allah juga menginginkan umat/ciptaanNya mengambil bagian dalam karya kasihNya. Dia telah menyediakan berkat di “sana”, maka silakan bertarung untuk menikmati berkat itu. Dan ingat, tidak hanya bertarung dan masuk kolam. Tapi bertarung dan menjadi yang terdahulu.
Saya melihat bahwa prinsip atau ‘aturan main’ seperti ini juga terjadi di sekitar kita. Tidak menjadi soal siapa orangnya, sukunya dari mana, agamanya apa tetapi kalau dia memiliki unsur-unsur persaingan yang membuat dia menjadi yang terdahulu, maka dia akan mendapat berkat yang telah tersedia tersebut. Bicara mengenai hal-hal yang penting dalam pertarungan, maka beberapa hal penting kita sebutkan di sini seperti adanya visi dan tujuan hidup yang jelas, memiliki perencanaan untuk mencapai tujuan tersebut, serta disiplin dan kerja keras. Saya teringat juara marathon dari Jepang pada olimpiade Sydney pada waktu yang lalu.
Mungkin, turut bersaing pada perlombaan itu adalah orang2 Kristen, sudah dilahirkan kembali, saat teduhnya baik dan berdoa dengan tekun. Namun tidak menjadi juara. Sebaliknya, nona Jepang tersebut, yang baangkali tidak mengenal Kristus, dapat menikmati berkat itu. Mengapa? Karena dia memiliki unsur-unsur bersaing. Dia yang menantikan berkat itu telah sampai lebih dahulu di ‘kolam itu’.
Memang sangat mengesankan bagaimana nona tersebut mempersiapkan diri untuk menghadapi olimpiade tersebut. Dia bahkan sampai pindah ke Sydney beberapa tahun sebelumnya (dua tahun?), dan berlatih secara tekun dan teratur di lintasan lari yang akan dilaluinya kelak pada saat olimpiade. Dari sini dia mengetahui di mana jalan menaik, menurun, berbelok dan lurus. Dengan demikian, dia dapat mengatur kecepatan larinya dengan tepat. Akhir dari persaingannya adalah dia menjadi orang yang terdahulu. Maka sangat wajar, jika kemudian dia menikmati hasil kerjakerasnya yg siap utk bertanding.
Ketepatan pada waktu setelah olimpiade tsb, saya berada di Jepang dan beruntung dapat menyaksikan bagaimana nona ini (saya lupa namanya) begitu menikmati hasil perjuangannya: baik dari sambutan publik dengan tayangan di TV terus menerus, hadiah2 dari perusahaan2 tertentu, serta disambut dan dihormati di dalam pertemuan resmi oleh para senator (anggota2 DPR) Jepang.
Demikianlah kiranya terjadi dengan kita. Kiranya kita juga dikaruniai kemampuan untuk bersaing secara sehat dan menjadi orang yang terdahulu hingga menikmati berkat dariNya. Jangan mengharapkan jalan pintas utk maju.
KEDUA: HIDUP ADALAH ANUGERAH. (To live is to experience grace.)

Bagi kita yang menyadari hal tersebut di atas, bahwa hidup adalah persaingan, mungkin menjadi bingung dan putus asa. Karena barangkali kita telah berulangkali mencoba untuk terlibat dengan ‘pertarungan’ sengit dalam hidup, namun selalu gagal. Namun Firman Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita tidak perlu putus asa dalam hidup, sekalipun tidak mampu bersaing.
Melaui bacaan Alkitab di atas kita diingatkan bahwa hidup ini bukan hanya milik mereka yang sanggup untuk bertarung. Karena hidup ini juga adalah anugerah. Maka kalau kita bicara mengenai anugerah, kita memandang kepada Allah, bukan kepada diri sendiri. Karena anugerah adalah kemurahan Allah semata yang diberikan kepada mereka yang sesungguhnya tidak layak menerimanya. Yohanes mencatat bahwa di kolam itu ada orang sudah 38 tahun lamanya sakit. Ketika Tuhan Yesus datang kepadanya dan bertanya: “Maukah engkau sembuh?” kita membaca satu pernyataan yang begitu menyedihkan. Dia berkata: “Tuhan, tidak ada orang yang mau menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” (ayat 7). Jadi kita lihat di sini bahwa orang ini bukannya tidak mau bertarung. Dia telah melakukan hal itu, tetapi selalu ketinggalan. Dengan kondisinya yang lumpuh, tentulah dia tidak sanggup untuk bersaing dan menjadi terdahulu. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Seharusnya ada orang lain yang menolongnya. Tapi kenyataannya, seperti pengakuannya kepada Tuhan Yesus, tidak ada orang yang menurunkan dia ke kolam apabila airnya mulai goncang. Itulah kenyataan hidup yang harus dihadapinya; masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Namun demikian, sekalipun dia tidak mampu meraih berkat Tuhan tersebut dgn usahanya sendiri, dan sekalipun tidak ada orang yang siap menolongnya, tidak perlu putus asa. Itu bukan akhir dari hidup itu. Karena masih ada seorang Penolong yang setia. Dialah Tuhan Yesus yang datang menolong tepat pada waktunya. Dia datang kepada orang yang tidak berdaya tersebut. Selanjutnya, Tuhan Yesus mengerjakan mujizat dan bersabda: “Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah.” Dan pada saat itu ia sembuh! Dia pun mengangkat tilamnya dan berjalan! Jadi, kesembuhan yang dia alami bukanlah karena dia mampu bertarung dan menang. Kesembuhan tersebut adalah karena anugerah Tuhan Yesus, di mana Dia sendiri datang menghampiri dan menyembuhkan.
Hal seperti ini juga banyak kita saksikan di sekitar kita. Sebagai contoh, kita dapat membaca di koran bahwa sebuah pesawat terbang jatuh dan semua penumpang dan awak pesawat meninggal dunia, kecuali seorang bayi! Kita juga membaca bahwa sebuah kapal pengungsi yang meninggalkan Ambon tenggelam dan hampir semua penumpangnya meninggal dunia. Tapi diberitakan juga bahwa seorang remaja selamat! Bagaimana kita menjelaskan hal itu? Apakah itu karena kemampuan mereka untuk ‘bertarung’ sehingga bisa tetap hidup? Tentu saja tidak. Kalau kita menerapkan hal ini kepada diri kita, mungkin kita bisa bertanya, mengapa saya hingga saat ini masih bisa bekerja sementara begitu banyak orang pengangguran? Mengapa perusahaan saya masih ‘tegak berdiri’ padahal, begitu banyak perusahaan yang bangkrut? Ini pun kita terima sebagai anugerah juga. Bagi kita yang tidak bekerja, mungkin kita dapat melihat anugerah Tuhan dari sisi lain. Mengapa kita bisa memiliki ini dan itu, seperti misalnya kesehatan, sementara banyak orang yang terbaring di rumah sakit? Lebih dari itu, mengapa saya masih bisa menikmati hidup hingga saat ini, sementara beberapa rekan kerja dan kenalan sudah “berangkat?”. Hal ini pun tentu harus kita lihat sebagai anugerah Allah juga.
Sesungguhnya banyak sekali anugerah Allah yang telah dan akan kita miliki dalam hidup ini. Dan kita masih terus membutuhkan anugerah Tuhan tersebut. Karena itu, seperti orang sakit ini, marilah kita curahkan seluruh isi hati kita, serta kegagalan-kegagalan kita kepada Tuhan. Jangan pernah putus asa. Dengan demikian, kiranya kuasa mujizatNya pun dinyatakan atas kita.
KETIGA, HIDUP ADALAH BERHARAP. (To live is to hope.)

Merenungkan bagian ini (Yoh.5 ), sungguh sangat memberi berkat tersendiri bagi saya, saya harap juga bagi kita semua. Kalau kita perhatikan dan renungkan kondisi orang sakit ini, Yohanes menulis bahwa dia sudah 38 tahun sakit! Bukan 3 hari, atau 3 bln atau 3 tahun, tetapi 38 tahun. Lama sekali, bukan? Kita bisa membayangkan bagaimana dia menanti goncangan kolam itu sekian tahun lamanya. Kita bayangkan bagaimana setiap kali malaikat menggoncangkan kolam itu, maka dia, serta orang-orang sakit lainnya bergegas-gegas, berlomba untuk masuk ke kolam itu. Tapi sayang, orang lain sudah mendahuluinya. Maka dia pun kembali lagi ke ruang “VIP”nya untuk menunggu goncangan selanjutnya. Dan ketika hal itu tejadi, dia pun berusaha lagi, dan … ah, orang lain sudah mendahuluinya lagi. Demikian hingga 38 tahun! Maka kita melihat bagaimana gigihnya dia berjuang untuk sebuah kesembuhan.
Mari kita perhatikan kenyataan ini: sekian lama dia bergumul dengan penyakit yang sama, berada di tempat yang sama, menghadapi pertarungan yang sama… dan kegagalan yang sama!
Mungkin kita bertanya: “Apa sih yang membuat dia mampu bertahan dalam perjuangan yang demikian?”. Bagi saya, jawabnya adalah: pengharapan. Tanpa itu, saya kira dia sudah lama meninggalkan tempat itu, apa dan bagaimanapun caranya.
Jadi, di sini kita lihat betapa pentingnya sebuah pengharapan untuk kemudian menikmati anugerah Tuhan. Ada orang yang bertanya: “Apa sih dasarnya untuk berharap? Kalau segala sesuatu kelihatan begitu negatif, apakah logis untuk terus berharap? Sampai berapa lama kita berharap?”. Membaca bagian Alkitab ini, maka saya melihat bahwa tidak ada batas untuk berharap. Selama Roh Tuhan dalam diri bekerja sedemikian rupa dan mendorong kita untuk berharap, maka kita harus terus berharap. Sangat menarik bagaimana rasul Paulus menuliskan tentang pergumulan Abraham. Dia menulis: “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui bahwa telah menjadi lemah zakarnya, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.” (Roma 4: 18-19).
Jadi, kita membaca dengan jelas bahwa sebenarnya tidak ada logikanya untuk Abraham tetap berharap mendapatkan anak, karena kondisinya memang tidak lagi memungkinkan secara manusiawi. Lalu logika apa yang membuat dia tetap bertahan? Jawabnya adalah adanya pengharapan terhadap janji Allah yang tidak pernah gagal. Karena itulah, kemudian kita membaca: “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah.” (ayat 21).
Kiranya kita juga, dalam menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan ini dikaruniakan kemampuan untuk tetap setia karena memiliki pengharapan yang teguh kepada Allah kita. Dan apakah akhir dari pengharapan kita? Tentu mengalami kebaikan Allah sebagaimana orang yang sakit 38 tahun di atas. Rasul Paulus pernah menulis suatu pernyataan yang sangat indah tentang hal ini: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita…” (Roma 5: 5).