Pengkhotbah

Perikop
Roma 12:2

Ringkasan Khotbah

Secara etimologi pembaharuan adalah berasal dari kata Pem-baru-an, dasar katanya adalah “baru”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pembaruan adalah 1) proses atau cara membarui perbuatan dan berawal dari perubahan cara berpikir; 2) proses mengembangkan kebudayaan untuk menghapus kesalahan fungsi sosial atau bagianya.

“budi” adalah alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk, berkaitan dengan akhlak, watak dan tabiat.

Dalam teks ini, pembaruan menggunakan istilah metamorphouste = transformed = transformasi (perubahan rupa – bentuk, sifat, fungsi, struktur-menata kembali unsur-unsur).

Budi bersal dari kata Nous = The Mind = Pikiran (kekuatan untuk mempertimbangkan dan menilai dengan sadar, dengan santai dan dengan seimbang).

Pembaruan budi adalah kekuatan yang terjadi dalam jiwa seseorang yang dimulai dari memasukkan kebenaran, menyetujui dan melakukan kebenaran secara sadar dan seimbang ke arah yang menakjubkan.

Dalam teks ini setiap orang percaya di Roma, diajak oleh Rasul Paulus supaya mereka tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi memperbaharui pikiran mereka.

Bagaimanakah seseorang bisa mengalami pembaruan budi??

  1. Melepaskan keduniawian
    Melepaskan keduniawian yang dimaksudkan disini bukan berarti kita harus beraskes, atau menyendiri di hutan, digunung, atau di gua-gua, menjauhi diri dari keramaian manusia. Orang yang beraskese atau menyiksa diri dengan berpuasa tujuanya adalah mencari nilai diri seakan akan-akan dialah yang paling hebat di antara manusia lain dan dengan demikian menjadi kudus dan suci. Orang yang menyendiri dihutan, digua-gua, bertapa seumur hidupnya adalah orang yang egois dan sombong karena mereka tidak memanusiakan orang lain. Dengan demikian orang seperti itu dianggap istimewa padahal dalam kehidupannya mereka tidak pernah melakukan yang seharusnya mereka lakukan kepada manusia lain. Maka dalam konsep ini mereka menjaga kekudusan hidupnya dengan mengasingkan diri dari kehidupan manusia lain.
    Maksud rasul Paulus menuliskan “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,” tidak bermaksud seperti demikian. Karena kata “dunia” dalam teks ini menggunakan istilah Aion – very long time – waktu yang sangat panjang. Maksud rasul Paulus mengemukakah ini adalah janganlah orang percaya menjadi seperti sistim dunia ini yang telah terbentuk dalam waktu yang sangat lama, yang digerakkan oleh filosofi dunia yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sementara di dunia. Paulus berbicar tentang Sistim dunia yang telah tercemar oleh dosa dan kecenderungannya adalah melawan kehendak Allah dan kedaulatan-Nya.
    Sehingga pemikiran kebanyakan jemaat Roma adalah bagaimana mereka mendapat keamanan dan kenyamanan di dunia ini. Jemaat Roma sedang mengalami penganiayaan oleh kaisar Nero (56-68), di susul oleh Domitianus (81-96). Menurut tradisi Kristen, surat Roma di tulis sekitar tahun 53-57 masehi. Di dalam keadaan terjepit ini rasul Paulus mengingatkan jemaat Roma supaya hati mereka tidak melekat pada dunia ini dan segala yang mereka miliki, tetapi memfokuskan diri mereka kepada Allah dan kehendak-Nya supaya kekika kematian melanda mereka siap.
    Akibat penganiayaan yang berat yang dilakukan kaisar Nero kepada orang Kristen, banyak dari orang percaya pada waktu itu meninggalkan imanya. Sehingga mereka lebih memilih hidup aman di dunia ini dari pada mati dan hidup aman bersama Tuhan.
    Menjadi seperti dunia ini adalah merasa aman dengan dunia ini, fasilitasnya, kemegahannya, dan merasa bahwa dunia inilah tempat kita menikmati hidup. Maka banyak orang kristen berurusan dengan Tuhan supaya:

    • Hidupnya aman di dunia ini.
    • Hartanya tidak di bongkar maling,
    • Mendapatkan fasilitas yang layak di dunia ini.
    • Mencari nilai diri dari segala filosofi dunia ini. Misalnya pangkat, gelar dll.

    Semuanya ini duniawi. Apakah kita tidak boleh pintar, cerdas, berpangkat, sekolah yang bagus, kaya, terhormat ?? harus pintar, harus cerdas, harus berpangkat, harus sekolah yang baik, sangat kaya, harus terhormat. Semuanya ini adalah fasilitas untuk membangun pengapdian kita kepada Tuhan. Maka sekristenan bukan bagian hidup tetapi sepenuh hidup. Melayani Tuhan adalah segenap hidup kita disita oleh pengapdian kepada Tuhan.

  2. Memiliki kepekan terhadap kehendak Allah.
    Memiliki kepekaan terhadap kehendak Tuhan di awali dengan relasi yang intim dengan Tuhan (Coveant – relasi suami istri). Tanpa relasi yang demikian seseorang akan sulit membedakan manakah kehendak Allah atau dunia ini. Karena iblis dapat menyeruai malaikat terang. Untuk mendeteksi ini membutuhkan kecerdasan secara rohani, dan menempatkan kebenaran Allah secara proporsional dalam hidup kita.
    Untuk menunjang hal tersebut perlu adanya:

    1. Melakukan apa yang baik.
      Melakukan apa yang baik adalah menunjukkan kualitas kehidupan seorang manusia Allah. Tuhan Yesus berkata: “kasihilah musuhmu, dan berdolah bagi mereka yang membenci dan menganiaya kamu” (Lukas 6:27;Lukas 6:35; Matius 5:44; ). Inilah perbuatan baik yang dikehendaki Allah. Ini Hidup berkualitas versi orang Kristen, versi Tuhan Yesus. Kalau orang dunia mengasihi orang yang mengasihi dia, itu wajar dan normal. Tetapi mengasihi musuh adalah hidup yang tidak wajar. Dan Tuhan mau, kita hidup tidak wajar begitu, itulah arti dari kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
      Sesamamu itu, termasuk didalamnya, sahabat, kerabat, kenalan dan musuh. Maka kalau sampai pada titik mengasihi musuh, bagi yang mengasihi kita tidak ada masalah lagi. Rasul Paulus mendorong Jemaat Roma supaya memiliki kualitas hidup yang menakjubkan. Meskipun dianiaya, mereka tetap bersikap baik dan kebaikannya menakjubkan.
      Untuk membawa seseorang dapat berbuat baik sampai pada tahap yang menkjubkan, perlu adalanya hukum yang mengatur itu. Minggu lalu kita sudah belajar tentang hukum yang dimiliki penduduk kerajaan Allah.

    2. Yang berkenan kepada Allah
      Berkenan kepada Allah adalah segenap gerak, langkah, pikiran dan perasaan kita sesuai dan seirama dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini tidak cukup hanya di tunjukkan dengan ikut kebaktian, misa, PA, Misi, doa dan puasa. Tidak. Karena hal ini berkaitan dengan pengapdian dan kerelaan kita untuk berjuang demi kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya.
      Contoh: dalam sebuah negara, ada seorang anggota DPR yang masuk kantor setiap hari, tidak pernah alpa. Datang tepat waktu dan pulang tepat waktu. Isi daftar hadir. Apakah secara otomatis negara tersebut bisa maju. Tidak bisa. Apa yang harus dilakukan. Orang tersebut harus memikirkan, merumuskan dan melakukan sesuatu untuk kemajuan negaranya. Dia harus memaksimalkan segala potensi diri untuk mengembangkan pengapdianya kepada negara tempat dia mengapdi. Tetapi kalau hanya sekedar masuk kantor dan mengisi daftar hadir, negera tersebut pasti akan hancur.
      Demikiannya dengan kekristenan. Untuk berkenan kepada Allah harus diperjuangkan dengan serius dampai segala gerak, langkah pikiran dan kehendak kita sesuai dengan gerak, pikiran dan perasaan Tuhan.

    3. Dan yang sempurna.
      Sempurna yang dimaksud Rasul Paulus dalam teks ini adalah sama dengan sempurna yang dimaksud Tuhan Yesus dalam Matius 5:48. Jadi tingkatanya adalah Baik → berkenan → sempurna. Jadi yang pertama diproses dalam hidup kita adalah pemabaharuan pikiran. Pikiran diperbaharui menjadi baik, (baik menurut Tuhan) → berkenan → sempurna. Ada pemikiran yang baik tetapi tidak berkenan kepada Allah.
      Jangankan sempurna, baik saja belum. Apa yang ada dalam pikiran kita menentukan cara hidup kita, budaya kita, karakter kita dan kebiasaan kita. Semuanya ini ditentukan oleh apa yang ada dalam pikiran kita. Maka semuanya itu harus di ganti dengan kebanaran Allah sehingga kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus. (makananku ialah mengerjakan kehendak Allah dan menyelesaikannya).
      Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa kemungkinan untuk sempurnah pasti ada. Pengertian sempurnah seperti Bapa adalah melakukan kehendak Allah adalah menjadi suplemen bagi jiwa kita, hukum, kebenaran, dan kualitas hidup bukan menjadi tekanan tetapi mejadi kesukaan. Untuk menuruti kehendak Allah sampai sempurna, Tuhan Yesus taat kepada BAPA sampai mati di kayu Salib. Temukan apa maunya Tuhan untuk masing-masing kita.

    Inilah yang namanya metamorphouste – transformasi.
    Amin.