Pengkhotbah

Perikop
Matius 5:17-20

Ringkasan Khotbah

Bagian ini adalah rentetan pengajaran Tuhan Yesus di atas bukit. Yang di kenal dengan istilah “Khotbah di bukit”. Peristiwa ini terjadi di Galilea di awal pelayanan Tuhan Yesus. Di bagian awal dari Khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengucapkan 10 ucapan bahagia kepada pendengar pada waktu itu. Ucapan bahagia yang disampaikan Tuhan Yesus sangat kontradiktif dengan filosofi dunia ini. Salah satu contohnya ada dalam pasal 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Sepuluh pernyataan berbahagia ini semuanya tidak searah dengan prinsip hidup dan filosopi hidup dunia ini. Perbedaan yang sangat kontras ini mau membukakan kepada kita bahwa kerajaan Allah sangat berbeda filosofi hidupnya dengan filosofi kerajaan dunia ini. Kalau saya bisa katakan: “filosopi dunia ini gelap dan filosopi kerajaan Allah adalah terang.” Sehingga didalam dunia ini, anak-anak kerajaan Allah harus menjadi terang dan garam. (Matius 5:13-16).

Sebagaimana sebuah suku bangsa atau penduduk yang terletak dalam sebuah wilayah geografis tertentu, mereka memiliki tatanan sosial dan cara hidup yang diwariskan dari nenek moyang dan  bahkan norma tersebut diajarkan turun temurun dan dianggap penting oleh kelompok itu. 1Ptr 1:18-19,  Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Setiap manusia dalam dunia ini telah mewarisi tradisi dosa dan tatanan filosofi dunia yang membinasakan. Maka Tuhan Yesus datang memberikan syarat-syarat sebagai penduduk kerajaan Allah. Pada hari ini kita akan mebahas firman Tuhan ini melalui satu tema: Penduduk Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah pada kehidupan setiap pribadi. Setiap orang yang di pimpin Roh Allah dia adalah anak Allah. Setiap orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah adalah penduduk kerjaan Allah. Yaitu mereka yang mengerti dan memahami kehendak Allah dalam hidupnya.

Walaupun kita manusia masih hidup di dalam dunia ini, namun ciri sebagai penduduk kerajaan Allah harus bisa Nampak dan dapat  di lihat oleh dunia, sehingga dunia mengakui keberadaan mereka. Bagaimana seharusnya menjadi penduduk kerajaan Allah yang ada dalam dunia ini?

  1. Memiliki Hukum yang diberikan oleh Allah. (17-18)

    Tuhan Yesus berkata: Aku datang bukan untuk meniadakan hukum taurat dan kitab para Nabi, tetapi menggenapinya. Allah memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel sebagai fasilitas perjanjian. Atau bisa dikatakan sebagai MOU. Hukum ini juga menjadi landasan perundang undangan bangsa itu. Perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel, ikatanya tidak hanya sekedar Agreement (perjanjian bisnis)tetapi Covenant (Ikatan Suami Istri).

    Hukum yang diberikan Allah kepada Israel yang ditulis oleh jari Allah sendiri sebagai fasilitas Covenant. Fasilitas ini menjadi tanda sekaligus ciri yang harus di tampilkan Bangsa Israel sebagai Umat Allah. Tujuanya adalah supaya  seluruh dunia tahu bahwa ada Allah yang pencipta alamsemesta yang harus dikenal oleh semua manusia. Bangsa yang di pakai oleh Allah adalah Israel. Namun mereka gagal.

    Kedatangan Tuhan Yesus kedalam dunia adalah untuk menggenapi fasilitas Covenant yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Artinya Tuhan Yesus meneguhkan bahwa hukum yang diberikan Allah kepada bengsa Israel benar dari Allah yang hidup yang harus di kenal oleh semua mahkluk. Maka kematian Tuhan Yesus di kayu salib membuktikan penghukuman terhadap orang berdosa yang harus ditanggung-Nya sebagai korban tanpa dosa.

    Pentingnya hukum bagi manusia adalah untuk memjaga tatanan perkembangbiakan manusia di muka bumi ini. Manusia tanpa Hukum adalah seperti layaknya binatang. Maka walaupun tidak ada hukum yang tertulis, di dalam diri manusia Allah menaruh hukum dalam hati nurani manusia untuk membedakan baik dan jahat. Maka manusia yang beragama dengan manusia yang tidak beragama dapat menanggapi keberadaan hukum itu.

    Tetapi hari ini, justru manusia yang beragama yang mengakui adanya Allah, kelakuanya kejam, lebih kejam dari binatang. Moralnya bobrok. Maka pentingnya manusia diatur oleh hukum. Maka setiap orang percaya kepada Tuhan Yesus wajib mentaati hukum Taurat. Ketaatan kepada hukum taurat adalah bukti hidup berkualitas sebagai warga kerajaan Allah. Kesimpulan dari hukum taurat adalah “kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia seperti diri sendiri.” Karena itu sebagai bukti mentaati hukum Allah adalah berbuat kasih karena Allah adalah KASIH.

  2. Melakukan hukum dan mengajarkanya kepada orang lain (19)

    Melakukan hukum berarti bersedia memahami dan memberi warna kehidupan yang bersesuaian dengan hukum Allah. Melakukan hukum artinya bukan supaya kelihatan saleh. Melakukan hukum Allah bukan berarti sekedar melakukan kegiatan keberagamaan. Namun, melakukan hukum artinya memahami kehendak Allah dalam hidup ini dan membuktikannya melalui ketaatan akan kehendak Allah itu. Sehingga melakukan hukum bukan menjadi beban tetapi menjadi kesukaan.

    Daud pernah berkata: “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Maz, 1:2). Taurat Tuhan menjadi kesukaan. Bagi orang yang sudah terbiasa hidup liar. Hidup sesuka hatinya, baginya hukum Tuhan bukan kesukaan tetapi kekang dan beban. Biasanya orang Kristen yang begini tidak bisa di garap oleh Tuhan.

    Allah mau kita sempurnah seperti BAPA. Jangankan sempurnah, baik saja belum. Di akhir dari perikop ini, Tuhan Yesus berkata: “kamu harus sempurnah seperti Bapa”. (5:48). Maka ada dua tanggungjawab mentaati hukum yang harus di pahami dan dilakukan oleh orang yang menyebut diri Kristen: 1) Taat pada hukum moral umum (jangan membunuh, berzinah dll), 2) taat  pada kehendak Allah (ini berkaitan dengan pengenalan yang benar akan Allah, sifatnya pembaharuan pikiran dan  persaan).   Filipi 2:5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.

    Seseorang bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang terdapat di dalam pikiranya. Isi otak seseorang mempengaruhi tingkah lakunya. Contoh: bagi seorang akademisi, yang menjadi tujuan hidupnya adalah title, jabatan pangkat. Bagi seorang milyuner, yang menjadi tujuan hidupnya adalah uang. Bagi seorang konsumeris, yang menjadi tujuan hidupnya adalah bagaimana memiliki barang bermerek dan terbaru. Semuanya itu menjadi nilai dirinya.

    Rasul Paulus menasehati jemaat Filipi supaya mereka mengganti semua pikiran dunia ini dengan pikiran dan perasaan Kristus. Memandang harta bukan seperti dunia ini memandangnya, tetapi  seperti Tuhan Yesus memandangnya. Sehingga yang kita lakukan adalah memahami kehandak Allah, berpikir apa yang dipikirkan Allah dan berperasaan seperti perasaan Allah. Ini butuh hubungan akrab dengan Tuhan.

    Setelah kita sudah melakukan kita juga di berikan kesempatan untuk mengajarkanya kepada orang lain. Apa yang kita lakukan dan kita ajarkan sangat menentukan apakah kita sebagai warga kerajaan Allah atau tidak. Maka perhatikanlah hidup kita masing-masing.

  3. Melakukan hukum tidak hanya sekedar keberagamaan (20)

    Melakukan hukum tidak hanya sekedar keberagamaan, artinya keberagamaan adalah format liturgis manusia. Hal ini telah di lakukan orang Yahudi dan mereka beranggapan bahwa keberagamaan yang mereka lakukan adalah standar keberkenanan mereka kepada Allah. Namun dalam  penilaian Tuhan Yesus mereka salah. Karena secara liturgis meraka melakukkan kegiatan agamanya namun hatinya menyangkali Tuhan. Mulut mereka memuji-muji Tuhan tetapi hati mereka  jauh dari pada Tuhan. Bahkan melawan Tuhan.

    Maka dewasa ini banyak orang yang menyebut diri orang Kristen, pengikut kristus tetapi kelakuanya menunjukkan penyangkalanya terhadap Kristus. Orangnya bengis dan kejam. Maka saudaraku jangan menjadikan kekristenan sebagian hidup tetapi jadikan kekristenan seppenuh hidup. Maka kegiatan kekristenan bukan hanya sekedar kegiatan agamawi, tetapi kekristenan menjadi kualitas hidup sebagai warga kerajaan Allah di bumi ini. Ketika Tuhan melihat hidup kita, Dia akan berkata: “Aku menikmati engkau”. Kita harus menjadi buah yang  bisa dinikmati oleh Tuhan.

    Kalau belajar hukum pidana, perdata, matematis dll, tidak membutuhkan Roh Kudus. Misalkan kasus berzinah; melakukan hubungan seks dengan istri/suami orang lain, ditindak dengan pasa sekian ayat sekian. Semuanya jelas. Tetapi “jika engkau memandang seorang wanitan dan digerakkan birahimu engkau berzinah dengan dia di dalam hatimu”; kasus ini bagaimana hukum bisa memvonis pelakunya? Matius 5:22  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

    Maka memahami hukum Tuhan tidak hanya sekedar, seperti membaca hukum dunia ini. Memahami Firman Tuhan butuh keseriusan dan cinta yang sepenuhnya kepada Tuhan. Tanpa cinta yang benar kepada Tuhan maka akan sulit memahami hukum Tuhan, karena Tuhan adalah hukum itu sendiri. Ini membutuhkan komitmen untuk terus bersekutu dan mengapdi kepada Tuhan. Temukan didalam diri kita, apa yang bisa kita lakukan untuk melayani Tuhan. Kesempatan hanya sekali. Manusia hidup hanya sekali di dunia ini, maka pergunakanlah kesempatan ini untuk mendapatkan titik terang bahwa kita sudah menjadi warga Kerajaan Allah.