Pengkhotbah

Perikop
Yohanes 15:2-4

Ringkasan Khotbah

Dasar untuk Hidup dalam Kebenaran di sini ialah:

  1. Firman Allah
    bisa membedakan antara yang salah dan yang benar, antara yang baik dan yang jahat dsb (ay 9b-10a).
    Yang dimaksud dengan ‘pengetahuan’ di sini tentu saja adalah pengetahuan Firman Tuhan.
  2. Menjadi suci /tak bercacat (ay 11)
    Sedangkan buah kebenaran itu dikerjakan oleh Yesus Kristus (ay 11 bdk. Gal 5:22-23).
  3. Tujuan kekristenannya menjadi sempurna yaitu untuk memuliakan Allah (ay 11).

Satu-satunya nilai kehidupan yang bernilai adalah ketika kembali kepada tujuan Pencita itu sendiri.



Ada 3 hal yang menjadi buah kebenaran dari kesaksian hidup Paulus sendiri dari teks ini:

1. Kerendahan hati Paulus

  1. Ia menyebut dirinya sebagai ‘hamba Kristus Yesus’ (ay 1).

    Ini menunjukkan kerendahan hati Paulus. Ia adalah seorang rasul, dan ia adalah pendiri dari gereja Filipi. Tetapi ia toh menyebut diri bukan sebagai rasul / pendiri, tetapi sebagai hamba! Kalau saudara toh mau menjadi yang terbesar dalam gereja Tuhan, maka caranya adalah justru dengan menjadi yang terendah dan menjadi hamba bagi semua! (bdk. Mat 20:20-28).

    Tetapi dalam sebutan ‘hamba Kristus Yesus’ itu juga terlihat bahwa:

    • Paulus bukanlah hamba uang / hamba dosa dsb.
    • Paulus bukan hamba manusia (bdk. 1Kor 7:23). Ingat bahwa kerendahan hati tidak berarti bahwa kita harus tunduk kepada manusia! (bdk. Gal 1:10).
    • Paulus tunduk / taat hanya kepada Tuhan!
  2. Paulus menyejajarkan diri dengan Timotius (ay 1).

    1 Timotius 1:2 menyebut bahwa Timotius adalah anak rohani Paulus. Jadi, dalam berbagai segi, mereka sangat berbeda.
    Sebenarnya, bisa saja Paulus menyebut bahwa dari Paulus Sr. dan Timotius Jr. tetapi di sini, tidaklah demikian karena Paulus orang yang rendah hati.

    Sekalipun nama Timotius disebutkan sebagai pengirim surat Filipi ini (ay 1: ‘Dari Paulus dan Timotius …’), tetapi ini tidak berarti bahwa Timotius juga adalah pengarang surat Filipi ini. Dasar pandangan ini adalah: dalam surat Filipi ini, Paulus selalu ber-kata ‘Aku’ (misalnya pada ay 3). Sedangkan pada waktu membicara-kan tentang Timotius, Paulus menggunakan kata ‘ia / dia’ (misalnya dalam 2:19-23).

    Kalau Timotius tidak ikut mengarang surat Filipi ini, lalu mengapa namanya dicantumkan sebagai pengirim surat Filipi ini?

    • Mungkin karena Timotius adalah juru tulis Paulus.
      Bahwa dalam menulis surat-suratnya, Paulus sering mempunyai juru tulis, bisa terlihat dari: (1) 1 Kor 16:21-24 Kol 4:18 2Tes 3:17 yang menunjukkan bahwa Paulus hanya menulis salam terakhir itu dengan tangannya sendiri. Sedangkan seluruh surat itu di tulis oleh juru tulis Paulus, (2) Roma 16:22 yang menunjukkan bahwa Paulus mempunyai juru tulis yang bernama Tertius untuk menuliskan surat Roma.
    • Mungkin karena Timotius ikut bersama Paulus pada waktu ia memberitakan Injil untuk pertama kalinya di Filipi (Kis 16:1-3).

    Dan Timotius juga ada bersama dengan Paulus pada waktu Paulus menulis surat ini. Jadi, supaya orang Filipi bisa lebih mengingat saat-saat dalam Kis 16 itu, maka nama Timotius dicantumkan sebagai pengirim surat ini.

  3. Paulus menganggap hal-hal baik dalam diri orang Filipi sebagai pekerjaan Allah, bukan pekerjaannya sendiri!

    Ay 6: Allah yang memulai pekerjaan baik di antara orang-orang Filipi (mempertobatkan mereka). Padahal mereka bertobat, karena Peka-baran Injil yang dilakukan oleh Paulus!

    Ay 3-5: Paulus bersyukur kepada Allah! Karena ia sadar bahwa pertobatan orang Filipi itu adalah pekerjaan Allah, maka Paulus ber-syukur kepada Tuhan atas hal itu. Semua ini sesuai dengan apa yang ia katakan dalam 1Kor 3:6-7!

Kalau saudara berhasil dalam melakukan suatu hal, baik dalam pekerjaan, study, pelayanan, pekabaran injil dsb, apakah saudara menganggap itu sebagai keberhasilan saudara atau sebagai pekerjaan Tuhan?

2. Kasih Paulus

Manusia ini memiliki 2 keberadaan yaitu dunia di dalam diri sendiri dan di luar diri sendiri. Menghubungkan antara egoism dan altruis. Egois adalah paham yang mementingkan diri lebih dan merendahkan orang lain lebih. Alutris adalah bagaimana keberadaan saya dapat menjadi berkat untuk dibagi- bagikan kepad aorang di luar saya, sehingga orang lain itu mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan melalui keberadaan saya. Altruis ini diperkenalkan oleh August Comte dari Prancis abad ke-19.

Manusia yang dapat memiliki kasih adalah mereka yang telah diubahkan oleh Tuhan. Dalam ayat 7, Paulus menulis: “Sebab kamu ada di dalam hatiku”.
Dalam ayat 8, Paulus menegaskan bahwa “betapa aku merindukan kamu”. Ternyata Paulus benar-benar memiliki relasi yang baik dengan jemaat di Filipi ini. Hal ini didorong oleh pengalamannya dalam melayani dan membangun Gereja.

Mari kita lihat hal ini dalam konteks latar belakang Paulus yang cenderung merusak. Dalam 1 Timotius 1:13 ditulis bahwa “tadinya dia seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas”. Hati manusia dapat diubahkan oleh Tuhan. Iman yang dikaruniakan telah membuat Paulus menjadi orang yang memiliki kasih.


Karena Paulus mengasihi jemaat Filipi, maka sekalipun Paulus jauh dari mereka Paulus banyak berdoa untuk mereka (ay 3-5, 9-11). Apakah kita mengasihi sesama saudara atau tidak, bisa terlihat dari apakah kita sering mendoakan mereka atau tidak.

3. Doa Syafaat Paulus

Charles H.Spurgeon: “Kita harus berdoa ketika kita mempunyai gairah berdoa karena adalah berdosa bila mengabaikan kesempatan yang indah itu. Kita harus berdoa ketika kita tak bergairah berdoa karena adalah berbahaya untuk membiarkan tinggal dalam keadaan yang sebegitu tak sehat”.

Paulus terus mendoakan jemaat Filipi agar terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Jadi, pekerjaan pelayanan Paulus tidak pernah berhenti dengan berdirinya sebuah Gereja di sebuah tempat. Setelah Gereja berdiri, Paulus terus mendoakan agar jemaat di sana semakin bertumbuh dengan benar.
Gereja yang sehat adalah yang dibangun dalam kebenaran dan terus tekun berdoa.


Mari kita membangun Gereja kita dengan komitmen bertumbuh dalam kebenaran. Setelah itu, teruslah untuk rajin berdoa.