Ringkasan Khotbah

Tidak sedikit orang Kristen menyatakan diri membela kebenaran, tetapi gagal menunjukkan hal itu dalam kehidupan sehari-harinya mereka. Ada yang dengan api-api menyuarakan kebenaran tapi itu digunakan sebagai topeng, dan pada kenyataannya kehidupan pribadi mereka menyangkal doktrin tapi mengaku mencintainya. Mengaku mengenal Allah tapi perbuatan mereka justru menyangkal-Nya (Tit. 1:16). Para pemuja berhala bersujud dihadapan berhalanya, mempersembahkan sesuatu di mesbah, dan kemudian kembali pada kehidupan lama yang berdosa. Orang percayapun melakukan hal yang sama, dan bagaimana ia berprilaku, tidak ada seorangpun yang menghukum atas prilakunya yang tidak baik. Iman Kristen mengajarkan konsep yang berbeda, yang baru dalam masyarakat pada masa pelayanan Paulus, yaitu apa yang kita percaya memiliki hubungan erat dengan prilaku/kehidupan sehari-hari. Iman kepada Kristus berarti dipersatukan dengan Kristus, dan kita bisa membagikan bagaimana kehidupan-Nya melalui teladan Kristus, dan tentunya atas dasar dorongan Roh Kudus. Maka pada bagian ini Paulus memberikan beberapa nasihat kepada pembacanya pada masa itu dan juga kepada kita pada masa sekarang.

Dibangkitkan bersama dengan Kristus, “dibangkitkan” dihidupkan, artinya sebelum menerima Yesus Kristus dulunya mati, tanpa harapan (band. Ef. 2:1,12), maka dibangkitkan menunjukkan memiliki pengharapan, tidak akan mati kekal (band. Yoh. 6:39,40,44,54), walaupun akan mati secara jasmani akan tetapi pada kedatanganNya akan dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia.

Perkara-perkara: Dalam bahasa asli tidak ada terjemahan kata ‘perkara-perkara’, yang lebih tepatnya dalam terjemahan bahasa Inggris seek those things which are above, ‘mencari hal-hal diatas’ NIV: set your hearts on things above ‘mengatur hati anda pada hal-hal diatas’, maka perkara-perkara disini mengenai hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap orang yang hidup dalam Kristus.

Pertanyaan: mengapa Paulus menginginkan, mengharapkan serta menasehati jemaat di Kolose, juga kepada kita saat ini untuk melakukan hal-hal diatas bukan yang dibumi? bukankah kita tinggal dibumi, seharusnya kita yang dibumi memikirkan hal-hal berkaitan dengan bumi, persoalan-persoalan mengenai pendidikan, ekonomi, ekologi, kesehatan, teknologi, sosial, hukum dan keadilan, kemiskinan dan banyak hal lagi persoalan dalam dunia ini?


1. Perkara-perkara Dunia

Pada bagian ini peringatan akan bahaya melegalkan ajaran guru-guru gnostik, ajaran mereka yaitu; menggabungkan mistik, peraturan Yahudi dan segelintir filsafat dan ajaran Kristen. Beberapa peraturan dalam Yahudi diharuskan menjadi kewajiban bagi jemaat di Kolose melakukannya. Sehingga jemaat berpegang pada rutinitas keagamaan, lebih mengedepankan ego dan apa yang dilakukan “menganggap” kebenaran.

Mengenai ibadah: Dalam perkara dunia, ada orang-orang menghakimi orang percaya yang lain, yang tidak hidup dalam hukum agama/gereja, menilai itu ajaran Yesus Kristus. Mereka mengatakan bahwa Yesus Kristus juga tidak cukup memenuhi kebutuhan rohani Kristen, salib Kristus belum cukup untuk keselamatan, tapi harus menambahkan sesuatu untuk itu, yaitu dengan melakukan kehidupan spiritual yang lebih dalam dengan berlatih melakukan hukum. Praktik, lahiriah mereka kelihatan spiritual, tapi kenyataannya hanya memenuhi kedagingan atau duniawi.

Pondasi utama dalam Kekristenan ialah pribadi dan karya Kristus (Kol. 2:9-12). Di kayu salib Dia telah membatalkan hutang, dan dakwaan/tuduhan hukum dosa (Kol. 2:14), dan sebagai orang percaya, kita berada dibawah kasih karunia sebagai aturan hidup dan tidak berada dibawah hukum Taurat.

Aturan-aturan Yahudi adalah perbudakan! Petrus menyebutnya sebagai “kuk pada tengkuk” (Kis. 15:10), Paulus menggunakan gambaran yang sama ketika ia memperingatkan Galatia (Gal. 5:1), dan peraturan-peraturan ini berkaitan dengan makan dan minum. Dalam PL, makanan tertentu diklasifikasikan sebagai “bersih” atau “haram” (lih. Im. 11). Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli Taurat (Mat. 15:11) “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Petrus teringat dengan pelajaran ini ketika ia berada di sotoh Yope (Kis. 10:9-16), peraturan makan dan minum tidak membawa kita dekat kepada Allah (1Kor. 8:8).

Orang Yahudi memiliki hari-hari raya (Im. 25), bulan baru (Yes. 1:13), peraturan agama mereka memiliki fungsi yang tepat dalam PL tapi tidak dimaksudkan untuk menjadi bagian yang permanen pada iman orang-orang percaya dalam PB (Yoh. 1:17). Hukum dalam PL menuntun yang membantu untuk melatih kedisiplinan Israel, dan mempersiapkan mereka untuk kedatangan Mesias. Yesus adalah mesias yang sudah datang menyelamatkan kita, maka penuntun itu tidak diperlukan lagi untuk fungsi yang sama (Gal. 3:24-4:11). Jadi apakah hukum PL tidak berlaku atau memiliki peran dalam kekristenan PB? (1Tim. 1:8) Hukum baik jika seseorang melakukan dengan tujuan yang benar. Hukum mengungkapkan dosa dan memperingatkan konsekuensi dari dosa tetapi tidak memiliki kekuatan untuk mencegah dosa, atau menebus orang berdosa, hanya kasih karunia Allah yang bisa melakukan itu.

Orang terlalu mementingkan hal-hal lahiriah, seperti: hari-hari raya dan puasa, bulan baru dan sabat (Kol 2:16) dan juga sunat (Kol 2:11). Semuanya itu dikemukakan untuk dilakukan dalam jemaat sebagai jalan yg benar melalui pengekangan diri dan penaklukan daging (Kol 2:20) dengan tujuan pencapaian kesucian dan dipandang orang sebagai orang yang taat dan rohani.

Ayt. 18-19 jangan ada orang menipu anda dengan penghargaan. Orang Yahudi kelihatan rendah hati ketika berpuasa, tapi sebenarnya ini praktek asketis dengan tujuan pujian kepada diri sendiri mencapai kegembiraan/kepuasan. Ini menunjukkan orang-orang berdosa di Kolose seperti mistik Yahudi yang secara teratur berusaha untuk mencapai visi surgawi. Hal ini adalah upaya menyamakan pengalaman visioner Alkitab seperti Yehezkiel, Daniel, tapi pengalaman mereka di Alkitab perlu diketahui tapi bukan untuk mencapai pengalaman mistik.

Guru-guru palsu beribadah kepada malaikat, karena melihat tugas malaikat sebagai perantara Allah di zaman PL dan ini dilegalkan dalam jemaat, sehingga hal ini berupaya menggantikan Yesus Kristus sebagai yang utama dari segala ciptaan, yang adalah pusat penyembahan orang percaya, yang adalah kepala dari tubuh gereja. Ada yang mengalami penglihatan-penglihatan serta menjadikan itu suatu kebenaran, dan hal ini Paulus menegaskan bahwa mereka tidak berpegang Kristus sebagai kepala yang menunjang dan mengikat seluruh tubuh Kristus (band. Ef. 1:10,22; 4:15, Kol. 1:18).

Ayt. 23 menyimpulkan perkara dunia dalam ibadah jemaat, walaupun tata peraturan kelihatan penuh hikmat yang ibadahnya dibuat sendiri, menunjukkan merendahkan diri, menyiksa diri, tapi sebenarnya tidak ada gunanya karena pada intinya untuk memuaskan hidup duniawi yaitu bersifat daging.

2. Perkara-perkara Surga

Ayt. 1-2, Paulus menghendaki dalam suratnya supaya jemaat di Kolose yang telah menerima dan hidup dalam Kristus, supaya mencari dan memikirkan perkara-perkara diatas dimana Kristus ada.

Berpusat Kepada Kristus: Mendasari orang percaya datang beribadah/bersekutu dan melakukan perintah Tuhan (firmanNya), yaitu mengasihi dan mencintai Kristus. (lih. Mat. 22:34-40), Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi besengkokol mencobai Yesus dengan pertanyaan tentang hukum yang utama dalam Taurat, Yesus menjawab dengan mudah “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Menunjukkan seharusnya kehidupan ibadah orang percaya harus berkualitas Surga bukan di bumi (band. Rom. 12:1-2). Ibadah orang Yahudi lebih banyak bersifat duniawi, maka Paulus menentang hal itu, dan menginginkan orang-orang percaya di Kolose hidup ibadahnya berpusat kepada Kristus dan menjadikan Yesus adalah utama (band. Kol. 1:18). Dalam ajaran jemaat di Kolose diharapkan tidak bergeser dari ajaran yang sudah didapatkan dari Injil yaitu berpegang teguh pada kebenaran Kristus (band. Kol. 2:6-7).

Kehidupan Moral: Hal-hal duniawi dipengaruhi oleh kuasa dosa, maka harus Mematikan segala kehidupan yang bersifat duniawi (lih. Kol. 3:5-11). Maka yang harus dilakukan moral yang hidup dalam kekudusan (Kol. 3:12-17)

3. Hubungan Orang Percaya dengan Kristus

Ayt. 3 Mati dengan Kristus: Paulus menegaskan kamu sudah mati, hal ini dijelaskan Paulus pada Rom. 6-8, Yesus Kristus tidak hanya mati bagi kita (menggantikan kita), tetapi penekanannya lebih pada kita telah mati bersama Kristus. Sebuah terjemahan (The Biblical Comentary: New Testamen) mengatakan: “Christ not only died for sin, but He died unto sin, breaking its power” Kristus tidak hanya mati untuk dosa kita, tapi Dia mati kepada dosa, menghancurkan kekuatanya, (band. Flp. 2:6-8).

Kita berada di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus (band. 1Kor. 12:13). Kita telah mati bersama Kristus artinya kita telah memiliki kemenangan atas dosa, yaitu sifat lama yang mengontro/mengatur/memperbudak kita. Maka jika kita telah mati bagi dosa tentunya kita tidak dapat hidup lagi didalamnya. Ayt. 4 Kristus adalah hidup kita

Kehidupan kekal, hal-hal surgawi, Allah telah menanamkan kepada kita sejak masih sebagai orang berdosa dan kemudian percaya kepada juruselamat Yesus Kristus. Hidup kekal adalah Yesus Kristus, Dia adalah putra tunggal Allah yang disebut Anak Allah maha kudus, Ia hidup. Barang siapa tidak memiliki Anak “Yesus Kristus” ia tidak akan hidup (1Yoh. 5:11-12). Kita telah mati dan bersamaan telah dihidupkan yaitu mati untuk dosa dan hidup dalam Kristus. DR. A.T Robertson mengatakan: “So here we are in Christ who is in God, and no burglar, not even Satan himself, can separate us from the love of God in Christ Jesus”. Disini kita berada dalam Kristus yang adalah Tuhan, tidak ada pencuri bahkan setan pun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Yesus Kristus (baca: Rom. 8:31-39).

Hidup tersembunyi yaitu kehidupan Kristen jauh berbeda dengan kehidupan dunia, karena dunia tidak mengenal Kristus (band. 1Yoh. 4:4-6). Ruang lingkup kita bukan lagi dibumi tapi surga; dalam hal apapun yang menjadi daya tarik maupun yang membangkitkan/mendorong kita adalah milik surga. Bukan berarti kita mengabaikan tanggung jawab kita didunia tapi hati, pikiran dan kehendak berasal dari surga bukan dari bumi.

Dimuliakan di dalam Kristus (ay. 4) Kristus sekarang duduk disebelah kanan Bapa, kelak Ia datang membawa pulang umatNya (1Tes. 4:13-18). Dia akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaanNya. Ketika Ia menyatakan kemuliaanNya, kita pun akan menyatakan diri bersama Dia dalam kemuliaanNya. Menurut paulus kita sudah dimuliakan (lih. Rom. 8:30), hanya saja kemuliaan ini belum terungkap. Kristus telah memberikan kita kemuliaan-Nya (Yoh. 17:22), tetapi wahyu kepenuhan kemuliaan ini digenapi setelah juruselamat kembali menjemput orang percaya (band. Rom. 8:17-25).


Orang percaya didalam Kristus memiliki tanggung jawab yang besar; “cari hal-hal yang diatas” (Kol. 3:1), melalui kematian Kristus, penguburan, kebangkitan dan kenaikan, orang percaya telah dipisahkan dari kehidupan lama yang berasal dari dunia ini, sekarang menjadi milik kehidupan surgawi, hidup yang baru.

Bagaimana mencari hal-hal yang diatas? rahasianya dalam Kol. 3:2 “Membiasakan menetapkan pikiran dan perhatian pada hal-hal diatas, bukan hal-hal dibumi. Kalau diharafiahkan, kaki kita harus dibumi, tetapi pikiran kita berada di Surga, menunjukkan kehidupan praktis kita sehari-hari harus dalam arahan Kristus artinya, kita melihat bumi harus dari sudut pandang surga.

Orang percaya yang duduk ditahta bersama kristus, harus menjaga rasa cintanya, kasih sayangnya dan perhatiannya yang tertuju pada hal-hal surga, yaitu melalui firman dan doa, serta melalui ibadah dan pelayanannya. Kita akan menyatakan kemuliaanNya bersama Kristus kelak jika kita menjaga hati dan pikiran yang tertuju kepada surga.