Ringkasan Khotbah

Banyak orang sukses di dunia ini, tapi tidak berguna bagi sesama. Melalui firman hari ini, Kita belajar lebih dalam bagaimana seorang Daniel mengajarkan esensi pentingnya berguna bagi orang lain sebagai tolak ukur kesuksesan seseorang; dan ini sangat dapat diterapkan dikehidupan zaman sekarang.

Sedikit tentang sejarah hidup Daniel, seorang keturunan Daud, yang menjalani hidupnya di 3 masa kerajaan yang berbeda.
1. Raja Nebukadnezar
Seseorang yang kejam, sombong, dan suka merendahkan orang lain. Ia mengakhiri hidupnya seperti orang gila.
2. Raja Belshazzar
Anak dari Raja Nebukadnezar. Seseorang yang kejam dan suka berpesta dan bermabuk-mabukan; Ia menggunakan peralatan bait Allah untuk dipakai sebagai alat minum-minum dan berpesta. Sehingga Allah mencabut nyawanya dan memecah kerajaan Babel menjadi 2 yaitu Media dan Persia.
3. Raja Darius
Sesorang Raja dengan karakter yang mudah mempercayai perkataan orang lain dan mudah dipengaruhi.
Daniel diangkat menjadi gubernur di Babel setelah mengartikan mimpi dari raja Nebukadnezar, ia terus menjabat sebagai petinggi di Babel selama 3 generasi raja. Sehingga banyak orang yang iri dan membencinya. Mereka menghasut raja Darius untuk membunuh Daniel sehingga ia dilempar ke dalam gua singa. Namun dari sanalah kuasa Allah lebih dinyatakan lagi.
Walaupun setiap raja memiliki kebiasaan dan perilaku yang berbeda, Daniel tetap terus menjaga relasinya dengan Allah melalui doa dan ibadahnya. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan Daniel untuk menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain. Semua diawali dengan pertumbuhan iman secara pribadi dan menerima keadaan yang ada; tidak menyalahkan Allah atas kondisi yang sedang dihadapi, tapi terus berjuang untuk memuliakan Allah. Daniel tidak pernah bersungut-sungut dan terus menjaga relasinya dengan Allah walaupun orang di sekelilingnya tidak percaya. Pertumbuhan Iman Daniel yang konstan juga terjadi karena kesetiaannya terhadap Allah yang tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar.

Seperti rusa yang semakin tua menjadi semakin kuat, iman Daniel terus bertumbuh setiap hari melalui ketekunannya untuk berdoa dan beribadah kepada Allah. Daniel juga merupakan seseorang yang dewasa dalam Allah, dia tidak menyombongkan ketekunannya karena Daniel tahu bahwa seseorang yang tekun dan terus mendekatkan diri kepada Allah akan ditinggikan oleh Allah sendiri.
Untuk menjadi seorang Daniel zaman sekarang, kita dapat memulai dari mengubah diri kita sendiri; dari sesuatu yang kecil seperti menjadikan rumah kita sebagai saksi kedekatan kita dengan Allah, sama seperti yang Daniel lakukan. Tidak perlu mencari banyak orang atau mempertontonkan kekuatan iman kita, tapi bentuklah hubungan dengan Allah sebagai hubungan pribadi yang intim. Relasi kita dengan Allah dapat dibangun bukan dari kuantitasnya, tapi dari kualitas ibadah dan doa kita. Lalu, penting bagi kita untuk memiliki keingin tahuan yang tinggi atas firman Allah. Namun, membaca dan mempelajari firman Allah itu bukan hanya untuk menambah ilmu pribadi, tapi firman Allah menjadi sumber dan dasar pertumbuhan pribadi.
Kita tidak akan tahu kekuatan iman kita sampai kita dikelilingi oleh orang-orang yang tidak beriman. Sebagai perantau, jangan sampai kita merasa terlalu nyaman dengan kemewahan yang ada dan menyebabkan kita memiliki relasi yang semakin rentan dengan Allah. Orang yang memiliki persekutuan yang baik dengan Allah pasti tahu bawa tanpa Allah, kita tidak akan berguna bagi diri sendiri ataupun orang lain.

 

dirangkum oleh,

Anata Odilia Yosua