Ringkasan Khotbah

Kalau Tuhan tidak serius dengan kita, itu tidak mempengaruhi keseriusan Tuhan terhadap kita ciptaan-Nya. Kalau Tuhan tidak serius dengan manusia, untuk apa:

1. Ia menciptakan kita?
2. Ia berinkarnasi untuk menyelamatkan kita?

Kurang apa lagi keseriusan Tuhan terhadap hidup kita? Pertanyaannya adalah apakah kita mau serius melihat hidup kita? Sang pencipta sendiri memperhatikan kita dengan serius

Seperti yang tertulis di Penkhotbah 3: 1-3 bahwa segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun dibawah langit ada waktunya.

Hidup itu hanya satu kali

Hidup sebagai manusia di dunia memiliki batas, yaitu kelahiran dan kematian. Diantara itu ada bentangan yang disebut proses hidup, selama kita hidup itu adalah kesempatan untuk meninggalkan sesuatu. Apakah yang mau kita tinggalkan? Kita tidak bisa memberhentikan waktu karena waktu selalu maju terus detik tiap detik.

Segala hal yang kita tinggalkan tidak dapat kita rubah dan mempengaruhi tidak hanya diri kita tetapi banyak orang, terlebih keturunan kita. Apa yang kita buat akan disematkan kepada anak-anak kita

Agustinus mempunyai konsep mengenai waktu bahwa tidak ada masa lalu atau masa depan, yang ada hanya masa sekarang. Karena masa lalu adalah masa sekarang yang sudah lewat dan masa depan adalah masa sekarang yang akan datang. Jadi esensi dari waktu adalah hanya masa sekarang

Ada tiga tipe orang dalam melihat waktu

1. Orang yang membiarkan waktu berjalan seadanya tanpa memberi makna
2. Orang yang mengisi waktu dengan kegiatan rutinitas
3. Orang yang merubah waktu dengan memberi makna

Sebegitu pentingnya peran kita dalam satu bagian: waktu, adalah bukti keseriusan Tuhan terhadap kita. Bagaimana cara kita menghadapi waktu memperlihatkan seberapa besar keseriusan kita terhadap hidup kita

Kesempatan Hidup Semakin Berkurang

(Kejadian 5: 27, Kejadian 6: 3, Mazmur 90: 10)

Waktu terus berjalan, kesempatan semakin berkurang. Kita harus memanfaatkan waktu seperti kita akan mati di hari esok adalah cerminan sifat yang harus dimiliki orang percaya

Chronos “waktu” harus diisi denga kairos “makna”

dirangkum oleh,
sdr. Bryan Reinhard Batara