Pengkhotbah

Perikop
Efesus 5: 22-33

Ringkasan Khotbah

Suatu rumah tangga bisa menjadi rumah tangga yang kokoh apabila ada perjanjian tanggung jawab di dalamnya, di mana pernikahan itu dilandaskan atas perjanjian, bukan terbatas dengan cinta/sayang. Karena di dalam rumah tangga terjadi suatu pengenalan yang tidak pernah usai, sering kali kita lebih cepat menangkap sisi buruk dari pasangan, di situ lah akhirnya komitmen dalam perjanjian tanggung jawab menjadi pengikat dalam pernikahan.

Esensi-esensi pernikahan Kristen:

  • Allah terlibat dalam pernikahan
  • Ada hubungan yang eksklusif; tidak boleh dibagikan kepada orang lain
  • Ada perjanjian tanggung jawab yang menjadipengikat

Dalam Efesus 5:31 lepas perjanjian orang tua─anak menjadi tanggung jawab laki-laki─perempuan. Dalam mengarungi rumah tangga bukan dia dan orang tuanya, tetapi dia dan pasangannya.

  1. Perjanjian tanggung jawab adalah perjanjian yang kekal
  • Kata ‘bersatu’ yang tertulis di Efesus 5:31 menggunakan kata dari Bahasa Ibrani ‘echad’, bukan ‘yachid’. Hal ini sama seperti penulisan ‘kesatuan’ Allah Tritunggal yang tertulis dalam Ulangan 6:4. Ada perbedaan makna antara ekhaddan yachid, yachid bermakna tunggal yang memang murni satu, sementara echad bermakna seperti pada Bahasa Indonesia kesatuan atau keesaan. Dalam konteks ini maksudnya dua pribadi menjadi saatu. satu yang jamak.
  • Pribadi yang dewasa, yang siap untuk masuk dalam pernikahan, akan lebih mendahulukan tanggung jawab dibanding menuntuk hak. Untuk itu, seorang suami harus mengasihi (agape) kepada isterinya, dan isteri tunduk kepada suami. (Hupotaso; tunduk untuk keteraturan dan keharmonisan, tunduk kepada Kristus. Kalau dalam perjalanannya suami membawanya jauh dari Kristus, isteri dapat dan wajib untuk tidak tunduk tapi harus tetap dalam rasa hormat kepada suami)
  1. Perjanjian tanggung jawab membawa pasangan untuk saling mengoreksi sehingga hidupnya semakin menuju kekudusan. Perpasangan harusnya membawa kita semakin dekat dengan Tuhan, bukan sebaliknya. Kalau dalam masa perpacaran malah membawa untuk semakin jarang pelayanan, atau mundur secara rohani, ada yang salah dalam perpacarannya.
  2. Perjanjian tanggung jawab membawa pasangan untuk menjadi satu. Saya bukan hanya untuk saya saja, saya bukan milik saya saja, suami milik istri dan juga istri milik suami. Menjaga perasaan pasangan sama seperti menjaga perasaan kita, menjaga tubuh kita seperti menjaga tubuh Bersama. Di sana ada penyangkalan diri.

Penutup: Kehidupan pernikahan Kristen harus bisa menjadi kesaksian bagaimana hubungan Kristus dan jemaat lewat relasi suami dan istri.

 

dirangkum oleh,

Yosua Briandhika Utama Siregar