Ringkasan Khotbah

Pada saat itu, kusta bukan dipandang sebagai penyakit, melainkan karena kutukan karena dosa. Ketika mendengar bahwa ada nabi yang mampu menyembuhkan di Israel, raja Aram mengirimkan surat kepada raja Israel untuk menyembuhkan panglimanya (Naaman). Raja Yoram (Raja Israel) melihat surat itu sebagai suatu tindakan yang mencari gara-gara. Karena raja Israel merasa bahwa dirinya bukan Tuhan dan tidak dapat menyembuhkan kusta. Ketika kita menghadapi pergumulan, kita seringkali menyimpulkan sesuatu berdasarkan cara pandang kita.

Raja Aram memiliki konsep bahwa raja memiliki otoritas dan titah, berada diatas nabi. Makanya raja Aram menulis surat kepada raja Israel, untuk menyembuhkan Naaman. Sedangkan di Israel, posisi nabi berada diatas raja, karena nabi merupakan seseorang yang berkomunikasi dengan Allah. Ketika raja Israel menerima surat (dalam konsep raja Aram), ia menjadi gusar dan menganggap bahwa surat tersebut adalah penghinaan terhadap dirinya.

Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa ada beberapa sikap yang harus kita hindari ketika kita sedang menghadapi pergumulan:

  1. Menghadapi pergumulan dengan kesimpulan sepihak (ayat 6-9)

    Disini kita harus belajar untuk memposisikan diri kita sebagai orang lain ketika kita menghadapi pergumulan kita. Persekutuan dengan sesama bisa hancur dengan seketika karena asumsi kita yang negatif. Di dalam pergumulan milikilah asumsi yang positif dengan menempatkan posisi kita sebagai orang lain.

  2. Menghadapi pergumulan dengan kesombongan (ayat 10-12)

    Naaman berprasangka buruk karena ia memiliki konsep kerajaan Aram. Dia membawa kesombongan dirinya dan mempercayai bahwa nabi harus menumpangkan tangan diatasnya (cara kerajaan Aram). Disini Elia menunjukkan bahwa nabi lebih tinggi daripada raja.