Pengkhotbah

Perikop
Markus 6 : 45-52

Ringkasan Khotbah

Markus 6 : 50 menuliskan ”…Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Istilah ‘tenang’ dalam bacaan ini, diambil dari kata stereo, yaitu jangan gelisah, jangan gentar dan jangan panik terhadap kondisi yang ada. Sedangkan istilah ‘Aku ini’ dalam kitab Markus, Matius dan Yohanes adalah kata yang sering diucapkan dan mengacu pada kalimat EGO EIMI. Lebih jauh lagi, kata ini juga menunjuk pada kata dalam kitab Keluaran yaitu  EHYER Asyer EHYER. Kata ini berarti Aku adalah Aku, Aku yang mengutus kamu, yang dulu ada, yang sekarang ada dan yang selamanya ada yang telah mengutus kamu. Bacaan ini sebenarnya hendak mengingatkan kita tentang siapa Tuhan dan mengarahkan fokus kita kepada Tuhan sehingga kalimat selanjutnya dalam bacaan ini adalah ‘jangan takut’.

Mengapa kita perlu mengarahkan fokus kita kepada Tuhan?

Karena ketika kita mulai mengarahkan fokus kita kepada diri kita sendiri, kita mulai mengarahkan hidup kita pada kegagalan. Ada tiga hal penting yang menyadarkan kita bahwa kita rentan terhadap kegagalan.

  1. Kegagalan terjadi karena fokus kita kepada kekuatan kita sendiri bukan kepada Tuhan. Padahal kekuatan kita terbatas adanya. Latar belakang murid-murid Tuhan Yesus adalah nelayan, dengan demikian ketika menghadapi angin sakal, mungkin mereka merasa punya pengalaman dan kemampuan untuk menghadapinya. Namun semakin mereka berusaha, semakin mereka tidak dapat keluar dari angin sakal tersebut seperti tertulis dalam Markus 6 : 48, ”…betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal…” Apa yang dapat kita pelajari? Sehebat apapun kekuatan dan pengalaman kita, jangan jadikan kemampuan kita sebagai landasan atau fondasi dalam menjalani hidup ini.
  2. Kegagalan terjadi karena kita memiliki asumsi-asumsi negatif yang menjadi landasan hidup kita. Markus 6 : 49 menuliskan, ”Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu..” Kata mengira mengacu pada sesuatu yang belum pasti dan sesuatu yang belum pasti ini disebut asumsi. Selanjutnya, asumsi itu terkadang negatif, seperti murid-murid Tuhan Yesus yang mengira bahwa mereka melihat hantu. Apa yang dapat kita pelajari? Kita harus menempatkan Firman Tuhan sebagai landasan, supaya kita bisa melihat sesuatu bukan dari asumsi negatif tetapi berdasarkan pikiran Tuhan.
  3. Kegagalan terjadi karena fokus kita kepada pengaruh lingkungan yang membuat kita tidak fokus lagi kepada Tuhan. Sebagai tambahan, apabila kita membaca Matius 14 : 28-31, disebutkan bahwa Petrus meminta Tuhan agar dirinya dapat berjalan di atas air. Ayat 29, ketika Yesus memintanya datang, Petrus segera turun dan berjalan di atas air. Namun di ayat 30, ketika dirasanya tiupan angin yang kencang, ia mulai jatuh dan tenggelam. Apa yang dapat kita pelajari? Kita harus tetap menempatkan fokus kita kepada Tuhan bukan kepada kondisi maupun pengaruh lingkungan.

Karena Tuhan melihat (Horao) seperti tertulis dalam ayat 48. Kata Horao berarti Akulah Tuhan, Akulah Allah, Aku melihat, tidak ada satupun yang tertutup. Aku melihat pergumulanmu, kekuatanmu, batasmu dan jalan keluar.

Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang berkuasa dalam setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini, sehingga Ia sanggup mengintervensi setiap kejadian dalam alam ini. Ayat 48 bagian akhir ”maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.”

Amin.